Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image FARAH HANIFAH NURAINI

Genosida Palestina adalah Luka yang Terus Digali

Edukasi | 2026-06-23 02:24:02

By Farah Hanifah Nuraini, Psychology Student

Disclaimer saya menyebut Israel dan sekutunya dengan “genocider”, semua ini saya lakukan untuk tidak menyandingi kata “Gaza” dan “Palestina” dengan si perampas. Murni karena penulis tidak sudi

Refrensi gambar: Marwa (Pinterest)

Ketika kita berbicara tentang genosida, perhatian kita sering kali langsung tertuju pada ribuan bahkan jutaan korban jiwa dan infrastruktur yang hancur tak tersisa, Itulah yang terjadi di Gaza, Palestina. Genosida tiada henti, tiada ampun, dan bahkan tiada rasionalisasi yang paling rasional dari para genocider. Mereka membumi ratakan segala gedung yang menjulang, meratakan kehidupan murni dan jiwa yang tenang dari saudara kita semuanya hanya karena kekuasaan dan nafsu belaka para genocider. Namun, perlu kita ingat selain reruntuhan gedung di Gaza, terdapat "reruntuhan psikologis" yang dampaknya jauh lebih dalam dan tak kasatmata.

Kondisi saudara-saudara kita di Gaza tidak bisa hanya dilihat dari kacamata politik atau hak asasi manusia. Kita membutuhkan kacamata psikologi untuk secara konkret memahami seberapa besar beban mental yang mereka pikul setiap detiknya. Dalam ilmu psikologi, ketika seseorang mengalami kejadian traumatis yang ekstrem, kita mengenal mereka sebagai orang yang berpotensi mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) yang berarti Gangguan Stres Pascatrauma. Dari sini lahir sebuah pertanyaan besar, “apakah diagnosis ini relevan untuk warga Gaza?” Bagi saya jawabannya Tidak sepenuhnya. Namun, mengapa bisa begitu?

Refrensi gambar: Instagram akun @Nowdots

PTSD Menuju Continuous Traumatic Stress (CTS)

Mari kita bedah dari PTSD dahulu, secara definisi PTSD memiliki kata kunci "Post" atau "Pasca". Hal ini menegaskan bahwa peristiwa traumatis tersebut telah dilalui, dan korban kini berada di lingkungan yang aman untuk memulai masa pemulihan dari trauma. Tapi, bagi saudara-saudara kita di Gaza trauma tersebut tidak pernah memiliki masa "pasca". Ancaman bom, kehilangan anggota keluarga, kelaparan, dan pengusiran adalah konsumsi sehari-hari yang di saksikan oleh kedua mata mereka. Bahkan mereka terlintas pada kegelisahan hatinya “Apakah setelah ini giliranku? Anakku? Keluargaku?” saat menyaksikan kejadian tragis tersebut. Oleh karena itu, konsep psikologis yang paling akurat untuk menggambarkan kondisi di Gaza adalah Continuous Traumatic Stress (CTS) atau yang berarti Stres Traumatik Berkelanjutan. Sungguh saat saya menulis ini, tangan bergetar dan otak saya dipenuhi emosi.

Konsep Continuous Traumatic Stress (CTS) pertama kali dikembangkan secara intens guna untuk menjelaskan kondisi masyarakat yang hidup di bawah tekanan konflik militer dan penjajahan yang tidak pernah usai (Eagle & Kaminer, 2013). Situasi ini sering dikategorikan sebagai trauma yang kumulatif, terus menumpuk tanpa memberikan jeda bagi korban untuk pulih (Kira, 2001). Dalam kondisi CTS, sistem saraf manusia dipaksa untuk terus berada dalam mode survival (bertahan hidup) atau fight-or-flight tanpa jeda (Kirana & Machdi, 2025). Bayangkan sebuah alarm bahaya berdenging di kepala Anda terus-menerus setiap detik selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hal ini menyebabkan kelelahan emosional yang hiper kewaspadaan (hyperarousal) di mana individu merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah nasib mereka karena ancaman tersebut sepenuhnya di luar kendali mereka.

Trauma Kolektif dan Lintas Generasi

Genosida tidak hanya bertujuan membunuh individu, tetapi juga menghancurkan identitas dan ikatan sosial sebuah bangsa. Dihancurkannya rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan seluruh ruang publik di Gaza dengan maksud menghilangkan jejak dan sejarah Negeri yang kuat yaitu Gaza, Palestina. Disebutkan dalam buku Masalha berjudul 4.000 Tahun Palestina Sejarah yang Dihilangkan bahwa sejarah palestina tidak seperti narasi-mitos dalam penjanjian lama melainkan gagasan palestina telah berevolusi dari waktu ke waktu menjadi sebuah konsep geopolitik yang kuat. Sungguh berat bagi genocider melenyapkan sejarah tersebut, maka dari itu terjawab mengapa mereka keji dan gila. Salah satu bentuk kegilaan yang dilakukan genocider adalah melahirkan apa yang disebut sebagai Trauma Kolektif (Collective Trauma).

Lebih jauh lagi, trauma ini mengakar menjadi Trauma Lintas Generasi (Transgenerational Trauma). Berbagai studi menunjukkan bahwa anak-anak di Gaza saat ini mewarisi beban psikologis secara struktural dan emosional dari orang tua serta kakek-nenek mereka akibat konflik yang berkepanjangan (Altawil, Boutros, & Abdel-Awad, 2008). Anak-anak Gaza tidak hanya hidup dengan ketakutan hari ini, tetapi juga memikul luka masa lalu dari para leluhur mereka sejak peristiwa Nakba di masa lampau. Impian ini diwariskan genocider untuk menghilangkan semangat juang Anak-anak Gaza untuk melawan dan mempertahankan negerinya. Namun, sungguh savage Anak-anak Gaza dalam menanggapi sikap genocider, mereka justru dengan tegas melawan genocider melalui QS. Al-A’raf: 128 dan QS. As-Saff: 13 yang berisi Janji Pertolongan dan Kemenangan dari Allah atas Bumi Palestina. Seakan Anak-anak Gaza dapat melihat masa depan melalui Quran dan hanya menunggu masa kemanangan itu datang dengan bertahan, melawan, dan mempertahankan tanah sucinya, Allahuakabar.

Refrensi gambar: Mahmoud Abu Hamda

Psikologi Ketangguhan: Memahami Sumud (Resiliensi Palestina)

Ketika dihadapkan pada penderitaan yang tak terbayangkan, ada satu fenomena psikologis yang sangat menonjol dari masyarakat Gaza yaitu Resiliensi yang luar biasa. Mari kita bedah kehebatan Saudara kita di Gaza dalam beresiliens menghadapi genocider. Dalam psikologi positif, resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi di tengah kesulitan yang ekstrem (Punamäki, Qouta, & El Sarraj, 2011). Bagi masyarakat Palestina, resiliensi ini melampaui teori klinis dan memiliki nama kultural yang sangat mendalam, yaitu Sumud (Keteguhan hati atau steadfastness). Sumud bukan sekadar mekanisme koping secara individual.

Namun, sumud adalah sebuah pertahanan psikologis yang bersifat ideologis, spiritual, dan komunal yang ditunjukkan tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh para tenaga medis yang terus bekerja di bawah ancaman (Marie, Hannigan, & Jones, 2018). Fenomena Ini adalah keputusan dengan sadar untuk tetap bertahan, menjaga kehidupan, menolak untuk patah, dan mencari makna di tengah penderitaan yang tidak masuk akal sejalan dengan konsep Logotherapy yang memandang bahwa manusia selalu bisa menemukan makna hidup, bahkan dalam penderitaan paling ekstrem sekalipun (Frankl, 1985).

Fenomena Sumud inilah yang menjelaskan mengapa kita melihat video-video dari Gaza di mana para ibu masih bisa bersyukur kepada Tuhan di tengah duka kehilangan anak, selain itu anak-anak yang masih tersenyum dan bermain di atas puing-puing bangunan, atau para dokter yang menolak meninggalkan rumah sakit. Keimanan yang absolut dan ikatan sosial yang kuat menjadi jangkar psikologis yang menyelamatkan mereka dari kehancuran mental. Satu hal yang membuat saudara kita di Gaza bertahan, mereka meyakininya adanya kuasa besar yang dapat melindungi mereka yaitu Allah SWT.

Apa Makna yang Dapat Kita Petik Terhadap Saudara Kita di Palestina?

Kondisi saudara kita di Gaza merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang menciptakan luka psikologis terburuk pada abad ini. Mereka tidak menderita trauma dari masa lalu, melainkan mencoba bertahan hidup dan keluar di dalam pusaran trauma hari demi hari yang mereka lalui. Namun, melalui keteguhan hati (Sumud), mereka mengajarkan kepada dunia tentang bentuk tertinggi dari resiliensi jiwa manusia. Mereka bahkan saya katakan menembus level aktualisasi diri jika ditinjau dari Hierarki Needs milik Maslow. Menghentikan genosida ini bukan hanya tentang mencapai gencatan senjata secara fisik, tetapi merupakan bagaimana peran intervensi psikologis pertama yang mutlak dari jiwa individu yang diperlukan untuk menyelamatkan jiwa dan sumud untuk masa depan generasi penerus Palestina.

1 Tips yang saya temukan dalam buku 4.000 Tahun Palestina Sejarah yang dihilangkan karya Nur Masalha mengenai bagaimana para cendekiawan yunani memahami konsep palestina melalui lintas waktu yaitu dengan 2 cara: (1) Khronos, cara manusia mengukur waktu secara kuantitatif dan kronologis (hari, bulan, tahun, abad) (2) Kairos, cara manusia mengalami danmengingat momen atau peristiwa tertentu dari perspektif tertentu. Melalui kombinasi dua cara pandang ini, buku ini berhasil merekonstruksi dan menganalisis sejarah Palestina bukan sekadar sebagai sejarah "sebidang tanah yang berganti penguasa", melainkan sebagai sejarah kontinuitas identitas manusia pribumi (indigenous people) yang mendiaminya selama 4.000 tahun. Buku yang luar biasa untuk kita yang ingin memahami saudara kita di palestina, Masyaallah.

Referensi:

Altawil, M., Boutros, A. A., & Abdel-Awad, A. (2008). The impact of the ongoing conflict on the mental health of Palestinian children in the Gaza Strip. Child Abuse & Neglect, 32 (11), 1013-1025.

Eagle, G., & Kaminer, D. (2013). Continuous traumatic stress: Expanding the lexicon of traumatic stress. Peace and Conflict: Journal of Peace Psychology, 19 (2), 85–99.

Frankl, V. E. (1985). Man’s Search for Meaning . Simon and Schuster.

Kira, I. A. (2001). Taxonomy of trauma and trauma assessment. Traumatology, 7 (2), 73-86.

Kirana, D., & Machdi, I. (2025). Jejak Sang Napas; Kekuatan Pemulihan Tanpa Batas. PT. Nas Media Indonesia.

Marie, M., Hannigan, B., & Jones, A. (2018). Resilience of nurses who work in community mental health workplaces in Palestine. International Journal of Mental Health Nursing, 27 (1), 344-354.

Masalha, N. (2020). 4.000 Tahun Palestina: Sejarah yang dihilangkan (P. R. Utami & S. G. S. Sukarsa, Penerjemah). Pustaka Alvabet.

Punamäki, R. L., Qouta, S. R., & El Sarraj, E. (2011). Resiliency factors predicting psychological adjustment after political violence among Palestinian children. International Journal of Behavioral Development, 35(1), 52-61.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image