Ilusi Kelas Menengah di Balik Kredit Digital
Bisnis | 2026-07-15 16:04:36Pemandangan di pusat perbelanjaan dan kedai kopi perkotaan saat ini menciptakan lanskap sosial yang menarik sekaligus artifisial. Gadget terbaru, pakaian trend, dan tingkat konsumsi yang tinggi kini tampaknya menjadi kebutuhan minimum untuk dianggap sebagai bagian dari kelas menengah modern. Namun, di balik kecemerlangan visual yang ditampilkan di ruang publik dan dunia digital, terdapat paradoks struktural yang mengkhawatirkan yang tersembunyi, banyak dari kemewahan ini tidak dibangun atas dasar pendapatan riil, namun didukung oleh batas kredit digital.
Era digital telah menciptakan fenomena yang dapat kita gambarkan sebagai ilusi kelas sosial baru. Sosiolog Thorstein Veblen berpendapat dalam teorinya tentang konsumsi yang mencolok bahwa orang sering kali membeli barang-barang mewah bukan untuk keperluan praktis, tetapi untuk menunjukkan kekayaan dan mendapatkan status sosial. Sebelumnya, perilaku ini hanya terjadi pada segelintir kelompok elit yang memiliki modal nyata. Namun, saat ini, algoritma media sosial dan kapitalisme digital berskala besar bekerja sama untuk menjadikan perilaku ini sebagai kebutuhan yang meluas. Gadget secara halus mendorong masyarakat untuk menganut standar gaya hidup kelas atas, yang disajikan sebagai gambaran sempurna dari kebahagiaan modern.
Pergeseran perilaku konsumen secara besar-besaran tidak akan terjadi tanpa infrastruktur pendukung yang kuat. Di sinilah peran fintech, khususnya layanan paylater dan pinjaman online, berperan penting. Di masa lalu, lembaga keuangan tradisional memerlukan pengawasan ketat, jaminan fisik, dan birokrasi berlapis untuk menyetujui fasilitas kredit. Sebaliknya, perusahaan keuangan digital modern mengabaikan semua hambatan ini dengan berkedok inklusi dan kecepatan keuangan.
Proses pengajuan sederhana yang hanya membutuhkan kartu identitas dan foto selfie, dipadukan dengan integrasi langsung ke pasar online, telah mengubah utang dari pilihan finansial yang sulit menjadi tindakan impulsif sehari-hari yang tersedia di ujung jari Anda. Kenyamanan tersebut menimbulkan dampak psikologis yang merugikan, khususnya hilangnya rasa bersalah atau beban moral ketika berhutang. Kredit tidak lagi dipandang sebagai alat darurat atau modal produktif, melainkan sebagai perpanjangan pendapatan bulanan.
Akibatnya, masyarakat tetap terjebak dalam ilusi kemakmuran, percaya bahwa mereka mampu membeli barang-barang tersier yang mahal hanya karena batas kredit mereka tinggi, bukan karena mereka mempunyai tabungan yang cukup. Ini adalah komodifikasi status sosial yang sejati, di mana pengakuan kelas menengah bisa disewa dan dibayar dengan mencicil bulanan.
Dampak jangka panjang dari pertumbuhan kredit digital yang tidak terkendali adalah melemahnya stabilitas keuangan masyarakat. Ketika pendapatan di masa depan terus-menerus dijanjikan untuk kesenangan sesaat, kemampuan untuk membangun kekayaan nyata akan rusak parah. Uang yang seharusnya disalurkan ke bidang-bidang penting seperti tabungan pensiun, investasi jangka panjang, dana darurat kesehatan, dan pendidikan telah dipotong secara drastis untuk menutupi kenaikan akumulasi bunga dan pembayaran.
Dari sudut pandang sosio-ekonomi, struktur masyarakat seperti ini sangat rentan karena menciptakan piramida kelas semu yang rapuh dan landasannya lemah. Pada pandangan pertama, kehidupan mereka tampak stabil dan aman, namun kemunduran ekonomi sekecil seperti kehilangan pekerjaan, meningkatnya biaya kebutuhan pokok, atau masalah kesehatan keluarga dapat menyebabkan jaring pengaman finansial mereka hancur seketika. Mereka yang terjebak dalam siklus ini akan dengan cepat kembali jatuh ke dalam kemiskinan yang lebih parah, dan terjerumus ke dalam lingkaran setan utang yang digunakan untuk melunasi utang-utang lama.
Untuk mengatasi krisis sosio-ekonomi yang tersembunyi ini, tindakan sepihak dari konsumen saja jelas tidak akan cukup. Tidak adil jika menyalahkan kurangnya pengetahuan keuangan masyarakat sebagai satu-satunya penyebab. Otoritas pengawas keuangan negara harus menerapkan aturan yang lebih ketat dan tegas untuk meredam agresivitas pemasaran kredit digital. Untuk menjunjung etika publik, kita harus mulai menyaring bahasa iklan manipulatif yang menormalisasi utang sebagai sarana untuk mencapai gaya hidup tertentu.
Pada akhirnya, kita sebagai anggota masyarakat harus bekerja sama untuk mendefinisikan kembali apa arti kesuksesan sosial. Kita harus menyadari dan membangun kembali pemahaman bahwa stabilitas ekonomi yang sejati tidak ditentukan oleh batas kredit yang dapat kita gunakan di pusat perbelanjaan, namun oleh kekuatan landasan keuangan kita ketika krisis ekonomi melanda. Sebuah negara yang kuat tidak akan pernah bisa berkembang jika rakyatnya bergantung pada janji palsu berupa kekayaan yang diciptakan oleh hutang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
