Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shandrina Safitri

Kopi Manis Saat Nongkrong: Healing atau Risiko Diabetes pada Anak Muda

Gaya Hidup | 2026-06-08 10:37:22

"Ngopi yuk?" Kalimat ini sudah jadi bagian dari kehidupan anak muda sekarang. Coffee shop bukan cuma tempat membeli minuman, tetapi juga menjadi tempat mengerjakan tugas, berkumpul bersama teman, sampai tempat healing setelah aktivitas yang melelahkan. Banyak remaja dan mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam di coffee shop sambil menikmati kopi susu atau minuman manis kekinian.

Mengapa Anak Muda Suka Minum Kopi Manis saat Nongkrong?

Fenomena nongkrong sambil ngopi manis semakin meningkat seiring berkembangnya gaya hidup modern dan pengaruh media sosial. Peningkatan minat terhadap kopi terlihat dari banyaknya anak muda yang menghabiskan waktunya untuk sekadar menikmati kopi di kafe atau warung kopi (Uhya, 2021).

Minuman seperti kopi susu gula aren, frappé, dan berbagai minuman manis lainnya menjadi favorit karena dianggap lebih enak dan cocok dinikmati saat nongkrong. Tidak sedikit anak muda yang menjadikan kafe sebagai tempat untuk bersantai, mencari suasana yang nyaman, serta mengurangi stres sambil mengonsumsi kopi manis. Penelitian Suryani dkk. (2021) menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda memilih nongkrong di kafe atau warung kopi dengan durasi 3-4 jam, terutama pada malam hari.

Ketika Nongkrong dan Kopi Manis Menjadi Cara Healing Anak Muda

Di tengah padatnya aktivitas akademik maupun pekerjaan, banyak anak muda mencari cara sederhana untuk melepas penat. Salah satu pilihan yang paling sering dilakukan adalah menghabiskan waktu di coffee shop sambil menikmati kopi manis. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi kopi manis tidak hanya dipengaruhi oleh rasa suka, tetapi juga oleh faktor sosial dan emosional. Banyak orang merasa nongkrong sambil ngopi membantu memperbaiki mood, membuat lebih rileks, dan mengurangi rasa penat setelah kuliah atau bekerja. Selain itu, ajakan dari lingkungan sosial dan budaya nongkrong membuat seseorang lebih sering membeli minuman manis tanpa terlalu memikirkan dampaknya bagi kesehatan.

Dalam psikologi, fenomena healing yang sering dilakukan anak muda melalui kegiatan nongkrong dapat dipahami sebagai stress relief behavior, yaitu perilaku yang dilakukan seseorang untuk membantu mengurangi stres dan tekanan emosional yang dirasakan. Saat menghadapi tekanan, individu cenderung menggunakan berbagai strategi coping untuk menghadapi stres yang muncul dalam kehidupan sehari-hari (Immanuel, 2021). Bagi banyak mahasiswa dan pekerja muda, suasana coffee shop yang nyaman, interaksi sosial, serta menikmati kopi manis dapat memberikan perasaan rileks dan membantu memperbaiki suasana hati. Oleh karena itu, aktivitas nongkrong sering dianggap sebagai bentuk healing setelah menjalani berbagai tuntutan akademik maupun pekerjaan.

Di Balik Nikmatnya Kopi Manis, Tersimpan Risiko Diabetes pada Anak Muda

Mengonsumsi kopi manis secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2 pada usia muda. Hal ini karena sebagian besar minuman kekinian mengandung gula dalam jumlah tinggi yang jika dikonsumsi berlebihan dapat mempengaruhi kadar gula darah. Anak muda yang sering mengonsumsi minuman manis memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan kadar gula darah dan gangguan metabolik dibandingkan remaja yang jarang mengonsumsinya (Listiani dkk., 2024).

Hal ini sejalan dengan pandangan World Health Organization (2015) yang merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi kurang dari 10% dari total kebutuhan energi harian, dan akan lebih baik jika dikurangi hingga di bawah 5% untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal. Namun, dalam praktiknya satu gelas kopi susu atau minuman manis kekinian sering kali sudah memenuhi sebagian besar batas konsumsi gula harian tersebut.

Selain meningkatkan risiko diabetes, konsumsi kopi manis secara berlebihan juga dapat memicu kenaikan berat badan, obesitas, dan resistensi insulin. Kondisi tersebut dapat terjadi akibat tingginya kandungan gula dalam minuman kopi manis yang sering dikonsumsi saat nongkrong. Jika kebiasaan ini berlangsung secara terus-menerus, risiko terjadinya berbagai penyakit kronis pada masa mendatang juga dapat meningkat. Sayangnya, dampak tersebut sering kali tidak disadari karena berkembang secara perlahan dan umumnya tidak langsung menimbulkan gejala yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kenapa Kebiasaan Ini Sulit Dihentikan? Dijelaskan dengan Health Belief Model (HBM)

Dalam psikologi kesehatan, konsumsi kopi manis pada anak muda dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM) yang dikembangkan oleh Rosenstock (1974), yaitu bagaimana seseorang memandang risiko dan manfaat dari perilaku kesehatannya. Banyak anak muda memiliki persepsi bahwa diabetes hanya terjadi pada orang tua, sehingga konsumsi kopi manis sering dianggap aman karena merasa tubuh masih sehat. Padahal, anak muda yang sering mengonsumsi minuman pemanis memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, termasuk diabetes. HBM terdiri atas enam komponen utama yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tetap mengonsumsi minuman manis meskipun mengetahui risikonya.

1. Perceived Susceptibility: "Aku masih muda, nggak mungkin kena diabetes."

Banyak anak muda merasa dirinya tidak rentan terkena diabetes karena usia masih muda dan tubuh masih sehat. Akibatnya, konsumsi kopi manis terus dilakukan tanpa memikirkan dampak jangka panjang.

2. Perceived Severity: "Cuma kopi manis, nggak bahaya."

Sebagian orang menganggap minuman kopi manis tidak memberikan dampak serius bagi kesehatan. Ndubuisi dan Fallows (2024) menjelaskan bahwa banyak anak muda belum memahami seberapa serius dampak konsumsi gula berlebih karena efeknya tidak langsung dirasakan. Padahal, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko diabetes dan gangguan kesehatan lainnya.

3. Perceived Benefits: "Ngopi bikin lebih nyaman dan mood jadi bagus."

Kopi dan suasana coffee shop sering dianggap membantu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan membuat seseorang merasa lebih nyaman saat berkumpul bersama teman.

4. Perceived Barriers: "Susah nolak ajakan nongkrong."

Nongkrong dan ngopi manis sebenarnya bukan hanya soal minuman, tetapi sudah menjadi bagian dari kebutuhan sosial dan cara anak muda mencari kenyamanan.

5. Cues to Action: "Mulai sadar setelah melihat dampaknya."

Kesadaran untuk mengurangi konsumsi minuman manis biasanya muncul ketika seseorang memperoleh informasi mengenai diabetes, melihat anggota keluarga yang menderita diabetes, atau mendapatkan edukasi kesehatan tentang bahaya konsumsi gula berlebih. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu seseorang untuk mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat.

6. Self-efficacy: "Aku bisa mengurangi kopi manis."

Self-efficacy adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan perubahan perilaku positif (Sulistyowati, 2016). Anak muda yang memiliki keyakinan bahwa mereka dapat memilih minuman rendah gula, mengurangi frekuensi konsumsi kopi manis, atau mengganti kebiasaan dengan pilihan yang lebih sehat akan lebih mudah menerapkan perilaku pencegahan diabetes.

Mengetahui bahwa konsumsi kopi manis berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes tidak selalu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaannya. Bagi banyak anak muda, manfaat yang dirasakan saat nongkrong dan menikmati kopi manis sering kali terasa lebih nyata dibandingkan risiko kesehatan yang dianggap masih jauh. Melalui HBM, kondisi ini dapat dipahami sebagai hasil dari cara seseorang memandang risiko, manfaat, serta kemampuannya dalam melakukan perubahan perilaku.

Kopi Manis Bukan Musuh, Tetapi Konsumsinya Perlu Dibatasi

Nongkrong sambil menikmati kopi manis bukanlah kebiasaan yang harus dihindari sepenuhnya. Aktivitas ini telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda sebagai sarana bersosialisasi dan melepas penat. Namun, kebiasaan tersebut tetap perlu dijalani dengan bijak agar tidak berdampak pada kesehatan di masa depan.

Kunci utama bukan pada kopi itu sendiri, melainkan pada bagaimana seseorang mengatur pola konsumsi dan menjaga keseimbangan antara kesenangan dan kesehatan. Dengan pengelolaan yang tepat, anak muda tetap dapat menikmati momen healing tanpa mengabaikan risiko kesehatan seperti diabetes.

Kesadaran menjadi faktor penting dalam membentuk perubahan perilaku. Dengan membatasi konsumsi gula, memilih minuman yang lebih sehat, serta mengurangi kebiasaan secara bertahap, gaya hidup nongkrong tetap dapat dijalani tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Pada akhirnya, yang perlu diubah bukanlah kebiasaan nongkrongnya, melainkan cara menjalaninya agar tetap seimbang antara kenikmatan sesaat dan dampak di masa depan.

Referensi:

Immanuel, A. S., Marheni, A., Indrawati, K. R., Swandi, N. L. I. D., & Bajirani, M. P. D. (2021). Kajian stres pada mahasiswa: Sumber stres dan kontribusi strategi koping. Jurnal Ilmu Perilaku, 5(2), 138--158. https://doi.org/10.25077/jip.5.2.138-158.2021

Listiani, R. Y., & Ayubi, D. (2024). Faktor Risiko Konsumsi Minuman Manis Terhadap Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Era Gaya Hidup Modern pada Usia Muda Literature Review. Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development, 7(1), 563-570. https://doi.org/10.38035/rrj.v7i1.1246

Ndubuisi, G. C., & Fallows, S. (2024). Association between sugar-sweetened beverage consumption and constructs of the Health Belief Model in young adult students at the University of Chester. World Nutrition, 15(3), 5--13. https://doi.org/10.26596/wn.20241535-13

Rosenstock, I. M. (1974). Historical Origins of the Health Belief Model. Health Education Monographs, 2(4), 328--335.

Suryani, C. D., & Kristiyani, D. N. (2021). Studi Fenomenologi Pada Gaya Hidup Baru Anak Muda Sebagai Pengunjung Coffee Shop Di Kota Salatiga. Precious: Public Relations Journal, 1(2), 177 201.

Sulistyowati. 2016. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan apresiatif. Salemba Humanika: Jakarta.

Uhya, S., Mursyida, & Fadhil, I. (2021). Pengaruh Kopi terhadap Memori Jangka Pendek pada Mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Abulyatama. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Vol. 8, No. 1, hlm. 28--33. https://doi.org/10.33024/jikk.v8i1.3580

World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028

Penulis : Shandrina Safitri

Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image