Gen Z dan Tren Self-Diagnosis: Ketika Informasi Kesehatan Berlimpah, tetapi Literasi Masih Tertinggal
Rubrik | 2026-06-03 23:10:53
Penulis: Qanita Ayunda Najiya | Mahasiswi Program Studi Farmasi, Universitas Airlangga
Di era digital, mencari informasi kesehatan kini semudah membuka media sosial. Ketika mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, atau muncul ruam pada kulit, banyak orang, terutama generasi muda yang lebih dahulu membuka TikTok, Instagram, atau mesin pencarian dibandingkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Fenomena ini dikenal sebagai self-diagnosis, yaitu upaya seseorang mengidentifikasi penyakit atau kondisi kesehatannya sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri.
Sekilas, fenomena ini tampak positif. Masyarakat menjadi lebih peduli terhadap kesehatan dan lebih aktif mencari informasi. Namun, di balik kemudahan akses tersebut tersimpan risiko yang tidak kecil. Informasi kesehatan yang beredar di internet tidak selalu berasal dari sumber yang kredibel. Banyak konten kesehatan dibuat demi mengejar popularitas tanpa didukung bukti ilmiah yang kuat.
Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang salah menginterpretasikan gejala yang dialami. Sakit kepala biasa dapat dianggap sebagai penyakit serius, atau sebaliknya, gejala yang sebenarnya memerlukan perhatian medis justru dianggap sepele. Kesalahan diagnosis mandiri ini sering berujung pada penggunaan obat yang tidak tepat.
Dalam dunia kefarmasian, penggunaan obat secara rasional merupakan prinsip yang sangat penting. Obat bukanlah produk konsumsi biasa yang dapat digunakan tanpa pertimbangan. Setiap obat memiliki indikasi, dosis, efek samping, hingga potensi interaksi dengan obat lain. Ketika seseorang mengonsumsi obat hanya berdasarkan rekomendasi influencer atau pengalaman orang lain di media sosial, risiko terjadinya kesalahan penggunaan obat menjadi semakin besar.
Fenomena ini terlihat jelas pada penggunaan antibiotik. Masih banyak masyarakat yang membeli antibiotik untuk mengatasi flu atau batuk yang sebenarnya disebabkan oleh virus. Padahal antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mempercepat munculnya resistensi antimikroba, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut resistensi antimikroba sebagai salah satu ancaman kesehatan global terbesar abad ini.
Selain antibiotik, tren penggunaan suplemen dan obat herbal yang viral di media sosial juga perlu mendapat perhatian. Tidak semua produk yang ramai diperbincangkan memiliki bukti ilmiah yang memadai. Sebagian masyarakat cenderung menganggap bahwa produk yang berasal dari bahan alami pasti aman. Padahal, bahan alami sekalipun dapat menimbulkan efek samping atau berinteraksi dengan obat yang sedang dikonsumsi.
Di sinilah peran apoteker menjadi semakin penting. Apoteker tidak hanya bertugas menyerahkan obat, tetapi juga memberikan edukasi mengenai penggunaan obat yang benar, aman, dan efektif. Sayangnya, fungsi edukatif ini sering kali belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Banyak orang datang ke apotek hanya untuk membeli obat tanpa berkonsultasi mengenai kondisi yang dialami.
Literasi kesehatan digital menjadi kunci untuk menghadapi tantangan tersebut. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi kesehatan yang valid dan memahami bahwa tidak semua informasi yang viral dapat dijadikan acuan medis. Pemerintah, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan media memiliki tanggung jawab bersama untuk meningkatkan kualitas edukasi kesehatan di ruang digital.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, Gen Z memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan dalam membangun budaya penggunaan obat yang rasional. Kemudahan akses informasi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, bukan justru menjadi sumber kesalahan pengobatan.
Pada akhirnya, internet dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat, tetapi bukan pengganti tenaga kesehatan. Ketika informasi kesehatan semakin melimpah, kemampuan untuk memahami dan memverifikasi informasi tersebut menjadi jauh lebih penting. Sebab dalam dunia kesehatan, keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang salah dapat berdampak langsung pada keselamatan seseorang.
Sumber:1. World Health Organization. (2023). Antimicrobial Resistance. Geneva: WHO.2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Penggunaan Obat Rasional dan Edukasi Masyarakat tentang Antibiotik.3. Kurniawan, M. F., & Suryawati, S. (2021). Self-medication practices and medication knowledge among university students in Indonesia. Journal of Public Health Research, 10(2), 2234–2241.4. International Pharmaceutical Federation. (2022). Pharmacists Role in Promoting Rational Use of Medicines.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
