Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Choirul Rizal

Mengapa Kita Lebih Takut Ketinggalan Informasi daripada Kehilangan Waktu?

Teknologi | 2026-06-27 14:38:51

Setiap pagi, banyak orang memulai hari dengan membuka media sosial sebelum benar-benar beraktivitas. Belum sempat merapikan tempat tidur atau menikmati secangkir kopi, jari sudah sibuk menggulir layar untuk melihat berita terbaru, tren yang sedang ramai, atau sekadar memastikan tidak ada informasi yang terlewat. Kebiasaan ini terasa begitu wajar hingga jarang disadari bahwa waktu yang dihabiskan terus bertambah setiap harinya.

Di era digital, informasi hadir tanpa mengenal batas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain, mengikuti perkembangan teknologi, hingga melihat kehidupan orang lain melalui media sosial. Kemudahan ini tentu memberikan banyak manfaat, tetapi juga memunculkan fenomena baru: rasa takut tertinggal informasi atau yang sering dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO).

Rasa takut tersebut membuat banyak orang merasa harus selalu terhubung. Ketika ponsel bergetar, muncul dorongan untuk segera membuka notifikasi. Ketika ada topik yang sedang viral, muncul keinginan untuk ikut mengetahui dan membicarakannya. Bahkan, saat sedang beristirahat atau berkumpul bersama keluarga, perhatian sering kali tetap tertuju pada layar ponsel karena khawatir ada sesuatu yang terlewat.

Ironisnya, kita sering menyadari bahwa waktu terus berjalan, tetapi tidak benar-benar merasakan kehilangannya. Satu video berdurasi tiga puluh detik dapat dengan mudah berubah menjadi satu jam aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Kita mungkin berhasil mengetahui puluhan informasi baru dalam waktu singkat, tetapi belum tentu informasi tersebut benar-benar memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Berbagai platform digital dirancang agar pengguna bertahan selama mungkin. Algoritma terus menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, sementara notifikasi dan rekomendasi dibuat untuk mendorong rasa penasaran. Semakin lama seseorang berada di dalam aplikasi, semakin besar pula keuntungan yang diperoleh platform tersebut melalui iklan dan aktivitas pengguna.

Akibatnya, waktu menjadi sesuatu yang sering dikorbankan tanpa disadari. Kita merasa produktif karena terus menerima informasi baru, padahal belum tentu informasi tersebut benar-benar dibutuhkan. Banyak tugas tertunda, waktu bersama keluarga berkurang, bahkan kesempatan untuk beristirahat sering tergantikan oleh kebiasaan menggulir media sosial tanpa tujuan.

Bukan berarti mengikuti perkembangan informasi adalah hal yang salah. Justru di era modern, kemampuan memperoleh informasi dengan cepat menjadi sebuah keuntungan. Namun, informasi yang berlimpah seharusnya membuat kita lebih selektif, bukan justru merasa wajib mengetahui segalanya. Tidak semua berita harus dibaca, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua perdebatan di media sosial harus menjadi perhatian.

Pada akhirnya, waktu adalah sumber daya yang tidak dapat dikembalikan. Informasi yang terlewat masih bisa dicari kembali, tetapi satu jam yang habis karena terus menggulir layar tidak akan pernah kembali. Oleh karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi "Apa yang saya lewatkan di media sosial hari ini?", melainkan "Apakah cara saya menggunakan waktu hari ini benar-benar membawa manfaat bagi diri saya?"

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak, memilih apa yang benar-benar penting, dan menghargai waktu bisa menjadi keterampilan yang semakin langka. Sebab pada akhirnya, kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita ketahui, tetapi oleh bagaimana kita memanfaatkan waktu yang kita miliki

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image