Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sari Mariana

Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka

Agama | 2026-06-08 05:22:08

Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka

Oleh: Marwa Ummu Afa

Anak-anak Gaza Berhenti Berbicara

Menurut Katrin Glatz Brubakk, seorang Psikoterapis Anak yang juga professor di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, NTNU memaparkan kisah seorang anak Gaza yang bernama Adam. Seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Dia awalnya adalah anak yang lincah, ceria, banyak bicara dan aktif. Adam juga senang berada di luar ruangan untuk bermain.

Setelah pertikaian yang dimulai pada 2023, keluarga Adam dipaksa oleh pasukan zionis untuk mengungsi dan pindah ke sebuah tenda. Kakek dan neneknya tinggal sedikit lebih jauh, juga di sebuah tenda.

Suatu hari Adam dan ayahnya ingin mengunjungi kakek dan neneknya, di sebuah daerah yang tidak ada perintah evakuasi dan seharusnya aman.

Namun tanpa peringatan sebelumnya, sebuah proyektil jatuh sangat dekat dengan mereka dan melukai Adam dan ayahnya dengan parah.

Mereka dibawa dengan segera ke rumah sakit. Namun seperti yang biasa terjadi ketika ada serangan-serangan ini, ada begitu banyak korban sehingga tidak ada ranjang rumah sakit yang kosong. Banyak orang ditempatkan di lantai.

Adam dan ayahnya termasuk yang berada di lantai ruang gawat darurat menunggu untuk diobati. Dan, anak itu melihat dan mendengar bagaimana ayahnya kesakitan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di sampingnya.

Adam juga terluka parah. Dia kehilangan satu kaki dan kaki yang lain terluka. Setelah menyaksikan ayahnya meninggal, Adam berhenti berbicara.

Terkadang ia membisikkan beberapa kata pada ibunya, tapi ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun yang lain. Bahkan untuk makan ia juga sangat malas sehingga kondisinya kritis.

Apa yang terjadi pada Adam tidak hanya berhenti hanya padanya. Masih ada lebih dari satu juta anak yang mengalami trauma parah. Menurut dokter-dokter setempat yang mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa kasus semacam ini jumlahnya terus meningkat. Mereka berhenti berbicara eolah-olah system syaraf mereka berkata, “saya tidak kuat lagi.”

Di Gaza, anak-anak hidup dalam trauma yang parah dan pada kondisi yang penuh ketidakpastian. Hal ini berlangsung sangat lama. Anak-anak itu mengkhawatirkan nyawa mereka, hidup keluarga mereka, teman-teman dan orang yang mereka kasihi. Rasa aman itu telah hilang sepenuhnya karena besarnya kehancuran yang berdampak pada semua orang di Gaza.

Penderitaan ini adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menerus menyerang, membunuh dan menghancurkan Gaza. Israel yang mengklaim melakukan serangan untuk membela pasukannya dan menghadapi ancaman dari milisi Hamas tiada henti melakukan serangan meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan-kesepakatan itu selalu dilanggar oleh Israel.

Secara total, serangan-serangan Israel menewaskan lebih dari 72.00 warga sipil dan melukai lebih dari 172.000 orang. Semua itu karena skenario genosida rakyat Gaza yang memang dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental warga Gaza. Termasuk anak-anak ini.

Apa Kata Dunia?

Hingga saat ini dunia seakan tidak mampu menghentikan kejahatan entitas zionis. Mereka seolah bebas melakukan kejahatan perang tanpa ada yang menghalang-halangi. Hanya sedikit bantuan yang bisa dilakukan. Hingga pertengahan 2026 ini telah dilakukan rangkaian misi kemanusiaan oleh Global Sumud Flotilla yang merupakan upaya global untuk menembus blockade maritim dan mengirimkan bantuan langsung ke Gaza. Sebanyak tiga gelombang utama misi pelayaran dari Kawasan Mediterania menuju jalur Gaza. Misi-misi ini digawangi oleh kolaisi masyarakat sipil global. Nyatanya misi itu dilawan langsung oleh Israel yang tidak ingin Palestina mendapatkan bantuan dari luar.

Semua aktivitas itu dilakukan oleh Masyarakat sipil global. Sementara para penguasa muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina. Mereka diam seribu bahasa mendapati apa saja yang dilakukan oleh Israel. Bahkan untuk membuka pintu masuk menuju Palestina saja mereka tidak mau.

Bisa dikatakan, umat Islam tidak lagi bisa berharap pada pemimpin mereka. Karena pemimpinnya tidak bisa memberikan perlindungan seperti pemerintahan Islam pada masa dulu. Tampak jelas umat Islam telah kehilangan perisai yang melindungi mereka.

Derita anak-anak Palestina yang parah ini tidak bisa ditawar lagi dan harus segera diakhiri. Mereka Adalah generasi harapan yang akan melanjutkan estafet kehidupan kita. Tidak cukup hanya sekedar diterapi dengan bantuan bahan pangan dan obat-obatan saja. Di atas semua itu yang paling penting adalah negeri mereka harus segera dibebaskan dan Merdeka dari penjajahan Israel.

Kejahatan entitas zionis tersebut harus bisa diruntuhkan. Tidak ada jalan lain untuk melawannya selain oleh kekuatan kekuasaan yang bersifat global. Kekuatan Islam global yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Hanya saja kekuatan itu saat ini belum ada. Hal ini yang menjadi PR bagi untuk untuk mewujudkan kekuatan ini yang bisa membebaskan Palestina, menyelamatkan generasinya dan menjaga persatuan kaum muslimin seluruh dunia. Wallahu a’lam bishowab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image