Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Riansya

Ekonomi Islam: Antara Idealisme Etis dan Realitas Praktis

Agama | 2026-06-14 14:01:35

Belakangan ini, wacana tentang Ekonomi Islam kembali mengemuka, terutama saat krisis keuangan global melanda sistem kapitalis. Banyak pihak mulai melirik sistem yang berbasis pada nilai-nilai syariah sebagai alternatif yang lebih adil dan berkelanjutan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah Ekonomi Islam selama ini sekadar utopia etis di atas kertas, ataukah ia benar-benar telah menjadi realitas praktis yang mampu bersaing?

Sebagai sebuah sistem, Ekonomi Islam menawarkan fondasi yang kokoh. Prinsip larangan riba (bunga), gharar (ketidakpastian berlebihan), dan maysir (spekulasi) bukan sekadar aturan ritual, melainkan safeguard untuk mencegah eksploitasi. Dalam sistem kapitalis, uang bisa menghasilkan uang tanpa kerja nyata. Inilah akar ketimpangan. Islam hadir dengan konsep bahwa uang adalah medium of exchange, bukan komoditas yang diperdagangkan. Keuntungan hanya boleh lahir dari perdagangan riil, bagi hasil (mudharabah), dan kerja sama modal-kerja (musyarakah).

Namun, opini publik seringkali terjebak pada romantisme ideal. Banyak lembaga keuangan syariah di berbagai negara, termasuk Indonesia, justru kerap dikritik karena mirip dengan bank konvensional. Mereka menggunakan benchmark suku bunga (meski disebut sebagai "nisbah" atau "margin"), lalu merancang produk yang secara substansi tidak jauh berbeda dengan kredit berbunga. Misalnya, akad murabahah (jual beli dengan markup) kadang hanya menjadi "hiasan syariah" di balik transaksi yang esensinya ribawi.

Lalu, di mana letak kegagalan pemahaman ini? Ekonomi Islam bukanlah sekadar "mengharamkan bunga" lalu menggantinya dengan kata "margin". Ekonomi Islam adalah sebuah ekosistem moral. Ia menuntut adanya keberkahan dalam transaksi, kejujuran dalam informasi, dan yang terpenting: keberpihakan pada sektor riil. Ketika bank syariah lebih senang membiayai konsumsi (motor, gadget) daripada membiayai petani atau usaha mikro, maka ia telah kehilangan jiwanya.

Maka, opini saya tegas: Ekonomi Islam tidak akan pernah menjadi solusi global jika hanya dijalankan sebagai label atau proyek bisnis biasa. Ia membutuhkan lompatan paradigma dari sekadar "halal secara hukum" menuju "adil secara sosial". Para ulama dan praktisi harus berani melakukan kritik internal. Regulator harus membuat kebijakan yang memaksa bank syariah untuk meningkatkan porsi pembiayaan produktif dan bagi hasil yang sesungguhnya.

Kesimpulannya, idealisme Ekonomi Islam adalah sebuah keniscayaan, tetapi tanpa eksekusi yang jujur dan konsisten, ia hanya akan menjadi nyanyian lama yang indah didengar, namun tidak pernah menyentuh realitas ketimpangan. Time to walk the talk.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image