Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rohmah Mawar

Bau Busuk yang Tak Tercium Sendiri: Sebuah Refleksi atas Krisis Kejujuran

Kisah | 2026-06-14 12:36:15
Sumber: Pexels.Com

Apa yang terjadi jika sebuah ruang publik mendadak dikepung oleh bau busuk yang menyengat, tetapi tak seorang pun tahu dari mana sumbernya?

Cerpen “Wabah” karya Gus Mus dalam kumpulan cerpen Konvensi menggunakan premis alegoris tentang sebuah ruang public, yang mendadak dipenuhi bau busuk misterius. Bukannya berasal dari faktor eksternal seperti sampah atau bangkai, bau tersebut sebenarnya merupakan simbol dari ego dan kepalsuan manusia. Melalui cerita ini, Gus Mus tidak sedang membahas virus biologis, melainkan mengkritik realitas kemanusiaan, dan rapuhnya kesadaran kolektif masyarakat saat menghadapi krisis.

Bayangkan sebuah kumpul keluarga yang mendadak gempar karena munculnya aroma aneh nan misterius, di mana bukannya kompak mencari solusi, seisi rumah dari Kakek hingga para menantu malah sibuk baku bisik dan saling tunjuk hidung, demi mencari kambing hitam.

Sikap defensif yang merusak ini sebenarnya mencerminkan banget dengan realitas masyarakat kita saat ini, yang selalu lebih gampang menyalahkan orang lain daripada melakukan introspeksi diri. Aroma busuk tersebut sejatinya merupakan metafora dari degradasi moral, ketidakadilan, dan kebobrokan sosial yang diproduksi secara kolektif, namun ironisnya semua orang justru memilih untuk denial, dan melempar kesalahan ke pihak lain.

“Saat akal sehat tak lagi mampu menjawab terlebih setelah pemeriksaan medis memastikan seluruh anggota keluarga dalam kondisi bugar” Gus Mus menyoroti realitas sosial lain dalam budaya kita, kecenderungan mencari jalan pintas ke ranah mistik. Terimpit oleh kemelut yang melampaui nalar, mereka akhirnya memilih untuk berpaling kepada paranormal demi mendapatkan petunjuk gaib, dan solusi serbacepat. Sang Ibu bahkan membenarkan praktik tersebut dengan dalih bahwa kalangan atas, dan para pemegang kekuasaan pun lazim melakukannya demi ambisi personal.

Pada titik ini, sekat pemisah antara kepasrahan spiritual yang tulus dan tindakan takhayul yang oportunistis menjadi begitu samar. Melalui sindiran yang tajam, Gus Mus dengan cemerlang menggambarkan bagaimana kepercayaan terhadap takhayul telah mengakar kuat lintas strata dalam tatanan masyarakat Indonesia beralih fungsi menjadi candu penenang bagi siapa saja yang terdesak, mulai dari masyarakat lapisan bawah hingga jajaran elite birokrasi.

Puncak ironi dalam cerita ini tersaji saat keluarga tersebut mendatangi kediaman sang dukun, hanya untuk mendapati bahwa tempat praktik “orang pintar” itu justru berbau jauh lebih menyengat, bahkan seluruh pasien di sana tampak telah mengenakan masker. Saat melangkah kembali ke ruang publik, mereka baru menyadari bahwa aroma busuk tersebut telah bertransformasi menjadi wabah nasional yang melumpuhkan daya kritis seluruh negeri.

Melalui narasi ini, cerpen “Wabah” hadir sebagai cermin besar bagi kehidupan berbangsa kita. Wabah yang sesungguhnya bukanlah aroma misterius tersebut, melainkan memudarnya kepekaan moral serta kejujuran untuk melakukan introspeksi diri. Selama kita masih gemar menutup hidung sendiri sembari menuding pihak lain, kita akan senantiasa terperangkap dalam lingkaran setan kemunafikan yang menyesakkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image