Menulis Kebenaran Itu Berbahaya, Dari Zaman Open sampai Hari Ini
Sastra | 2026-06-14 01:02:23
Idrus menulis cerpen ini pada tahun 1948, dua tahun setelah kemerdekaan diproklamasikan, di saat orang-orang masih meminum kemenangan dan revolusi masih berbau mesiu. Dan seperti semua karya besar, cerpen ini bertahan melampaui zamannya karena persoalan yang ia angkat tidak pernah benar-benar selesai: apa yang terjadi pada seseorang yang memilih berkata jujur di tengah masyarakat yang lebih suka keindahan palsu daripada kebenaran yang tidak nyaman?Pertanyaan itu hari ini relevan dengan cara yang baru dan dalam skala yang jauh lebih besar. Indonesia mencatat salah satu angka kasus UU ITE tertinggi di Asia Tenggara. Berdasarkan data SAFEnet, ratusan kasus dilaporkan setiap tahun dengan sebagian besar korbannya adalah individu yang menuliskan sesuatu di media sosial, bukan institusi media besar. Mereka bukan aktivisme garis keras, bukan jurnalis investigasi bermodal besar. Mereka adalah orang-orang biasa yang menulis di akun pribadinya, mengeluhkan pejabat daerah, mendokumentasikan ketidakadilan yang mereka alami, atau menyuarakan keadilan publik yang tidak nyaman didengar. Dengan kata lain, mereka adalah Open-Open baru, orang-orang yang memilih terus terang dalam masyarakat yang lebih menghargai keindahan permukaan.Yang membuat cerpen Idrus terasa melampaui zamannya bukan semata-mata kisah Open yang dipenjara Kenpeitai, melainkan cara Idrus menggambarkan mekanisme represi itu bekerja. Represi tidak selalu datang dengan seragam militer dan borgol. Ia bisa datang dalam bentuk redaktur yang menyarankan kamu menulis yang menyenangkan saja. Ia bisa datang dalam wujud warga desa yang berhenti mengirim anak belajar pada Open karena ia memakai pantalon, bukan kain. Ia bisa datang dalam bentuk guru kepala yang memecat Terbuka bukan karena salah secara moral, tetapi karena membuat sistem tidak nyaman. Represi terbesar, yang paling langgeng dan paling sulit dilawan, adalah represi sosial yang tidak meninggalkan bekas fisik, yang bekerja melalui pengucilan, melalui bisik-bisik, melalui isolasi perlahan dari ekosistem tempat seseorang bergantung.
Ekosistem digital Indonesia hari ini mereproduksi mekanisme serupa dengan presisi yang mengerikan. Algoritma media sosial bekerja terus-menerus seperti redaktur dalam cerpen Idrus: ia mengamplikasi konten yang menyenangkan, menghibur, dan tidak mengancam, sementara secara sistematis menghentikan konten yang berat, kritis, dan tidak nyaman. Kreator konten yang menulis tentang korupsi desa mendapat sedikit tayangan. Kreator yang menari dengan lagu viral mendapat jutaan. Bukan karena masyarakat tidak peduli dengan korupsi, melainkan karena sistem insentif yang dibangun platform digital tidak dirancang untuk menyebarkan kebenaran, melainkan untuk memaksimalkan keterlibatan. Buka hari ini tidak perlu dipenjara Kenpeitai untuk dibungkam. Cukup algoritma tidak ditempatkan.Namun Idrus tidak menulis Open sebagai pahlawan tragis yang menghancurkan sistem. Didalamnya kejeniusan cerpen ini tersimpan. Terbuka tidak hancur. Setiap kali ia diusir dari satu jalan, ia menemukan jalan lain ke Roma yang sama, ke tujuan yang sama: berterus terang, menyuarakan kebenaran, membangunkan yang tidur. Ia berganti kostum dari guru ke mualim ke pengarang ke tukang jahit, tapi tidak berubah. Dan di dalam penjara Kenpeitai, ketika tubuhnya paling lemah, justru di sanalah ia menemukan yang paling bebas, bahwa kemerdekaan jasmani boleh diambil orang lain, tetapi kemerdekaan rohaninya tidak dapat diambil oleh seorang pun yang dapat mengambilnya.Kalimat itu, yang ditulis Idrus pada 1948, terasa seperti surat yang dikirim ke masa depan untuk semua penulis, kreator, dan jurnalis Indonesia yang hari ini menghadapi ancaman pasal karet, pelaporan beruntun, dan tekanan sosial untuk mengubah sudut pandang menjadi lebih ramah, lebih aman, lebih tidak mengancam. Bahwa represi bisa mengambil visibilitas, mengambil pekerjaan, bahkan mengambil kebebasan fisik, tetapi tidak bisa mengambil cara seseorang melihat dunia dan memilih untuk jujur tentang apa yang dilihatnya.Ekosistem sastra Indonesia sendiri tidak jauh berbeda kondisinya dari zaman Open. Hasil survei Komite Buku Nasional menunjukkan bahwa sebagian besar penulis Indonesia tidak bisa hidup dari menulis semata. Honorarium yang kecil, distribusi buku yang terbatas, dan industri penerbitan yang lebih menyukai buku self-help dan fiksi romantis dari pada karya yang menantang, semuanya menciptakan tekanan bagi penulis untuk menyesuaikan diri dengan selera pasar atau mati secara ekonomi. Ini adalah versi modern dari redaktur dalam cerpen Idrus: tidak melarang secara eksplisit, tidak memenjara, hanya tidak memberikan ruang. Dan ketiadaan ruang itu, dalam jangka panjang, sama destruktifnya dengan penjara.Yang tersisa dari Jalan Lain ke Roma bukan rasa putus asa, melainkan sesuatu yang lebih keras kepala: keyakinan bahwa jalan menuju kebenaran tidak harus satu. Terbuka tidak pernah menemukan jalan yang mudah. Tidak ada satu profesi pun yang memberikan keamanan dan integritas sekaligus. Tapi ia sampai. Dengan cara yang tidak lazim, dengan biaya yang tidak kecil, dengan tubuh yang lebih kurus dan jiwa yang lebih gemuk, ia sampai ke Roma versinya sendiri.Cerpen yang ditulis tiga perempat abad lalu itu masih berdiri tegak sebagai cermin yang menyakitkan namun perlu. Bahwa masyarakat yang memberikan kejujuran bukan hanya masyarakat zaman Jepang. Dan bahwa jalan lain ke Roma itu selalu ada, tapi tidak pernah gratis untuk dilalui.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
