Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Al Muqorrobin - Sijambe

Mukjizat Al-Qur'an dan Pilihan Akhir Manusia

Agama | 2026-06-11 19:40:52

PEKALONGAN – Di era digital saat ini, banjir informasi sering kali membuat manusia mudah meragukan banyak hal, mulai dari berita palsu hingga kebenaran yang hakiki. Kita sering kali kesulitan membedakan informasi yang benar dan informasi yang salah, serta tidak tahu bagaimana cara menguji kebenarannya.

Ustaz Choirudin menyampaikan materi kajian kepada para jama'ah yang hadir.

Di tengah tantangan pemikiran modern tersebut, Masjid Al-Muqorrobin Sijambe Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sijambe kembali hadir memberikan tuntunan ruhani melalui pengajian rutin malam Rabu pada Selasa (09 Juni 2026) yang bertepatan dengan 24 Zulhijah 1447 H. Membahas Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 23-25, Ustadz Choirudin mengajak jamaah bakda Maghrib untuk merenungkan kembali posisi Al-Qur'an sebagai pedoman hidup mutlak manusia di akhir zaman.

Melanjutkan Estafet Kajian: Dari Fasilitas Hidup Menuju Wahyu

Sebelum mengupas mukjizat Al-Qur'an, Ustadz Choirudin mengajak jamaah menyegarkan ingatan agar ketersambungan ide dari pertemuan sebelumnya (ayat 21-22) tetap terjaga dengan baik.

"Pada pembahasan lalu, kita telah memahami bahwa Allah SWT, Tuhan Sang Maha Pencipta, tidak hanya menciptakan manusia begitu saja. Dia juga memanjakan kita dengan tempat hidup yang nyaman berupa hamparan bumi yang mudah dipijak, atap langit yang melindungi, serta kecukupan rezeki. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menyembah-Nya semata tanpa membuat tandingan bagi-Nya, sesuatu yang sebenarnya diakui oleh kesadaran terdalam kita," ujar Ustadz Choirudin mereview materi lalu.

Beliau melanjutkan bahwa setelah Allah SWT menetapkan sifat ketuhanan (Rabb dan Ilah), maka Dia menetapkan kerasulan dan kenabian kepada hamba pilihan-Nya, dan langkah berikutnya adalah menetapkan kitab suci sebagai pedoman resmi bagi kehidupan manusia.

Tantangan Terbuka bagi Para Peragu

Ustadz Choirudin kemudian membacakan Ayat 23: "Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."

Beliau menjelaskan bahwa kita ditakdirkan hidup di periode akhir sejarah dunia yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dengan wahyu penutup, Al-Qur'an. Dahulu, orang-orang Arab menganggap Al-Qur'an hanyalah karangan buatan Rasulullah. Lewat ayat ini, Allah menantang siapa pun—bukan cuma perorangan, melainkan secara kolektif—untuk membuat satu surah saja yang setara.

"Dalam lembaran sejarah, beberapa orang pernah mencoba menjawab tantangan ini, tetapi mereka semua gagal total. Al-Qur'an memiliki ketepatan pilihan kata, kekhasan pola dan ritme kalimat, kedalaman dan kepadatan makna, serta keindahan bahasa yang luar biasa yang tak akan pernah bisa ditiru oleh manusia," papar Ustadz Choirudin.

Jama'ah pria menyimak kajian secara khidmat.

Ancaman Nyata dan Kabar Gembira di Ujung Jalan

Konsekuensi dari sikap manusia terhadap tantangan wahyu ini dibedah secara kontras pada dua ayat berikutnya. Pada Ayat 24, Allah menegaskan kegagalan manusia: "Jika kamu tidak (mampu) melakukannya dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir."

"Dengan tantangan yang telah diberikan sebelumnya dan pastinya kegagalan yang akan didapatkan bagi siapa pun yang mencobanya, maka jika manusia tetap memilih kufur dan meragukannya, ancamannya adalah api neraka yang sangat panas membakar, di mana manusia dan batulah yang menjadi bahan bakarnya," tegas pemateri.

Sebaliknya, pemandangan indah disajikan melalui Ayat 25: "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan di sana, mereka berkata, 'Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.' Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (juga) memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya."

Ustadz Choirudin menjabarkan bahwa orang yang meyakini bahwa Al Qur'an adalah firman Allah SWT yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad SAW, dan mengamalkan amal saleh yang diajarkan dan dituntunkan di dalamnya akan dianugerahi surga. Tempat tersebut digambarkan sebagai taman yang teduh, hijau, dipenuhi pepohonan berbuah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai bersih, bening, dan menyegarkan.

"Buahnya selalu tersedia, mudah dipetik, dan tampak familier karena sudah mereka kenali di dunia, tetapi hadir dengan kualitas dan rasa yang jauh berbeda keunggulannya. Mereka juga dianugerahi pasangan-pasangan yang selalu dan terjaga kesuciannya serta menyenangkan hati dan pandangan. Namun sesungguhnya, keindahan surga yang disiapkan Allah SWT sebagai anugerah kekal ini jauh melampaui apa yang mampu dibayangkan oleh imajinasi manusia," jelas beliau secara runtut.

Jama'ah perempuan menyimak kajian di teras masjid.

Kesimpulan: Menentukan Jangkar Iman Kita

Kajian malam ini memberikan simpulan bahwa Al-Qur'an bukanlah sekadar kitab bacaan, melainkan mukjizat hidup yang kebenarannya tidak terbantahkan oleh ruang dan waktu. Ketika Allah SWT telah memfasilitasi bumi tempat kita berpijak, maka Al-Qur'an adalah peta navigasi agar kita tidak tersesat dalam melangkah.

Mari kita hilangkan segala keraguan di dalam dada. Sudahkah kita menjadikan Al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam setiap keputusan dan tindakan harian kita, atau kita masih sibuk mencari dan mengikuti kebenaran buatan manusia yang semu? Semoga kita termasuk dalam golongan yang menyambut kabar gembira-Nya dengan iman dan istiqomah dalam beramal sholeh.

Pengolah: Redaksi Publikasi Online

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image