Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riska Febriyanti

Healing Lewat Makanan: Fenomena Emotional Eating di Tengah Gaya Hidup Modern

Gaya Hidup | 2026-06-08 11:25:11

Apa itu Emotional Eating?Di tengah kehidupan masyarakat modern, istilah seperti healing, self-reward, atau “makan enak biar mood balik lagi” semakin sering terdengar, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Ketika merasa lelah karena tugas kuliah, tekanan pekerjaan, konflik pertemanan, atau masalah pribadi, banyak orang memilih membeli makanan manis, junk food, atau camilan dalam jumlah besar untuk memperbaiki suasana hati. Kebiasaan makan larut malam sambil menonton film, memesan makanan secara impulsif setelah menjalani hari yang berat, hingga menjadikan makanan sebagai pelarian ketika stres kini menjadi fenomena yang umum terjadi di masyarakat. Fenomena ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak mahasiswa mengaku lebih sering mengonsumsi makanan manis ketika sedang mengerjakan tugas atau menghadapi tekanan akademik. Tidak sedikit pula pekerja yang menjadikan makanan cepat saji sebagai “hadiah” setelah menjalani hari yang melelahkan. Bahkan di media sosial, muncul tren seperti stress eating, mukbang, atau “lapar mata” yang tanpa disadari ikut menormalisasi kebiasaan makan berlebihan sebagai cara menghadapi emosi.Sekilas perilaku tersebut tampak biasa. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi emotional eating atau makan emosional, yaitu perilaku makan yang muncul sebagai respons terhadap emosi, bukan karena rasa lapar fisik.

Fenomena ini semakin meningkat seiring tingginya tingkat stres masyarakat modern, pola hidup serba cepat, serta mudahnya akses terhadap makanan melalui layanan pesan antar digitalDalam pandangan psikologi kesehatan, emotional eating adalah suatu perilaku mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi tertentu, bukan hanya karena lapar secara fisiologis. Seseorang kerap menggunakan makanan sebagai mekanisme koping untuk mengatasi rasa stres, kecemasan, kesedihan hingga kesepian.

Bennett et al. (2013) menjelaskan bahwa emotional eating dapat terjadi ketika emosi negatif memengaruhi pola makan seseorang. Seseorang dengan kecenderungan emotional eating sering menganggap stres sebagai rasa lapar dan menjadikan makan sebagai suatu cara untuk meredakan ketidaknyamanan emosional. Sebagian orang mengalami peningkatan nafsu makan ketika menghadapi tekanan emosional, sedangkan sebagian lainnya kehilangan nafsu makan saat sedang mengalami tekanan emosional.

Penelitian pada tahun 2020 terhadap mahasiswa di 31 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa 69,3 % responden mengalami emotional eating serta 24,8 % mengalami very emotional eating. Data tersebut menunjukkan bahwa perilaku emotional eating merupakan fenomena umum yang dialami terutama pada remaja dan dewasa muda.Menurut Van Strien et al. (1986), terdapat dua aspek utama dalam emotional eating, yaitu individu yang menganggap makan sebagai peredam emosi serta makan sebagai respon terhadap emosi yang dirasakan secara jelas. Keinginan makan terkadang menjadi upaya seseorang untuk menghilangkan rasa tidak nyaman, membebaskan diri dari tekanan emosional atau menghilangkan emosi tertentu.

Emotional Eating dalam perspektif Health Belief Model Fenomena emotional eating dapat dijelaskan menggunakan salah satu teori psikologi kesehatan yaitu health belief model. Menurut health belief model, individu akan cenderung melakukan perubahan perilaku kesehatan apabila dirinya berisiko mengalami masalah kesehatan dan percaya bahwa tindakan tertentu dapat mengurangi risiko tersebut. Komponen pertama dalam health belief model adalah perceived susceptibility atau persepsi kerentanan.

Seseorang menyadari bahwa kebiasaan makan saat stres dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes dan gangguan kesehatan lainnya akan terdorong untuk mulai mengubah perilakunya. Komponen kedua yaitu perceived severity atau persepsi keparahan. Ketika seseorang memahami dampak negatif emotional eating dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, gangguan kesehatan mental hingga menurunkan kualitas hidup.Komponen ketiga yaitu perceived benefits atau persepsi manfaat.

Seseorang yakin bahwa tindakan tertentu seperti mengatur pola makan dan mengelola stres yang dilakukan dapat membantu mencegah atau mengurangi kebiasaan emotional eating. Komponen keempat yaitu perceived barriers atau persepsi hambatan. Seseorang merasakan kesulitan ketika ingin menerapkan perilaku sehat, misalnya seseorang merasa sulit berhenti makan ketika stres karena makan dianggap dapat memberikan rasa nyaman meskipun sementara.Komponen selanjutnya yaitu cues to action atau isyarat untuk bertindak.

Merupakan faktor pendorong seseorang untuk melakukan perubahan perilaku kesehatan seperti mendapatkan edukasi kesehatan, adanya nasihat orang lain, dukungan dari lingkungan sekitar. Komponen selanjutnya yaitu self efficacy atau keyakinan individu terhadap kemampuannya melakukan perubahan perilaku kesehatan. Seseorang yakin bahwa dirinya mampu mengontrol emosi dan mengurangi kebiasaan makan berlebihan ketika stres.

Mengapa seseorang melakukan Emotional Eating? Secara psikologis, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seseorang mengalami emotional eating. Salah satu faktor utamanya adalah stres. Ketika seseorang mengalami tekanan, tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan terutama makanan tinggi gula, garam dan lemak. Hal ini dikarenakan makanan tersebut mampu merangsang pelepasan hormon dopamin di otak yang menyebabkan rasa nyaman dan bahagia yang mengakibatkan otak membentuk asosiasi bahwa makan adalah cara cepat untuk merasa lebih baik.

Selain itu, kemampuan regulasi emosi juga menjadi salah satu faktor penyebab. Tidak semua individu mampu mengenali dan mengelola emosi dengan baik. Pada beberapa individu, makan menjadi sarana untuk melampiaskan ketika mereka mengalami kesulitan mengelola emosi yang dialami. Anak-anak yang terbiasa diberi makanan sebagai hadiah atau bujukan ketika sedang sedih cenderung membentuk hubungan emosional dengan makanan. Saat dewasa, kebiasaan tersebut berubah menjadi emotional eating.

Tanda-tanda emotional eating Terdapat beberapa tanda yang dapat menunjukkan seseorang mengalami emotional eating. Rasa lapar emosional biasanya muncul secara tiba-tiba dan mendesak, berbeda dengan lapar fisik yang muncul secara bertahap. Individu juga cenderung menginginkan makanan tertentu, terutama makanan manis, gurih, atau tinggi lemak yang sering disebut sebagai comfort food. Selain itu, seseorang mungkin makan secara tidak sadar, misalnya menghabiskan camilan sambil menonton televisi tanpa benar-benar menikmati makanan tersebut. Setelah makan, sering muncul rasa bersalah, malu, atau penyesalan yang justru memperburuk kondisi emosional.

Efek samping Emotional Eating Perilaku emotional eating yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis. Dari sisi fisik, kebiasaan makan yang tidak sehat dapat menyebabkan peningkatan berat badan, obesitas, gangguan metabolisme, resistensi insulin, diabetes tipe 2, gangguan pencernaan, serta masalah tidur. McLaughlin (2014) menyebutkan bahwa pola makan yang buruk juga dapat menurunkan kinerja otak dan mengurangi energi untuk beraktivitas sehari-hari.

Sedangkan dari sisi psikologis emotional eating dapat memunculkan rasa bersalah, malu, dan rendah diri yang semakin memperparah emosi negatif. Banyak individu akhirnya terjebak dalam siklus yang selalu berulang, yaitu emosi negatif memicu makan emosional, kemudian muncul rasa bersalah setelah makan, lalu emosi negatif kembali meningkat dan mendorong perilaku makan yang sama. Jika tidak disadari dan ditangani dengan tepat, siklus ini dapat berlangsung dalam waktu lama dan meningkatkan risiko gangguan makan yang lebih serius seperti binge eating disorder atau bulimia.

Cara mengurangi Emotional Eating Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengenali pemicu emosional melalui food and mood journal, yaitu catatan sederhana mengenai makanan yang dikonsumsi dan kondisi emosi saat makan. Cara ini dapat membantu individu memahami pola hubungan antara emosi dan perilaku makan. Selain itu, latihan mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh juga dapat membantu seseorang lebih peka terhadap sinyal lapar dan kenyang tubuh, sehingga makan tidak lagi dilakukan secara otomatis sebagai respons emosional.

Strategi koping alternatif juga penting untuk dilakukan seperti berolahraga ringan, mendengarkan musik, menulis jurnal, melakukan teknik relaksasi, atau berbicara dengan orang terpercaya ketika menghadapi tekanan emosional. Individu juga perlu belajar mengenali dan mengekspresikan emosinya secara sehat agar makanan tidak menjadi satu-satunya pelarian ketika berada dalam tekanan. Pada akhirnya, emotional eating bukan sekadar persoalan kurang disiplin atau lemahnya kontrol diri.

Perilaku ini merupakan respons emosional yang sangat manusiawi ketika seseorang berusaha mencari rasa nyaman di tengah tekanan hidup yang dialami. Psikologi kesehatan mengajarkan bahwa kesehatan yang sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan tubuh yang sehat, tetapi juga dengan kemampuan memahami, menerima, dan merawat kondisi emosional diri sendiri. Oleh karena itu, ketika muncul keinginan untuk mencari makanan di saat hati terasa penuh atau pikiran terasa lelah, mungkin penting untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar lapar, atau sebenarnya ada emosi yang sedang ingin aku tenangkan?”

Referensi : Verdiantika Annisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image