Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Lulu Andini Septiani

Kebahagiaan dan Mengenal Diri Sendiri: Apa Hubungannya?

Eduaksi | 2026-06-07 16:27:11

Kenapa Kita Sibuk Mencari Bahagia ke Luar?

sumber: pinterest https://pin.it/7HWY0lquQ

Kebahagiaan sering menjadi tujuan yang dicari banyak orang dalam hidup. Pernah tidak merasa hidup ini terasa penuh, tetapi di saat yang sama juga terasa kosong? Banyak orang mengalami kondisi ini ketika sedang mencari kebahagiaan. Jadwal kuliah padat, tugas selesai, nilai cukup baik, dan teman pun ada. Namun, rasa gelisah tetap muncul. Kita sering menganggap bahwa untuk menjadi bahagia, kita harus meraih lebih banyak pencapaian dan pengakuan dari orang lain. Padahal, kebahagiaan mungkin tidak berada sejauh yang kita kira. Bisa jadi, langkah pertama untuk menemukannya adalah dengan mengenal diri sendiri.

Pertanyaan sederhana muncul: mungkin kita selama ini terlalu sibuk melihat ke luar, padahal jawabannya justru ada di dalam diri kita sendiri. Menariknya, gagasan tentang kebahagiaan tidak hanya muncul dalam psikologi modern. Nilai-nilai dalam islam dan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram juga menyinggung hal yang serupa. Ketiganya sama-sama mengarah pada satu hal: mengenal diri sendiri sebagai langkah awal menuju ketenangan.

Kebahagiaan dalam Psikologi: Mengenal Diri untuk Hidup Lebih Bahagia

Dalam psikologi modern, kebahagiaan sering dibahas melalui konsep subjective well being . Konsep ini banyak dikembangkan oleh psikolog seperti Ed Diener, yang menjelaskan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan dua hal: kepuasan terhadap hidup dan pengalaman emosi positif. Selain itu, psikologi juga mengenal konsep mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap apa yang sedang dialami saat ini. Banyak penelitian menunjukkan bahwa latihan mindfulness juga dapat membantu menurunkan stress dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Sederhananya, mindfulness mengajarkan kita untuk benar-benar hadir. Ketika makan, fokus pada makan. Ketika berbicara dengan teman maka dengarkan dengan sepenuhnya. Tanpa disadari, banyak dari kita menjalankan aktivitas sambil memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Kebahagiaan dalam Islam: Jalan Menuju Ketenangan Jiwa

Dalam islam, kebahagiaan tidak hanya dipahami sebagai kesenangan sesaat. Al-Qur'an mengenal konsep kehidupan yang baik atau hayatan thayyibah, yaitu kehidupan yang penuh ketenangan dan keberkahan. Allah berfiman dalam QS. An-Nahl ayat 97 bahwa siapapun yang beriman dan beramal saleh akan diberikan kehidapan yang baik. Konsep ini sering dikaitkan dengan sikap qanaah, yaitu kemampua merasa cukup terhadap apa yang dimiliki. Dalam ajaran islam, kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta atau pencapaian, tetapi dari ketenangan hati.

Ketenangan serinh disebut sebagai tuma'ninah, yaitu kondisi ketika merasa damai karena hubungan yang baik dengan Tuhan dan mampu menerima kehidupan dengan lapang dada. Beberapa penelitian psikologi juga menunjukkan religiusitas memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan psikologis. Praktik spiritual seperti doa, bersyukur dan refleksi diri dapat membuat seseorang menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang.

Kawruh Jiwa dan Kebahagiaan: Belajar Memahami Keinginan

Selain psikologi dan agama, pemikiran lokal juga menawarkan cara menarik untuk memahami kebahagiaan. Salah satunya berasal dari ajaran Ki Ageng Suryomentaram melalui konsep kawruh jiwa. Salah satu gagasan terkenal dari beliau adalah konsep mulur dan mungkret. Mulur menggambarkan keinginan manusia yang terus bertambah. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru yang lebih besar. Sebaliknya, mungkret terjadi ketika keinginan tidak terpenuhi dan seseorang merasa kecewa atau menderita.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, banyak penderitaan manusia berasal dari keinginan yang tidak terkendali. Oleh karena itu, seseorang perlu belajar nyawang karep, yaitu mengamati keinginannya sendiri. Dengan memahami keinginan tersebut, seseorang dapat membedakan antara kebutuhan yang benar-benar penting dan keinginan yang hanya muncul sesaat.

Mengenal Diri sebagai Jalan Menuju Ketenangan

Jika diperhatikan, ketiga perspektif tadi memiliki kesamaan. Psikologi menekankan pentingnya kesadaran diri dan tanggung jawab pribadi. Islam mengajarkan ketenangan melalui iman dan rasa cukup. Sementara kawruh jiwa mengajak manusia memahami keinginannya sendiri.

Semua itu bepusat pada satu hal yaitu mengenal diri sendiri.

Ketika seseorang mengenal dirinya, ia akan mudah memahami emosi yang muncul dalam dirinya. Ia tidak akan mudah terseret oleh tekanan sosial, tidak mudah terpengaruh oleh penilaian orang lain, tetapi mampu menerima keadaan hidupnya. Mengenal diri sendiri bukan berarti menjadi egois. Justru memahami diri sendiri seseorang dapat menjadi lebih bijak dalam berhubungan dengan orang lain dalam hidupnya.

Penutup: Kebahagiaan Mungkin Lebih Dekat dari yang Kita Kira

Sering kali kita menganggap kebahagiaan sebagai sesuatu yang harus dikejar jauh. Padahal bisa jadi kebahagiaan tidak berada di tempat yang jauh. Kebahagiaan muncul ketika kita mulai memahami diri sendiri, menerima kehidupa dengan lebih lapang dan tidak terus-menerus mengikuti setiap keinginan yang muncul.

Mengenal diri memang bukan proses yang selesai dalam satu hari, tetapi perjalanan yang terus berlangsung sepanjang hidup. Namun mungkin justru dalam perjalanan itulah kita perlahan menemukan ketenangan dan kebahagiaan yang kita cari selama ini.

Referensi

Aprilianti, A. F. (2020). Konsep Kebahagiaan Perspektif Psikologi dan Al-Qur’an. AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies, 1(1), 33–44.

Diener, E. (1984). Subjective Well-Being. Psychological Bulletin.

Faiz, F. (2015). Filsafat kebahagiaan. Yogyakarta: Mizan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image