Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Robby Effendi

AI Dukung Spanyol, Hati Ini Tetap Inggris

Olahraga | 2026-06-12 11:28:49

Ada sesuatu yang selalu terasa berbeda setiap kali Piala Dunia datang. Empat tahun sekali, dunia seperti melambat sejenak hanya untuk melihat dua puluh dua orang mengejar satu bola. Tetapi dari situlah miliaran manusia menemukan alasan untuk kembali duduk bersama.

Warung kopi hidup sampai dini hari. Grup percakapan kembali ramai. Orang-orang yang biasanya bicara soal pekerjaan, politik, dan kerasnya hidup tiba-tiba berubah menjadi pelatih dadakan. Semua punya prediksi. Semua punya keyakinan.

Dan anehnya, semua tampak bahagia melakukannya.

Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah. Tiga negara menjadi tuan rumah sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pesertanya bertambah menjadi 48 negara. Bahkan sebelum bola pertama ditendang, superkomputer sudah sibuk menghitung siapa yang paling mungkin menjadi juara dunia.

Kini bukan hanya manusia yang menebak.

AI juga ikut meramal.

ChatGPT mendukung Spanyol. Gemini juga Spanyol. Beberapa simulasi statistik menjagokan Prancis. Argentina tetap diperhitungkan karena mental juara mereka belum hilang sejak Lionel Messi mengangkat trofi di Qatar.

Tetapi diam-diam, banyak hati tetap memilih Inggris.

Mungkin karena Inggris selalu punya cerita yang menyedihkan sekaligus romantis. Negara yang selama puluhan tahun terus percaya bahwa “football will come home”, tetapi berkali-kali pulang dengan kecewa. Generasi emas datang silih berganti. Dari era David Beckham sampai Harry Kane. Dari Steven Gerrard sampai Declan Rice. Harapan selalu besar, hasilnya sering menggantung.

Kini mereka mencoba lagi bersama Thomas Tuchel. Michael Owen bahkan melihat Tuchel membawa semangat dan kedisiplinan baru, sambil tetap mewarisi fondasi yang dibangun Gareth Southgate. Inggris terasa lebih matang, lebih tenang, tetapi tetap menyimpan tekanan yang sama: mengakhiri penantian enam puluh tahun.

Sepak bola akhirnya masuk ke dapur algoritma. Segalanya dihitung: probabilitas kemenangan, kedalaman skuad, sampai peluang cedera pemain. Tetapi justru di situlah sepak bola terasa menarik. Karena bola sering kali menolak tunduk kepada kepastian.

Tidak ada AI yang benar-benar bisa menghitung rasa gugup. Tidak ada algoritma yang mampu membaca beban doa jutaan orang dari satu bangsa. Sebab sepak bola kadang dimainkan bukan hanya dengan kaki, tetapi juga dengan harapan.

Dan mungkin karena itulah banyak orang tetap setia kepada Inggris.

Ya, kadang sepak bola memang seperti hubungan yang toxic. Sudah tahu akan mengecewakan, tetap saja dipercaya.

AI boleh menghitung peluang. Superkomputer boleh membuat ribuan simulasi. Tetapi selama peluit belum dibunyikan, manusia akan tetap percaya kepada kemungkinan.

Karena pada akhirnya, Piala Dunia tidak pernah benar-benar hanya tentang sepak bola. Ia adalah tentang manusia yang masih suka berharap.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image