Menimbang Luka Anak Gaza dalam Cermin Peradaban
Agama | 2026-06-10 08:46:33
Dalam setiap peradaban, anak-anak adalah penanda arah masa depan. Dari cara sebuah masyarakat memperlakukan anak-anaknya, dapat dibaca kualitas nilai yang mereka anut. Anak yang tumbuh dalam kasih sayang akan melahirkan generasi yang kuat, sementara anak yang dibesarkan dalam ketakutan berisiko mewarisi luka yang panjang.
Di Gaza hari ini, dunia dihadapkan pada sebuah kenyataan yang menggugah sekaligus mengusik: anak-anak yang kehilangan suara, bukan karena mereka tidak ingin berbicara, tetapi karena penderitaan yang terlalu berat untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Fakta ini bukan asumsi. Laporan dari berbagai media menunjukkan kondisi yang konsisten. Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, dalam wawancaranya dengan BBC mengungkapkan bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma, dengan jumlah yang mencapai lebih dari satu juta anak. (Bbcindonesia.com, 29/05/2026)
Lebih jauh, sebagian anak bahkan mengalami kehilangan kemampuan berbicara sebagai dampak dari trauma berat tersebut. (Detiknews.com, 30/05/2026)
Kondisi psikologis anak-anak yang sangat terpukul akibat situasi yang terus berlangsung. (Kompas.com, 30/05/2026)
Jika direnungkan lebih dalam, hilangnya kemampuan berbicara bukan sekadar fenomena medis. Ia adalah simbol dari terputusnya ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan diri. Dalam kondisi normal, anak-anak belajar berbicara sebagai bagian dari proses tumbuh kembang yang alami. Namun, ketika lingkungan dipenuhi ketakutan, ledakan, dan kehilangan, maka bahasa pun bisa runtuh.
*Perspektif Islam*
Dalam perspektif Islam, anak bukan sekadar individu, melainkan amanah. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu ” (QS. At-Taghabun: 15). Ayat ini menegaskan bahwa anak adalah titipan yang harus dijaga, dilindungi, dan dibina.
Ketika anak-anak hidup dalam kondisi yang mengancam keselamatan jiwa dan mental mereka, maka sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya mereka, tetapi juga manusia secara kolektif, sejauh mana kepedulian itu diwujudkan.
Rasulullah saw. dikenal sebagai sosok yang sangat memperhatikan anak-anak. Dalam sebuah hadis, beliau pernah memperpanjang sujudnya hanya karena cucunya menaiki punggungnya. Sikap ini menunjukkan betapa Islam memandang anak dengan penuh kasih dan penghormatan.
Kontras dengan itu, realitas yang terjadi di Gaza memperlihatkan adanya kesenjangan antara nilai ideal dan praktik di lapangan. Anak-anak yang seharusnya berada dalam ruang aman justru hidup dalam tekanan yang terus-menerus. Kondisi ini mengundang pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sistem global hari ini merespons penderitaan yang terjadi secara berulang?
Bantuan kemanusiaan memang terus diberikan. Namun, pendekatan tersebut sering kali bersifat reaktif, dengan hadir setelah peristiwa terjadi. Bukan preventif atau solutif terhadap akar persoalan. Akibatnya, siklus penderitaan berulang tanpa jeda yang berarti.
Di sinilah pentingnya evaluasi paradigma. Bukan dalam rangka menyalahkan pihak tertentu, tetapi untuk melihat bahwa penyelesaian yang bersifat jangka pendek tidak cukup untuk menjawab persoalan yang bersifat mendasar.
Islam mengajarkan pentingnya keadilan sebagai fondasi kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan ” (QS. An-Nisa: 135).
Keadilan dalam ayat ini tidak hanya bermakna hukum, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap yang lemah, termasuk anak-anak. Ketika ada kelompok yang terus-menerus berada dalam kondisi rentan, maka keadilan belum sepenuhnya terwujud.
Lebih jauh, Islam juga menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memperluas makna kepemimpinan, tidak hanya pada level individu, tetapi juga pada level masyarakat dan negara. Artinya, perlindungan terhadap anak-anak bukan hanya tugas orang tua, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Maka, melihat kondisi anak-anak Gaza hari ini, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Tidak hanya penyembuhan trauma, tetapi juga upaya menciptakan lingkungan yang benar-benar aman bagi tumbuh kembang mereka.
Tentu, hal ini bukan perkara sederhana. Ia membutuhkan kesadaran global, komitmen jangka panjang, serta keberanian untuk meninjau ulang pendekatan yang selama ini digunakan. Namun, setiap langkah kecil menuju perbaikan tetap memiliki makna.
Anak-anak yang hari ini terdiam sejatinya sedang menyampaikan pesan yang kuat: bahwa ada batas bagi kemampuan manusia untuk menahan luka. Ketika batas itu terlampaui, bahkan bahasa pun tidak lagi mampu menjadi perantara.
Sunyi mereka bukan ketiadaan makna. Ia adalah bentuk komunikasi yang paling dalam. Dan mungkin, melalui sunyi itu, kita diajak untuk kembali bertanya: apakah peradaban ini telah benar-benar menempatkan anak-anak sebagai amanah yang harus dijaga?
Ataukah kita masih memandang mereka sekadar sebagai korban yang hadir dalam laporan, lalu perlahan dilupakan? Jawaban atas pertanyaan ini tidak cukup diucapkan. Ia harus tercermin dalam cara kita berpikir, bersikap, dan merumuskan masa depan yang lebih berkeadilan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
