AI Bukan Pengganti Belajar, Tapi Alat Bantu yang Harus Dipakai dengan Sadar
Teknologi | 2026-06-21 23:56:53
Tidak butuh waktu lama bagi ChatGPT dan asisten AI sejenisnya untuk menjadi bagian dari rutinitas belajar mahasiswa. Dari merangkum materi kuliah, mencari referensi, hingga membantu menyusun kerangka tugas, semuanya kini bisa selesai dalam hitungan detik. Pertanyaannya bukan lagi apakah mahasiswa memakai AI, melainkan bagaimana cara mereka memakainya.
AI yang Benar-Benar Membantu
Ole, dkk (2026) menjelaskan bahwa mahasiswa menilai ChatGPT efektif menyelesaikan tugas kuliah sekaligus mendukung pemahaman materi yang sudah diajarkan di kelas. Mawaddah, dkk (2026) juga mencatat dampak positif berupa efisiensi waktu dan peningkatan rasa percaya diri saat mahasiswa menggunakan AI untuk belajar.
Ini masuk akal. AI unggul dalam tugas-tugas teknis: menjelaskan konsep yang membingungkan dengan bahasa yang lebih sederhana, membantu debugging kode, atau memberi kerangka awal sebelum mahasiswa mengembangkannya sendiri. Dipakai dengan cara ini, AI benar-benar berperan sebagai partner belajar, bukan pengganti proses berpikir.
Ketika Bantuan Berubah Jadi Jalan Pintas
Masalah muncul ketika batas itu kabur.Ole, dkk (2026) menemukan kekhawatiran nyata: penyalahgunaan dan ketergantungan pada ChatGPT bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan membuka potensi plagiarisme, karena jawaban yang didapat sering langsung dipakai tanpa diolah ulang.
Pola serupa ditemukan oleh Sari, dkk (2026). Mereka menyatakan bahwa Mahasiswa yang terlalu bergantung pada ChatGPT cenderung kesulitan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa bantuan teknologi, indikasi bahwa kemampuan problem-solving mereka justru menurun, bukan terasah. Kamila, dkk (2025) mencatat pergeseran kebiasaan literasi: kemudahan mendapat jawaban instan membuat sebagian mahasiswa mengurangi aktivitas membaca sumber ilmiah secara langsung.
Yang paling mengkhawatirkan, riset yang sama menemukan bahwa konsistensi mahasiswa dalam memverifikasi jawaban AI justru menurun ketika jawaban itu terdengar logis, padahal logis tidak selalu berarti benar.
Bedanya: Partner Berpikir vs Jalan Pintas
Garis pemisahnya sebenarnya sederhana. Mahasiswa yang menjadikan AI sebagai partner berpikir akan tetap mempertanyakan jawaban yang diberikan, memparafrasekannya dengan pemahaman sendiri, dan menjadikannya titik awal, bukan titik akhir, dari proses belajar.
Sebaliknya, mahasiswa yang menjadikan AI sebagai jalan pintas hanya menyalin, menempel, dan mengumpulkan tanpa benar-benar memahami apa yang baru saja "dipelajari". Tugas selesai, tapi pemahamannya kosong.
Sari, dkk (2026) menegaskan posisi yang seharusnya: ChatGPT semestinya menjadi alat bantu yang mendukung proses berpikir, bukan pengganti peran intelektual mahasiswa dalam membangun pengetahuan.
Bukan Soal Melarang, Tapi Soal Kesadaran
Melarang mahasiswa memakai AI bukan solusi realistis sebab teknologi ini akan terus berkembang dan makin menyatu dengan cara belajar generasi sekarang. Yang lebih masuk akal adalah membangun kesadaran: kapan AI layak dipakai untuk mempercepat proses, dan kapan justru harus dihindari karena akan menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilakukan sendiri.
Kemandirian belajar bukan berarti menolak teknologi. Kemandirian belajar berarti tetap memegang kendali atas proses berpikir sendiri, meskipun ada alat yang bisa menjawab segalanya dalam hitungan detik.
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.
REFERENSI:
Ole, A. A., Supit, D., dan Lotulung, M. (2026) ‘PERSEPSI MAHASISWA TENTANG PENGGUNAAN AI (CHAT GPT) DALAM MENGERJAKAN TUGAS’, Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(1), pp. 144-151.
Mawaddah, A. A. dan Farhana (2026) ‘MOTIF DAN DAMPAK PENGGUNAAN CHAT GPT DI ERA DIGITAL PADA MAHASISWA’, Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 8(3), pp. 2-8.
Sari, T. P., Yoka, Fitri Y., Utami, I., dan Irawan, B. (2026) ‘Persepsi Mahasiswa Dalam Pemanfaatan Artificial Intellegence (AI) ChatGPT Sebagai Sumber Informasi’, Journal of Innovation in Teaching and Instructional Media, 6(2), pp. 536-545.
Kamila, k., Abdullah, R. K., Ahmad, N. T., Amelia, N. D., dan Nugroho, D. A. (2025) ‘PENGARUH INTERAKSI DENGAN CHATGPT TERHADAP POLA BERPIKIR DAN VALIDASI INFORMASI PENGGUNA’, Jurnal Media Akademik, 3(12), pp. 2-24.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
