Tamparan Kiai Luqni pada Manusia yang Merasa Abadi
Sastra | 2026-06-09 02:15:23Di tengah kesibukan mengejar urusan duniawi yang tiada habisnya, manusia sering kali lupa berhenti sejenak untuk memperbaiki ibadah dan menambah amal baik untuk akhirat. Manusia begitu egois menghabiskan waktu seolah-olah usia di dunia ini tidak ada batasnya, hingga mengabaikan esensi paling mendasar dari hidup yaitu mengumpulkan bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya.
Amanat pada cerpen Nasihat Kiai Luqni karangan Ahmad Mustofa Bisri ini, memberikan sebuah refleksi yang begitu tenang namun mendalam, A. Mustofa Bisri mengarahkan pembaca yang sering egois ini untuk segera sadar diri sebelum waktu di dunia benar-benar habis. Cerita ini mengalir sampai membawa pembaca pada momen-momen penuh perenungan tentang hakikat batasan sisa usia pada manusia.
Puncaknya ada pada inti titik nasihat dari tokoh Kiai Luqni yang menyampaikan kematian adalah kepastian yang tidak bisa dinegosiasikan, Kiai Luqni juga memberikan nasihat bahwa setiap manusia akan dijemput oleh kematian sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan sehari-harinya. Terdapat kutipan ""Memang, biasanya orang meninggal sesuai kesukaan atau kebiasaan hidupnya." hlm. 54
Oleh karena itu, titik tekan nasihat Kiai Luqni adalah sebuah ujaran bahwa jangan pernah untuk menunda-nunda kewajiban agar selalu berbuat baik. Penulis mengajak manusia yang mwrasa abadi untuk melunakkan ego, kembali berpikir, berhenti sejenak menimbun urusan dunia yang fana, dan mulai fokus memenuhi kewajiban-Nya seperti Sembahyang dan mengaji. Sebab pada akhirnya, saat waktu di dunia ini usai, satu-satunya hal yang akan menemani dan menyelamatkan kita pada hari akhir hanyalah timbangan kebaikan atas jejak yang kita tanam selama masih hidup di dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
