Belajar di Era AI: Solusi atau Distorsi?
Teknologi | 2026-06-10 16:00:40
Perkembangan teknologi telah membuktikan bahwa beberapa proses atau kegiatan manusia dapat dilakukan dengan instan. Kemudahan pertukaran informasi menjadi benefit unggulan yang sebelumnya sulit didapatkan. Termasuk kegiatan belajar mengajar yang mulai diimbau untuk memanfaatkan teknologi, mengubah proses-proses manual menjadi proses yang terotomatisasi dan memangkas waktu agar target tercapai dengan cepat dan efisien. Data dari GoodStats menyebutkan 93% GenZ telah menggunakan AI untuk kegiatan sehari-hari. Tak terkecuali mahasiswa, sebagai lulusan pelajar yang dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja, teknologi dan mahasiswa tidak mungkin dipisahkan.
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa. Sifat fleksibilitas dan interaktif dari berbagai AI yang tersedia menjadi jalan pintas ketika menemukan kesulitan. Pergeseran kebiasaan meminjam buku di perpustakaan menjadi berlangganan platform AI makin pesat. Tidak dapat dipungkiri AI mampu menjawab pertanyaan teori-teori mendasar yang sumbernya didapatkan dari berbagai peramban. AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dapat diakses dengan gratis meskipun terbatas. Mereka tidak hanya menjawab pertanyaan tetapi mampu membuat rangkuman jurnal, kuis, flashcard, bahkan web interaktif untuk belajar. Selain itu, kehadiran AI membantu mahasiswa yang memiliki perpustakaan atau finansial terbatas dalam mengakses buku-buku materi.
Berbagai platform AI tersebut juga dapat terpersonalisasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Mahasiswa dapat mengubah pengaturan sesuai dengan gaya belajar mereka, contohnya untuk mahasiswa disabilitas atau ketika sedang mempelajari teori maupun buku yang tidak tersedia di bahasa ibu. Dibanding sebelum datangnya AI, mahasiswa perlu mengeluarkan uang lebih untuk mencari tutor pribadi sehingga platform-platform tadi menjadi solusi yang dipilih mahasiswa. Pada tahun 2018, Sandra Connelly, dosen biologi dari Rochester Institute Technology, memanfaatkan AI sebagai translator dengan media headset untuk mahasiswa tuna rungu di kelasnya. Belum lagi akhir-akhir ini banyak inovasi dari dunia akademik yang memanfaatkan AI untuk membantu masyarakat sekitar, seperti kacamata RunSight yang merupakan inovasi AI untuk membantu tuna netra ketika berlari, Aenose untuk mendeteksi kesegaran daging, dan masih banyak lagi.
Makin maraknya penggunaan AI, ternyata dampak negatifnya tanpa kita sadari hadir di sela kesibukan kita. Fenomena autopilot akademik atau copy paste AI yang dilakukan oleh mahasiswa telah menjadi kebiasaan. Mahasiswa yang malas cenderung bergantung kepada AI sehingga otot dalam otak yang biasanya digunakan untuk berpikir kemampuannya berkurang. Secara tidak langsung, AI berpotensi mengikis kemampuan berliterasi dan berinovasi karena mahasiswa cenderung hanya mengandalkan prompt, menjadikan hasil pemikiran mahasiswa bersifat homogen atau sama semua. Jawaban-jawaban esai kehilangan unsur dari sudut pandang penulis karena mahasiswa sekadar copy paste jawaban dari AI.
Sally Binks dalam jurnalnya yang berjudul “Why Desirable Difficulties ‘Work’: A Review of the Evidence From Cognitive and Educational Psychology and Some Caveats for the Health Professions Education Field” mengatakan bahwa dalam psikologi kognitif dan pendidikan, praktik belajar yang sengaja menghadirkan kesulitan seperti formative testing, interleaved practice, spaced practice, dan productive failure, meskipun terkesan lama, tetapi justru meningkatkan ingatan jangka panjang dan kemampuan untuk memahami materi. Penulis menekankan bahwa proses berpikir yang “terpaksa” atau tidak instan ini membangun mekanisme kognitif, meta-kognitif, motivasi, dan afektif pada individu yang tidak terbentuk ketika mahasiswa hanya mengandalkan solusi instan seperti AI. Belum lagi sumber AI sendiri adalah daur ulang dari prompt sebelumnya sehingga AI menghasilkan output yang rata-rata sama dari ide-ide yang sebelumnya sudah ada.
Dampak negatif AI dapat terlihat jelas dari gangguan yang terjadi di berbagai bidang, termasuk seni dan pemrograman. Dalam bidang seni, kemampuan AI untuk menghasilkan gambar hanya dari perintah teks merusak ekosistem kerja ilustrator, sehingga jasa gambar manual semakin ditinggalkan. Mahasiswa kini tidak hanya bersaing dengan sesama mahasiswa, tetapi juga harus berhadapan dengan AI yang dapat menghasilkan karya lebih cepat. Di bidang pemrograman, muncul fenomena cargo cult programming di kalangan mahasiswa, yaitu kondisi ketika pembuat program cenderung tidak memahami struktur dan logika kode yang mereka sendiri menyusun. Alex Ewerlöf dalam artikelnya menekankan bahwa kita tidak seharusnya hanya tahu “apa” yang dikerjakan, tetapi juga harus memahami “bagaimana” dan “mengapa” sesuatu dikerjakan agar tidak terjebak dalam praktik ritual tanpa pemahaman mendalam.
Salah satu contoh nyata penyalahgunaan AI dalam akademik adalah kasus tim peneliti Indonesia yang diduga memanipulasi riset dalam sebuah konferensi di Denmark. Kasus ini menjadi pukulan bagi dunia akademik Indonesia karena memicu skeptisisme masyarakat terhadap keorisinalitasan karya ilmiah. Masyarakat umum mulai mudah curiga terhadap validitas dan genuinitas karya-karya akademik, sehingga kepercayaan terhadap integritas penelitian terganggu. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tanpa pemahaman konseptual tidak hanya merugikan proses belajar, tetapi juga merusak integritas akademik dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
Dari refleksi tersebut, kita perlu mengambil jalan tengah. AI boleh digunakan sebagai alat bantu tetapi tidak boleh sebagai cara cepat untuk menyelesaikan semua proses. Mahasiswa harus tau kapan menggunakan AI dan kapan harus membatasi diri. Boleh jika ingin brainstorming tetapi tidak untuk eksekusi keseluruhan. Selain itu, dosen juga dapat membuat tugas yang “AI-proof” atau sifat pengerjaannya membutuhkan pemikiran kritis dari mahasiswa itu sendiri. Pemerintah juga dapat membuat program akademik yaitu Literasi AI yang tidak hanya untuk mahasiswa tetapi juga pelajar tentang cara mengevaluasi hasil dari AI sehingga tidak menelan mentah-mentah informasi yang belum tentu valid. Nyatanya, sejauh apapun perkembangan AI, mereka tidak akan bisa menggantikan kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis berdasarkan pendapat pribadi. Motivasi mahasiswa untuk terus belajar dan mengerjakan tugas dengan usaha dan hasil pemikiran sendiri perlu ditingkatkan sehingga dunia akademik dapat berkembang ke arah positif yang menjanjikan masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
