Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dinda Oktarisa Saputri

Ketika Semua Orang Merasa Benar

Gaya Hidup | 2026-06-28 13:45:48

Gambar 1. Ilustrasi penggunaan media sosial.

Di zaman yang serba modern ini, kita tidak jauh dari kegiatan yang menggunakan media sosial, Terutama untuk mencari informasi terbaru. Mendapatkan informasi kini tidak perlu menggunakan usaha keras karena hanya dengan memasukkan kata kunci dalam kolom pencarian maka informasi tersebut dapat langsung tersedia dari berbagai sumber. Tidak hanya memudahkan untuk mencari informasi, media sosial juga memudahkan setiap orang menyampaikan pendapat mereka terkait informasi tertentu, menjadi ruang diskusi yang bebas dan menyenangkan karena kita bisa mengetahui hal baru melalui pemikiran orang lain tanpa harus bertemu dan saling mengenal.

Namun kemudahan dan kebebasan akan berpendapat tersebut tidak menjamin bahwa setiap orang akan memahami terlebih dahulu informasi yang didapatnya sebelum berpendapat di kolom komentar. Adakalanya seseorang langsung terpancing emosinya karena sebuah potongan video atau berita viral yang mana hanya memberikan sebagian informasi, sehingga timbulah kesalah pahaman dan memicu perdebatan yang mana lebih condong ke arah penghakiman terhadap pihak tertentu.

Penggunaan media sosial kini menjadi hal yang penting bagi masyarakat. Informasi yang dapat diakses dengan sekali klik, banyaknya informasi yang di dapatkan dengan sekali scroll, informasi singkat namun kita serasa seperti mengetahui banyak hal merupakan suatu hal yang praktis terutama bagi masyarakat yang kian disibukkan dengan kegitannya namun tetap dapat mengetahui info terbaru. Dengan adanya informasi yang singkat dan cepat ini, banyak orang pasti ingin menjadi orang yang paling banyak mengetahui informasi terbaru, orang yang selalu update dan tidak ketinggalan zaman terutama dalam hal berpendapat pula. Namun sebelum mengemukakan pendapatnya apakah setiap orang sudah benar-benar mengetahui informasi secara menyeluruh?, apakah mereka tahu kalu informasi yang didapatnya itu hanya sebagian saja? Apakah mereka telah meluangkan waktu atau menyempatkan diri untuk mencari informasi selengkapnya ? atau mereka langsung percaya begitu saja dan merasa yakin bahwa informasi yang didapatkannya itu benar adanya.

Nyatanya dalam fenomena yang sering terjadi, tidak sedikit orang justru tidak ambil pusing dan langsung menelan mentah – mentah informasi tersebut. Kondisi ini menunjukkan pentingnya literasi digital dalam masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital membantu seseorang dalam mengevaluasi serta memahami informasi yang diperoleh dari media sosial sehingga tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Tidak hanya memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi, media sosial juga menyediakan ruang untuk bebas berpendapat tanpa kita harus memperkenalkan diri, kita bisa menjadi apa saja ketika berurusan dengan media sosial. Di media sosial seseorang dapat membangun citra tertentu dan memperoleh dukungan dari pengguna lain. banyak orang yang akan berpikiran “oh ternyata orang ini pandai berdialektika rupanya, boleh juga pendapatnya”, dukungan yang diterima dapat membuat seseorang semakin yakin terhadap pendapatnya sendiri. Ketika muncul pandangan yang berbeda, ia cenderung mempertahankan keyakinannya sendiri daripada mencoba memahami sudut pandang lain karena merasa pendapat yang dimiliki sudah benar. Akibatnya, proses berpikir yang digunakan untuk berdiskusi dan mencari jalan tengah berubah menjadi proses mencari pembenaran atas pendapat seseorang.

Fenomena ini tentunya memiliki dampak negatif baik individu, masyarakat maupun ruang diskusi. Seseorang yang mulanya memiliki pendapat yang baik dan pendapat itu diterima dan didukung pengguna lain, lama kelamaan seseorang semakin yakin terhadap pendapat yang dimilikinya sehingga sulit menerima kritik dan pendapat yang berlawanan, tidak hanya itu dampak bagi orang yang menjadi sasaran komentar pun juga ikut terasa ketika seseorang yang seharusnya mendapatkan pendapat atau kritik yang membangun malah mendapat komentar yang menjatuhkan sehingga seseorang akan merasa bahwa dirinya tidak cukup baik dan kehilangan motivasi untuk berubah menjadi lebih baik, sama halnya dengan ruang diskusi yang mana seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran secara sehat dan dapat memunculkan pemikiran baru sebagai jalan tengah menjadi ajang debat kusir karena masing-masing pihak lebih berfokus mempertahankan pendapatnya daripada memahami sudut pandang yang berbeda. Fenomena ini juga berkaitan dengan etika komunikasi di media sosial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rendahnya etika komunikasi dan literasi digital dapat memicu munculnya komunikasi yang agresif serta menurunkan kualitas ruang diskusi di media sosial. Tidak hanya itu jika ada pihak yang terpojokkan atau pendapatnya tidak banyak diterima ke depannya akan merasa takut menyampaikan pendapatnya karena merasa khawatir bahwa pendapat atau pemikirannya tidak cukup baik untuk disampaikan.

Meski begitu, kebebasan berpendapat tetap menjadi hal yang penting dalam bermasyarakat, terutama di era digital masa kini. Kritik terhadap sesuatu tetap diperlukan namun sebelum memberi kritik penting bagi kita untuk memahami sesuatu yang akan dikritik secara menyeluruh dan tidak langsung mengambil kesimpulan dari informasi yang singkat, perlu juga bagi kita untuk melihat pandangan orang lain yang kemudian akan terbentuk diskusi yang sehat dan saling bertukar pemikiran sehingga muncul kritik yang membangun antara pihak yang berdiskusi dan juga pihak yang dikenai komentar. Kritik tidak selalu berarti kebencian. Kritik sebenarnya bisa menjadi cara untuk mengingatkan seseorang dan memperbaiki kesalahan. Namun, kritik kehilangan tujuannya ketika disampaikan dengan cara merendahkan, menghina, atau hanya bertujuan untuk menjatuhkan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara kritik yang membangun dan komentar yang hanya didorong oleh emosi. Tujuan diskusi bukan menentukan siapa yang paling benar, melainkan menemukan solusi atau pemahaman yang lebih baik dan juga tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir dengan kesepakatan, tetapi setidaknya setiap pihak dapat memahami alasan di balik pandangan yang berbeda. Oleh karena itu, etika komunikasi menjadi hal yang penting dalam penggunaan media sosial. Komunikasi yang dilakukan secara santun dan bertanggung jawab dapat membantu mengurangi kesalahpahaman serta menciptakan ruang diskusi yang lebih sehat.

Pada akhirnya, kemudahan dalam mengakses informasi maupun berpendapat adalah keuntungan yang ditawarkan oleh media sosial. Kebebasan berpendapat bukan menjadi suatu permasalahan dalam penggunaan media sosial, namun ketika seseorang hanya memperoleh informasi yang tidak utuh kemudian asal menyampaikan pendapat yang menurutnya benar dan ujungnya pendapat tersebut dapat menjatuhkan orang lain, hal tersebutlah yang menjadi penting dalam tanggung jawab terhadap pengelolaan media sosial bagi individu. Hendaknya setelah membaca tulisan ini kita mengetahui bahwa ketika berpendapat atau berkomentar di media sosial juga diperlukan etika, pendapat setiap orang tidak selalu sama tetapi hal tersebut akan membuka wawasan baru bagi kita dengan memahami cara pandang orang lain dan menjadi tempat diskusi yang menyenangkan sehingga kita dapat melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga menjadi sarana untuk belajar, memahami, dan menghargai perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image