Peh Cun: Tradisi Penghormatan yang Lahir dari Air Mata dan Pengkhianatan
Sejarah | 2026-06-09 14:38:21Setiap tanggal 5 bulan Go Gwee, masyarakat Tionghoa merayakan Peh Cun (Duanwu Jie), sebagai bentuk penghormatan dan mengenang patriotisme seorang negarawan asal Tiongkok yang bernama Qu Yuan. Qu Yuan merupakan seorang menteri Negara Chu yang jujur, bijaksana, dan setia. Namun di suatu hari, ia mengalami kekecewaan dan bersedih, karena raja tidak menghargai kesetiaannya, dan Qu Yuan diusir dan diasingkan oleh pejabat dan masyarakat Chu.
Hingga pada suatu ketika, Qu Yuan bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke sungai Miluo. Para nelayan yang mengetahui hal tersebut mencari mayat Qu Yuan dengan menaiki perahu naga karena kepercayaan adat bahwa sang naga bisa membantu menemukan tubuh Qu Yuan dari dasar sungai. Masyarakat dan nelayan yang mencari jasad Qu Yuan, melemparkan bakcang ke sungai agar tubuh Qu Yuan tidak dimakan oleh hewan air, dan dianggap untuk membuang sial. Berdasarkan legenda itulah, tradisi Peh Cun dirayakan setiap tahun untuk memperingati dan memberikan penghormatan. 19 Juni 2026 menjadi hari perayaan Peh Cun di tahun ini.
Acara Peh Cun yang diadakan di Indonesia tidak menetap dan berubah setiap tahunnya, sesuai dengan konversi kalender Imlek ke dalam kalender Masehi. Acara ini dilaksanakan untuk menyambut datangnya musim panas dan memperingati patriotisme Qu Yuan. Tradisi Peh Cun menjadi salah satu peringatan yang istimewa bagi masyarakat Tionghoa. Tradisi ini telah menyebar hingga ke seluruh penjuru dunia melalui migrasi yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa. Ciri khas dari tradisi Peh Cun yakni perlombaan perahu naga dan tradisi memakan bakcang dan kwecang.
Perahu naga dan Peh Cun adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Peh Cun terdiri atas dua kata yaitu Peh berarti dayung atau mendayung, dan Cun berarti perahu. Dua kata ini kemudian didefinisikan sebagai sebuah tradisi lomba mendayung perahu naga. Bakcang sendiri merupakan kudapan tradisional Tionghoa berbahan dasar beras atau beras ketan yang diisi dengan daging dan berbagai lauk, seperti daging babi, jamur, telur asin, kacang, dan bahan lainnya, yang kemudian dibalut dengan daun bambu hingga membentuk piramida.
Sedangkan kwecang merupakan kue tradisional Tionghoa berbahan dasar beras ketan yang dicampur dengan air abu, sehingga memiliki tekstur yang kenyal, yang dibalut dengan daun bambu berbentuk piramida dan disajikan dingin dengan siraman air gula merah yang kental dan manis. Makna dari betuk piramida ini adalah sudut puncak melambangkan Tuhan, sementara tiga sudut bawah melambangkan tiga unsur alam yakni air, bumi, dan udara. Posisi bakcang dan kwecang akan selalu menjulang ke atas, artinya mengarah kepada keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan manusia sebagai makhluk berjiwa berada di tengah-tengah bagian piramida.
Berbagai ritual lain yang dilaksanakan masyarakat Tionghoa Konghucu adalah melakukan sembahyang di rumah atau ke kelenteng, kemudian membasuh kepala dan tangan dengan air berkah, dan mendirikan telur ayam mentah. Sembahyang dilakukan sebagai bentuk peghormatan kepada leluhur. Kemudian membasuh kepala dan tangan dengan air berkah ini dilaksanakan tepat pada pukul 12.00, yang dipercayai dapat menyucikan diri dan melindungi tubuh dari penyakit. Dan makna mendirikan telur di tengah hari sekitar pukul 11.00 – 13.00 yaitu dipercaya membawa keberuntungan.
Tradisi Peh Cun dengan mengadakan prlombaan perahu naga ini, diselenggarakan serentak diberbagai kota di Indonesia setiap tahunnya, seperti di Palembang, Yogyakarta, Jakarta, hingga Tanggerang. Perayaan Peh Cun di Sungai Cisadane, Tanggerang merupakan salah satu yang tertua dan terkenal di Indonesia. Salah satu bukti mengenai keberadaan tradisi Peh Cun ini berdasarkan cerita sejarah mengenai perahu naga Empeh Pe Cun yang disumbang oleh Kapitan Oey Khe Tay untuk Kelenteng Boen Tek Bio pada abad ke-19.Dalam perlombaan, tidak hanya perahu naga saja yang dilombakan, namun juga perahu pakpak, yaitu perahu tanpa hiasan.
Perahu naga sejatinya merupakan perahu dengan bagian depan dihiasi motif kepala naga, sedangkan bagian belakang dihiasi motif ekor naga. Lomba perahu ini dibagi dalam tiga tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan tahap perayaan kemenangan. Saat lomba sedang berlangsung, dua alat music disertakan ke dalam setiap perahu yaitu tambur Peh Cun dan gembreng dibunyikan sebagai pertanda atau aba-aba.
Pada umumnya, perahu naga memiliki panjang sekitar 20-35 meter, serta membutuhkan 30-60 tenaga manusia untuk mengayuh dayungnya, tegnatung ukuran atau besar perahunya. Sepanjang perlombaan, tim perahu naga akan mengayuhkan dayung dengan ritme gerakan yang serentak dan harmonis yang cepat. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, tim perahu naga yang berhasil memenangkan perlombaan perahu naga ini, dipercaya akan selalu mendapatkan keberuntungan dan hidup bahagia di sepanjang tahun.
Kemeriahan selama berlangsungnya perayaan Peh Cun, dimaknai sebagai sebuah penghormatan kepada pengorbanan sekaligus jasa Qu Yuan, serta melestarikan tradisi oleh masyarakat yang masih dilakukan sampai saat ini. Peh Cun telah menjadi bagian dari keberagaman budaya Indonesia, baik dari perahu naga, bakcang dan kwecang, yang telah berakulturasi dan menjadi tradisi bagi banyak orang. Karena, yang hadir di dalam festival ini, tidak hanya masyarakat Tionghoa saja, melainkan masyarakat non Tionghoa pun turut merayakan dan memeriahkan perayaan Peh Cun ini. Tentunya ini merupakan hal yang positif dan menumbuhkan sikap toleransi di kalangan masyarakat Indonesia yang beragam suku dan budayanya.Referensi:Aryani, D. I., & Theodora, J. (2022).
Pemaknaan tradisi Peh Cun di Indonesia: Visualisasi dalam koleksi Ready-to-Wear Deluxe bagi generasi muda dengan gaya hidup urban. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 6(2), 267-280.Berutu, F., & Dhanka, R. (2024). Daya Tarik Wisata Budaya Festival Peh Cun Dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan di Kota Tangerang. Jurnal Ilmiah Global Education, 5(2), 988-996.Nasir, M. S. G. (2019). Tambur Peh-Cun Sebagai Iringan Lomba Perahu Naga Dalam Upacara Peh-Cun Di Tangerang Banten. Selonding 15(1), 20-34.Rosyadi. (2010). Festival Peh Cun Menelusuri Tradisi Etnis Cina di Kota Tangerang. PATANJALA: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya 2(1), 18-34. Biodata Penulis:Nama: Nathania AgustinProfesi: MahasiswaInstitusi: Universitas Diponegoro Kontak: nathaniaagustin785@gmail.com / 088228412642
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
