Antara Konten Kehidupan Kampus dan Realita yang Tidak Pernah Diposting
Update | 2026-06-29 12:56:04Coba buka Instagram atau TikTok sekarang. Dalam hitungan detik, timeline sudah penuh dengan konten mahasiswa yang hidupnya terlihat sempurna. Ada yang memposting video pergi kuliah dengan outfit rapi dan kopi di tangan, ada yang upload foto buku catatan estetik dengan pencahayaan yang sudah diatur sedemikian rupa, ada yang bikin konten "day in my life as a college student" yang isinya kafe, perpustakaan, dan senyum lebar di depan kamera. Semuanya terlihat menyenangkan, teratur, dan jauh dari kata berantakan.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan. Apakah itu memang kehidupan kampus yang sesungguhnya, atau hanya bagian yang dipilih untuk ditampilkan?
Yang Diposting dan Yang Tidak
Kehidupan kampus versi medsos dan kehidupan kampus versi aslinya adalah dua hal yang seringkali sangat berbeda. Yang diposting biasanya berupa foto di kafe dengan laptop terbuka dan minuman kekinian, caption tentang betapa sibuknya semester ini tapi tetap bisa produktif, atau video wisuda dengan tangis haru dan bunga di tangan.
Dua versi kehidupan itu sama-sama nyata, tetapi hanya satu yang masuk ke feed.
Kenapa Mahasiswa Memilih Tampil Sempurna
Tokoh Sosiologi, Erving Goffman pernah menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, setiap orang cenderung menampilkan dirinya sebaik mungkin di depan orang lain. Ada bagian kehidupan yang sengaja ditampilkan ke publik, dan ada bagian yang disimpan sendiri dan tidak pernah diperlihatkan ke siapapun. Di era media sosial, konsep ini menjadi sangat nyata. Medsos menjadi tempat seseorang menampilkan versi terbaiknya, sementara bagian yang sulit dan berantakan disimpan rapat-rapat di balik layar.
Mahasiswa melakukan ini bukan karena buruk. Keinginan untuk terlihat baik di depan orang lain adalah hal yang sangat manusiawi. Masalahnya muncul ketika semua orang melakukan hal yang sama secara bersamaan, sehingga yang terlihat di medsos hanyalah kumpulan versi terbaik dari semua orang, tanpa ada satupun yang jujur tentang bagian yang susah.
Dampaknya ke Yang Menonton
Ketika semua konten yang muncul di timeline adalah kehidupan kampus yang terlihat sempurna, orang yang menonton mulai berpikir bahwa hanya hidupnya saja yang berantakan. Teman-teman terlihat baik-baik saja, produktif, dan punya kehidupan yang menyenangkan. Sementara diri sendiri merasa kewalahan, tertinggal, dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022) mencatat bahwa 41,3 persen mahasiswa di Indonesia mengalami stres pada tingkat sedang hingga berat. Artinya hampir separuh dari total mahasiswa Indonesia sedang tidak baik-baik saja, tapi kenyataan itu hampir tidak pernah muncul di timeline siapapun.
Akibatnya muncul tekanan yang tidak perlu. Tekanan untuk ikut tampil sempurna di medsos meski kondisi aslinya sedang tidak baik. Tekanan untuk tidak keliatan struggling meski sebetulnya sedang sangat kewalahan. Dan pada akhirnya, rasa kesepian yang aneh karena dikelilingi banyak orang tapi tidak ada yang benar-benar jujur satu sama lain.
Realita yang Tidak Diposting Itu Juga Valid
Kesulitan selama kuliah bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Nilai yang jelek, tugas yang berantakan, semester yang terasa berat, semua itu adalah bagian dari proses yang dialami hampir semua mahasiswa. Bedanya, tidak banyak yang mau mengakuinya secara terbuka karena takut dianggap lemah atau tidak kompeten.
Padahal justru di situlah letak masalahnya. Ketika tidak ada yang mau jujur, semua orang akhirnya merasa sendirian dalam kesulitan yang sebetulnya dialami bersama-sama. Kalau ada lebih banyak ruang untuk jujur, baik di medsos maupun di kehidupan nyata, mungkin lebih banyak mahasiswa yang merasa tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Tidak Harus Selalu Terlihat Baik
Kehidupan kampus tidak harus selalu terlihat bagus di medsos. Tidak ada kewajiban untuk memposting hanya momen yang indah dan produktif. Yang paling penting bukan bagaimana kehidupan kampus terlihat dari luar, tapi bagaimana seseorang benar-benar menjalaninya dari dalam.
Kalau hari ini tugasnya berantakan, nilainya mengecewakan, dan kondisinya jauh dari kata baik, itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Itu hanya bagian dari kehidupan kampus yang tidak pernah diposting, tapi dialami oleh hampir semua orang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
