Demonstrasi Mahasiswa: Cermin Demokrasi yang Masih Berdetak
Politik | 2026-06-15 11:01:57
Keterlibatan aktif mahasiswa dalam gelombang demonstrasi menunjukan bahwa generasi muda Indonesia tidak apatis terhadap kondisi bangsa. Mahasiswa turun ke jalan bukan karena cara-cara formal seperti petisi, dialog, aspirasi di DPR sering kali terasa seperti bicara ke tembok. Selama saluran aspirasi resmi tidak fungsional, jalanan akan terus menjadi podium rakyat. Setiap kali mahasiswa turun ke jalan ada dua reaksi yang paling umum muncul dari masyarakat: sebagian bertepuk tangan, sebagian lagi mengeluh jalanan macet. Tapi diantara dua reaksi itu, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting dan sering kita lewatkan, mengapa mereka harus turun sejak awal? jawabannya sederhana: karena jalan-jalan formal sudah terasa seperti jalan buntu.
Dari “Indonesia Gelap” ke “Menuju Indonesia Bangkrut” Apa yang Berubah?
Pada 25 Agustus 2025, ribuan massa hadir di depan Kompleks Parlemen DPR/MPR, mahasiswa, kelompok buruh, hingga masyarakat umum membawa tema “Indonesia Gelap, Revolusi Dimulai”. Tuntutan utama mereka mencakup pembatalan tunjangan perumahan Rp50 juta untuk anggota DPR dan transparasi penghasilan pejabat.Dan hampir setahun kemudian, belum ada tanda-tanda reda. Aksi 12 juni 2026 bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” disebut sebagai salah satu mobilisasi mahasiswa terbesar sejak gelombang demonstrasi nasional Agustus 2025, kali ini berlangsung di tengah tekanan ekonomi berupa pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS dan kenaikan harga BBM.Perhatikan polanya: dari “Indonesia Gelap” menjadi “Menuju Indonesia Bangkrut”. Judulnya makin suram. Bukan karena mahasiswa gemar dramatisasi, melainkan karena kondisinya memang makin berat dirasakan.BEM seluruh Indonesia juga menginisiasi aksi “Indonesia Gelap” sebagai simbol keresahan publik terhadap kebijakan pemerintah yang dirasa tidak berpihak kepada rakyat, menuntut efisiensi kabinet, menolak revisi UU TNI, Polri, dan Kejaksaan, hingga evaluasi program makan bergizi gratis. Bahkan soal MBG pun dipertanyakan. BEM UI menuntut Presiden Prabowo menghentikan proyek makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih, tuntutan yang dirumuskan melihat masalah ekonomi dan demokrasi saat ini, dengan catatan bahwa Indonesia adalah negara kaya yang seharusnya mampu lebih.Ironis sekali: program yang dirancang untuk memberi makan rakyat, justru dipertanyakan oleh rakyat sendiri. Ini bukan penolakan terhadap niat baik, ini adalah tagihan atas janji yang belum terbukti efektif di lapangan.
Jalanan adalah podium terakhir yang tersisa
DPR dibentuk untuk mewakili rakyat. Tapi bagaimana mau mewakili, jika aspirasi rakyat lebih sering tiba di meja rapat sebagai gangguan ketertiban daripada sebagai bahan kebijakan?Kita tidak bisa meminta rakyat untuk menyampaikan aspirasi lewat jalur yang benar, sementara jalur itu kita sumbat satu per satu. Petisi diabaikan. Audiensi DPR basa-basi. Media yang kritis dibungkam pelan-pelan. Lalu kita kaget ketika mereka memilih aspal sebagai panggung?Negara yang sehat adalah negara yang tidak takut dikritik. Negara yang percaya diri tidak akan getar menghadapi mahasiswa bertoga. Justru sebaliknya, negara yang lemah argumen itulah yang mengandalkan pertarungan untuk menjawab pertanyaan.Pasca aksi besar Agustus 2025, gelombang protes tidak surut. Justru muncul ekalasi baru berupa aksi solidaritas dari kalangan buruh, komunitas sipil, aktivis lingkungan, dan kelompok masyarakat adat yag merasa isu yang diangkat mahasiswa juga merepresentasikan penderitaan mereka. Ini adalah sinyal penting: gerakan ini bukan milik mahasiswa saja. Ini milik semua orang yang merasa suaranya tidak sampai.Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah demonstrasi ini benar atau salah?” pertanyaannya adalah: apa yang kita lakukan setelah ini mereka tahu semua ini? Kita tidak harus turun ke jalan. Tapi kita harus berhenti menjadi penonton yang pasif. Gunakan hak suara dengan sadar, bukan dijual, bukan diwariskan ke keluarga politik yang itu-itu saja. Dukung media indepnden yang berani. Bicara di ruang-ruang kecil yang kita punya.Karena demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara sekali dalam lima tahun. Demokrasi harus bernafas setiap hari, dan itu tugas kita semua, bukan hanya mahasiswa yang rela kepanasan di depan gedung DPR.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
