Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image SYAFIQ AVICENNA

Ketika Makna Sukses Bergeser di Media Sosial

Edukasi | 2026-07-03 15:40:52
Chat Gpt

Media sosial sekarang seperti ruang yang selalu ramai. Di sana, orang bebas membagikan apa saja yang sedang terjadi dalam hidupnya. Ada yang mengunggah foto liburan, membeli barang baru, mencoba makanan di tempat terkenal, mendapatkan pekerjaan, atau menunjukkan pencapaian tertentu. Saat melihat semua itu, terkadang kita ikut senang. Namun, tidak jarang juga muncul perasaan lain. Kita mulai bertanya dalam hati, “Kapan ya aku bisa seperti itu?” atau “Mengapa hidupku rasanya belum sejauh mereka?” Padahal, apa yang muncul di media sosial biasanya hanya bagian yang ingin ditampilkan. Orang lebih sering membagikan momen bahagia daripada cerita tentang kegagalan, capek, masalah keluarga, kesulitan ekonomi, atau tekanan yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, ketika kita membandingkan hidup sendiri dengan unggahan orang lain, sebenarnya yang dibandingkan tidak seimbang. Kita melihat kehidupan mereka dari potongan kecil, sedangkan hidup kita sendiri kita rasakan secara utuh, termasuk saat sedang sulit-sulitnya.

Kebiasaan menampilkan kemewahan, pencapaian, atau gaya hidup tertentu di media sosial sering disebut sebagai budaya flexing. Fenomena ini menarik untuk dilihat dari sudut pandang semantik karena semantik membahas makna kata dan bagaimana makna itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata “sukses”, misalnya, secara umum berarti berhasil mencapai tujuan. Namun, di media sosial kata-kata tersebut sering dipahami dengan cara yang lebih sempit. Keseksesan seolah-olah harus dibawa lewat mobil mahal, pakaian bermerek, liburan ke luar negeri, jabatan tinggi, atau penghasilan besar.

Akhirnya, orang yang belum memiliki semua itu bisa merasa dirinya belum berhasil. Padahal, ukuran sukses setiap orang tidak sama. Mahasiswa yang tetap bisa menyelesaikan kuliah meskipun harus berhemat dan menghadapi keterbatasan juga sedang mencapai keberhasilan. Begitu juga seseorang yang bekerja sambil membantu orang tua, menabung dari penghasilan kecil, atau tetap bertahan saat hidup sedang tidak mudah. Hal-hal seperti itu mungkin tidak banyak terlihat di media sosial, tetapi tetap punya artikel yang besar.

Hal yang sama juga terjadi pada kata “bahagia”. Di media sosial, kebahagiaan sering digambarkan melalui foto liburan, barang mahal, tempat makan yang menarik, atau kehidupan yang tampak serba cukup. Lama-kelamaan, muncul kesan bahwa orang baru bisa disebut bahagia jika hidupnya terlihat menyenangkan di mata orang lain. Padahal, bahagia tidak selalu harus seperti itu. Bahagia bisa pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga, punya teman yang tulus, tidur dengan tenang, tubuh yang sehat, atau merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Beberapa istilah seperti healing, self reward, “hidup cuma sekali”, dan “jangan kalah keren” juga sering muncul di media sosial. Sebenarnya, istilah tersebut tidak salah.

Penyembuhan berarti proses memulihkan diri dari rasa lelah atau tekanan, sedangkan self reward dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri setelah berusaha. Namun dalam penggunaannya, istilah itu terkadang berubah menjadi alasan untuk berbelanja secara berlebihan, mengikuti tren, atau memaksakan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan. Dari sini terlihat bahwa makna sebuah kata dapat bergeser ketika digunakan terus-menerus dalam konteks tertentu.

Pada akhirnya, makna kata tidak cukup dipahami hanya dari kamus. Makna juga terbentuk dari kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kata-kata tersebut. Media sosial mempunyai pengaruh besar dalam membentuk cara kita memandang kata-kata seperti sukses, bahagia, kaya, keren, bahkan gagal. Oleh karena itu, kita perlu lebih hati-hati agar tidak langsung percaya bahwa hidup yang tampak mewah pasti bahagia, atau hidup sederhana berarti tidak berhasil.

Banyak perjuangan yang tidak terlihat, namun justru sangat berarti. Sukses bisa berarti mampu bertahan saat keadaan sulit, menyelesaikan pendidikan, membantu keluarga, menjaga kesehatan mental, atau menjadi pribadi yang lebih baik dari hari sebelumnya. Dengan memahami hal-hal tersebut, kita tidak perlu terlalu sibuk mengejar standar hidup yang dibuat orang lain di media sosial. Yang lebih penting adalah memahami arti sukses dan bahagia berdasarkan keadaan, tujuan, dan perjalanan hidup kita sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image