Membaca Idrus: Cinta, Perang, dan Manusia Indonesia yang Gelisah
Sastra | 2026-06-11 18:18:37
Ada karya sastra yang tetap terasa dekat meskipun ditulis dari masa yang jauh. Ia tidak hanya menyimpan cerita, tetapi juga merekam kegelisahan manusia pada zamannya. Kesan seperti itulah yang muncul ketika membaca Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus. Buku ini tidak sekadar menghadirkan kisah-kisah pendek, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia Indonesia hidup di tengah tekanan sejarah: pendudukan Jepang, perang, semangat kebangsaan, kecurigaan sosial, dan pencarian arah hidup.
Melalui cerpen “Ave Maria”, “Fujinkai”, “Oh... Oh... Oh!”, dan “Jalan Lain ke Roma”, Idrus tidak menulis sejarah dengan cara yang megah. Ia tidak sibuk menampilkan tokoh-tokoh besar atau pidato-pidato panjang tentang nasionalisme. Sebaliknya, ia mendekati sejarah dari sudut yang lebih manusiawi: dari cinta yang terluka, dari rakyat kecil yang tertekan, dari orang-orang yang dicurigai, dan dari manusia biasa yang berusaha menemukan jalan hidupnya sendiri.
Dalam “Ave Maria”, Idrus membuka cerita melalui persoalan cinta. Namun, cinta dalam cerpen ini bukan cinta yang manis dan sederhana. Ada konflik batin, pengorbanan, dan ketegangan antara perasaan pribadi dengan keadaan sosial yang tidak mudah. Tokoh-tokohnya tidak hanya berhadapan dengan urusan hati, tetapi juga dengan situasi zaman yang membuat hidup terasa rapuh. Cinta menjadi sesuatu yang indah, tetapi sekaligus menyakitkan, karena tidak semua perasaan dapat berakhir sesuai harapan.
Di sinilah Idrus menunjukkan kepekaannya sebagai pengarang. Ia tidak menjadikan cinta sebagai pelarian dari kenyataan. Justru melalui cinta, pembaca diajak melihat betapa kerasnya kehidupan pada masa itu. Perang dan penjajahan tidak hanya merusak kota, ekonomi, atau politik, tetapi juga masuk ke ruang paling pribadi manusia: perasaan, keluarga, dan masa depan. “Ave Maria” terasa kuat karena ia memperlihatkan bahwa di tengah zaman yang kacau, manusia tetap ingin mencintai, meskipun cinta itu sendiri sering harus berhadapan dengan luka.
Jika “Ave Maria” bergerak dalam wilayah batin, “Fujinkai” membawa pembaca pada wajah sosial masa pendudukan Jepang. Fujinkai berkaitan dengan organisasi perempuan pada masa Jepang, tetapi Idrus tidak menggambarkannya dengan nada yang penuh pujian. Ia justru memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat sampai ke lapisan paling sehari-hari. Perempuan, keluarga, dan rakyat biasa tidak bisa sepenuhnya lepas dari tekanan zaman.
Melalui cerpen ini, penjajahan tampak bukan hanya sebagai kekuasaan militer, melainkan juga sebagai sistem yang mengatur cara orang berpikir dan bertindak. Orang-orang hidup dalam suasana takut, waspada, dan penuh kecurigaan. Setiap tindakan bisa dinilai, setiap pilihan bisa dicurigai, dan setiap orang seolah harus berhati-hati agar tidak dianggap berada di pihak yang salah. Idrus berhasil menunjukkan bahwa penjajahan tidak hanya menindas secara fisik, tetapi juga menciptakan rasa tidak aman dalam kehidupan sosial.
Suasana kecurigaan itu juga terasa dalam “Oh... Oh... Oh!”. Judulnya terdengar seperti keluhan, keterkejutan, atau sindiran. Di balik judul yang tampak sederhana itu, Idrus memperlihatkan ironi kehidupan manusia pada masa perang. Dalam keadaan yang kacau, batas antara benar dan salah sering menjadi kabur. Seseorang dapat dianggap pengkhianat, dicurigai, atau disalah pahami, padahal kenyataan hidupnya jauh lebih rumit daripada penilaian orang lain.
Cerpen ini terasa penting karena menunjukkan bahwa perang tidak hanya melahirkan keberanian, tetapi juga ketakutan dan prasangka. Ketika masyarakat berada dalam tekanan, orang mudah saling menilai tanpa benar-benar memahami. Di sini Idrus tidak tampil sebagai pengarang yang menghakimi. Ia lebih seperti pengamat yang tajam: membiarkan pembaca melihat sendiri betapa rapuhnya manusia ketika hidup dalam situasi yang serba tidak pasti.
Sementara itu, “Jalan Lain ke Roma” menghadirkan persoalan yang lebih luas: pencarian arah hidup. Judulnya mengingatkan pada ungkapan bahwa banyak jalan menuju tujuan. Namun, Idrus tidak menggambarkan jalan hidup sebagai sesuatu yang mudah. Tokohnya tampak berusaha menemukan bentuk kehidupan yang dianggap benar, tetapi jalan itu tidak selalu lurus. Ada perubahan, kegagalan, kegelisahan, dan keinginan untuk tetap berarti di tengah keadaan yang terus bergerak.
Cerpen ini menarik karena terasa dekat dengan kehidupan pembaca masa kini. Kita mungkin tidak lagi hidup pada masa pendudukan Jepang, tetapi pencarian jalan hidup tetap menjadi persoalan yang akrab. Banyak orang hari ini juga sedang mencari “Roma”-nya masing-masing: pendidikan, pekerjaan, cita-cita, identitas, atau tempat yang membuat hidup terasa bermakna. Melalui cerpen ini, Idrus seakan mengingatkan bahwa hidup tidak selalu menyediakan satu jalan yang pasti. Kadang manusia harus berbelok, tersesat, lalu menemukan jalan lain untuk tetap melangkah.
Keempat cerpen tersebut memperlihatkan kekuatan Idrus dalam memotret manusia Indonesia. Ia tidak membuat tokoh-tokohnya selalu gagah, bersih, atau heroik. Tokoh-tokohnya bisa ragu, takut, jatuh cinta, salah paham, bahkan terlihat lemah. Namun, justru karena itulah mereka terasa nyata. Idrus menulis manusia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana seharusnya menurut slogan-slogan besar.
Membaca Idrus hari ini membuat kita sadar bahwa sejarah tidak hanya berisi nama tokoh, tahun peristiwa, atau pergantian kekuasaan. Sejarah juga berisi manusia biasa yang hidup dengan rasa cemas, cinta, luka, dan harapan. Dari “Ave Maria” hingga “Jalan Lain ke Roma”, Idrus memperlihatkan bahwa sastra mampu menangkap sisi sejarah yang sering luput dari catatan resmi: suara batin manusia.
Karena itu, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma tetap layak dibaca oleh pembaca masa kini. Karya ini bukan sekadar peninggalan sastra lama, tetapi cermin untuk memahami manusia dalam tekanan zaman. Idrus mengajak kita untuk lebih peka, tidak mudah menghakimi, dan melihat bahwa di balik setiap pilihan hidup selalu ada cerita yang lebih dalam. Pada akhirnya, cerpen-cerpen Idrus bukan hanya berbicara tentang masa Jepang atau masa sekitar kemerdekaan, melainkan tentang manusia yang terus berusaha bertahan, mencintai, dan mencari jalan pulang bagi dirinya sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
