Glow Up Finansial di Era FOMO
Curhat | 2026-06-21 18:50:48
Bayangkan jam dua dini hari, layar ponsel menyala terang di kamar kos yang gelap. Jari-jari bergerak cepat, jantung berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan karena deadline tugas, bukan karena chat gebetan tapi karena war tiket konser sudah dimulai. Tiga puluh menit kemudian, transaksi berhasil. Tak lama setelah itu, notifikasi lain muncul: pengajuan gadai laptop, alat yang sehari-hari menyangga tugas kuliah dan deadline disetujui.
Ironis, bukan? Alat produksi utama seorang mahasiswa, laptop untuk belajar, mengerjakan tugas, mencari penghasilan tambahan digadaikan demi satu malam euforia yang akan habis begitu lampu panggung padam.
Ini bukan cerita fiksi. Ini potret nyata generasi kita: generasi yang validasi sosialnya diukur dari story Instagram di barisan terdepan konser, dari foto barang branded terbaru, dari pengakuan "wah keren banget bisa nonton itu". Di balik layar yang gemerlap itu, ada jebakan tak kasat mata bernama Fear of Missing Out rasa takut tertinggal yang membuat kita rela mengejar gaya hidup yang sebenarnya jauh di luar jangkauan kemampuan kita.
Pertanyaannya sederhana, tapi jarang kita berani jawab jujur: apakah kita sedang membangun masa depan, atau justru sedang menggadaikan ketenangan hidup demi validasi sesaat?
Saat Kemewahan Naik Tahta, Kebutuhan Pokok Tersingkir
Fenomena menggadaikan barang esensial demi tiket konser atau barang tersier bukan sekadar drama fangirling semata. Ini adalah alarm bahaya sinyal bahwa kita gagal menjaga tawazun, keseimbangan, dalam mengelola hidup.
Ekonomi syariah sebenarnya sudah memberi kita peta jalan yang jelas lewat hierarki kebutuhan:
- Daruriyyat kebutuhan primer yang mutlak dipenuhi demi keberlangsungan hidup dan akal.
- Hajiyyat kebutuhan sekunder yang memberi kenyamanan.
- Tahsiniyyat kebutuhan tersier yang sifatnya kemewahan.
Masalahnya, banyak dari kita diam-diam membalik hierarki ini. Tahsiniyyat dinaikkan ke singgasana, sementara daruriyyat dipinggirkan. Ketika laptop alat yang menyangga akal dan produktivitas kita digadaikan demi hiburan sesaat, sebenarnya kita sedang mengorbankan mashlahah, kemaslahatan jangka panjang diri sendiri, di atas altar kesenangan instan.
Akal sehat, yang seharusnya jadi aset paling berharga, justru ikut tergadai tanpa kita sadari.
Dari "War" Tiket ke "War" Diri Sendiri: Saatnya Glow Up yang Sesungguhnya
Kabar baiknya, generasi yang sama yang piawai war tiket dalam hitungan detik, juga punya potensi besar untuk jadi generasi yang strategis secara finansial asal mau mengalihkan energi itu ke arah yang tepat. Inilah beberapa langkah glow up finansial yang lebih berarti daripada sekadar status "udah checkout":
1. Kenali Prioritas Asli, Bukan Prioritas yang Dipaksakan Algoritma Ada perbedaan tipis tapi krusial antara "kebutuhan untuk eksis di media sosial" dan "kebutuhan untuk bertahan dan berkembang di masa depan". FOMO pandai menyamarkan keinginan sebagai kebutuhan. Tugas kita adalah membongkar penyamaran itu sebelum dompet atau ponsel jadi korbannya.
2. Pahami Akad, Jangan Tertipu Label Jika memang harus berurusan dengan lembaga keuangan, pelajari mekanisme akadnya baik-baik. Transaksi syariah bukan sekadar soal stiker "syariah" yang menempel, melainkan soal keberkahan yang membuat hidup tenang—bukan malah menambah daftar overthinking soal cicilan yang menumpuk.
3. Investasikan Energi pada Diri Sendiri Bayangkan jika semangat war tiket yang menggebu itu dialihkan untuk membangun personal branding atau merintis bisnis kecil-kecilan. Energi yang sama, hasil yang jauh lebih berkelanjutan. Satu malam euforia konser akan habis begitu saja; satu bisnis kreatif yang dirintis dengan tekun bisa terus tumbuh, bahkan menjadi penopang hidup di masa depan.
Penutup: Gaya Boleh Slay, Tapi Akal Sehat Jangan Ikut Tergadai
Fiqih muamalah sering dianggap sekadar teori yang berdebu di bangku kuliah, dihafal untuk ujian lalu dilupakan. Padahal, ia adalah panduan praktis yang sangat relevan untuk menjaga kita tetap stabil di tengah arus dunia nyata yang penuh godaan instan.
Maka sebelum jari kembali bergerak cepat menekan tombol "checkout" atau "ajukan gadai", coba berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri satu pertanyaan jujur:
"Apakah ini akan membantu saya menjadi versi terbaik di masa depan, atau hanya membuat saya terlihat keren di mata orang lain untuk satu malam saja?"
Karena pada akhirnya, glow up yang sesungguhnya bukan diukur dari seberapa mahal tiket konser yang berhasil kita dapatkan dalam war yang melelahkan itu. Glow up sejati adalah seberapa bijak kita mengelola harta hari ini, untuk menyambut masa depan yang benar-benar mapan bukan sekadar terlihat mapan di feed Instagram.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
