Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alfin Nur Ridwan

Ayah yang Tidak Pernah Satu Saf Bersamaku

Parenting | 2026-07-11 21:19:40
(Sumber foto: unsplash.com)

Azan Maghrib baru saja berkumandang ketika dua bocah laki-laki berlari kecil keluar rumah. Di tangan mereka masing-masing tergenggam peci yang dikenakan sambil berlari. Sang kakak, Fakhri, sesekali menoleh ke belakang memastikan adiknya, Fikri, tidak tertinggal. Di beranda rumah, seorang lelaki paruh baya duduk sambil fokus menatap layar gadgetnya.

"Jangan lari-lari terus! Nanti pas sholat malah bau keringat," teriaknya.

"Iya, Yah!" jawab keduanya hampir bersamaan.

"Sana berangkat ke masjid keburu qomat. Jangan bercanda di masjid."

"Iya!"

Barulah setelah kedua anaknya menghilang di tikungan menuju masjid, lelaki itu masuk kembali ke dalam rumah. Bukan untuk mengambil wudhu. Bukan pula untuk bersiap mengikuti jamaah. Ia justru mengambil remote televisi, menyalakan layar, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.

Lelaki itu bernama Rahman, ayah dari kedua anak tersebut.

Sudah beberapa tahun Rahman selalu melakukan hal yang sama. Setiap kali azan berkumandang, ia tak pernah lupa mengingatkan kedua anaknya agar segera ke masjid. Ia hafal betul keutamaan sholat berjamaah. Ia tahu pahala dua puluh tujuh derajat lebih besar daripada sholat sendirian. Bahkan ia sering memberikan sebuah ancaman terkait siksaan bagi mereka yang tidak sholat kepada anak-anaknya.

Namun, semua itu berhenti sebatas ucapan.

"Yah nggak ikut?" tanya istrinya suatu kali. "Nanti saja." tegasnya dengan santai. "Nanti kapan?"

Besoknya alasannya berubah. "Lagi banyak pikiran." Hari berikutnya lagi ketiduran. Lusa, sedang mengerjakan deadline kerjaan. Alasan selalu datang lebih cepat daripada niat.

Anehnya, Rahman tetap merasa dirinya telah menjadi ayah yang baik. Bukankah ia sudah menyuruh anak-anaknya sholat? Bukankah tugas orang tua memang mengingatkan? Begitulah pikirnya.

Malam itu, selepas sholat Maghrib berjamaah, Fakhri dan Fikri pulang sambil bercakap-cakap. Begitu membuka pintu rumah, keduanya langsung menghampiri ayah mereka yang masih duduk di ruang tamu.

"Yah!" seru Fakhri lebih dulu.

"Ada apa?"

"Tadi Fikri bercanda pas sholat." Ujar Fakhri mengadu kepada ayahnya.

Belum sempat Rahman menjawab, Fikri buru-buru menyela.

"Nggak! Justru Kak Fakhri yang bercanda. Dia ngobrol sama temannya."

"Itu temanku doang yah yang ngobrol!"

"Bohong!"

"Kamu tuh yang bercanda sama temanmu juga!" tegas Fakhri.

"Bukan!"

Suara keduanya saling bertumpuk. Masing-masing bersikeras bahwa dirinya benar. Seketika Rahman sedikit menaikkan suaranya, meminta keduanya diam.

"Sudah... satu-satu."

Ruangan itu mendadak hening. Rahman memandang wajah Rafi, lalu menoleh ke Fikri. Kemudian kembali memandang Rafi. Aneh. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak memiliki hak untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Kalau saja tadi ia ikut berjamaah, tentu ia tahu siapa yang benar-benar bercanda. Ia bisa melihat sendiri, atau setidaknya mendengar sendiri kejadian di saf anak-anak. Namun ia tidak ada di sana. Ia tidak menyaksikan apa pun, melainkan hanya menerima sebuah laporan.

"Tadi ayah di mana?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut Fikri dengan polos.

Rahman terdiam.

"Kalau ayah ikut sholat di masjid, ayah pasti tahu siapa yang bercanda."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Tidak keras, tidak pula bernada menyalahkan. Namun entah mengapa, rasanya jauh lebih tajam daripada bentakan. Rahman menelan ludah. Ia merasa seperti sedang berdiri di depan cermin yang selama ini sengaja ia tutupi.

Selama bertahun-tahun ia sibuk menyuruh anak-anaknya berjalan ke arah cahaya, sementara dirinya sendiri memilih tetap duduk di tempat gelap. Ia meminta mereka disiplin, tetapi ia sendiri tak pernah hadir. Ia meminta mereka khusyuk, tetapi ia bahkan tak pernah memulai sholat.

Bagaimana mungkin seorang ayah ingin melihat jejak langkah anak-anaknya menuju masjid, sedangkan jejak kakinya sendiri tak pernah sampai ke pelatarannya?

Malam itu televisi tetap menyala, namun Rahman tak lagi melihat layar. Yang berputar-putar di kepalanya justru satu pertanyaan sederhana. Apakah selama ini anak-anak mendengar nasihatku, atau hanya melihat ketidakkonsistenanku?

Sejak malam itu, Rahman berubah. Bukan berubah karena ceramah, bukan pula karena ditegur orang dari jama’ah tabligh. Ia berubah karena merasa kalah oleh kepolosan dua anaknya sendiri.

Esok Subuh, sebelum azan selesai berkumandang, ia sudah berdiri di depan kamar Fakhri dan Fikri.

"Ayo bangun nak." Ucap Rahman dengan lembut kepada kedua anaknya.

Kedua anak itu membuka mata dengan wajah bingung.

"Ayah... mau ke mana?"

"Ke masjid."

"Sendiri?"

Rahman tersenyum.

"Nggak. Kita sama-sama."

Untuk pertama kalinya mereka bertiga berjalan berdampingan menuju masjid. Udara Subuh masih dingin, jalanan masih sepi, lampu-lampu rumah belum semuanya padam, dan sesekali Rahman menanyakan terkait apa mimpi dari kedua anaknya ketika tidur semalam.

Di saf pertama, Rahman berdiri di antara kedua anaknya. Saat imam mengucapkan takbiratul ihram, ada sesuatu yang terasa meleleh dari dalam dirinya. Bukan sekadar rasa malas yang selama ini mengikatnya, melainkan kesombongan halus yang membuatnya merasa cukup menjadi orang tua hanya dengan memberi perintah.

Kini ia mengerti, anak-anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Hari-hari berikutnya, Rahman tak lagi sibuk bertanya apakah anak-anaknya sudah sholat.

Karena setiap kali azan berkumandang, mereka berangkat bersama. Ia tak lagi harus berteriak dari teras rumah. Tak lagi perlu mengulang nasihat yang sama. Sebab tanpa disadari, langkah kaki seorang ayah yang berjalan menuju masjid telah menjadi kalimat paling fasih yang pernah didengar anak-anaknya.

Rahman akhirnya memahami satu hal yang selama ini luput dari dirinya, bahwa nasihat memang dapat didengar oleh telinga, tetapi keteladanan selalu sampai lebih dulu ke hati. Dan sejak hari itu, sebelum meminta anak-anaknya menjadi hamba yang taat, ia terlebih dahulu berusaha menjadi seorang ayah yang pantas diikuti.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image