Membaca Maryam: Cermin Intoleransi dan Konflik Horizontal di Indonesia
Sastra | 2026-06-07 14:15:29
Sastra merupakan rekaman visual yang paling jujur dari realitas sosial kita. Lebih dari satu dekade lalu, Okky Madasari melahirkan novel yang berjudul "Maryam", sebuah karya sastra yang memotret sebuah kepedihan kaum atau kelompok minoritas yang terusir dari ruang hidupnya dengan alasan berbeda pandangan dan keyakinan.
Jika kita korelasi kan dengan era sekarang, membaca buku Maryam tidak lagi terasa seperti membaca buku fiksi, melainkan rekaman fakta yang benar adanya. Novel Maryam bisa diibaratkan sebagai cermin yang memantulkan wajah asli dari masyarakat kita, seperti cerita yang ada di dalam buku tersebut, yakni kisah pengusiran warga Ahmadiyah di Lombok yang di tulis oleh Okky. Peristiwa tersebut masih saja sering berulang terjadi, seperti wujud penolakan rumah ibadah minoritas dan persekusi horizontal yang dipicu oleh sentimen antara kaum mayoritas dan minoritas.
Dalam novel tersebut, rumah Maryam dibakar dan keluarganya dipaksa terlantar di sebuah pengungsian. Ironisnya, kekerasan itu dilakukan oleh tetangga mereka sendiri, orang-orang yang dahulunya hidup berdampingan, sebelum nalar sehat mereka terpengaruh dengan dogma kebencian.
Pola konflik seperti ini seringkali berulang karena adanya beberapa alasan:
Yaitu adalah hilangnya empati kemanusiaan ketika label "berbeda" sudah disematkan dalam pikiran, serta absennya negara. Dalam kasus penolakan rumah ibadah di dunia nyata, pemerintah dan aparat kerap mengambil jalan pintas, yakni mengalah pada tekanan kelompok yang jauh lebih bringas ketimbang melindungi hak-hak konstitusi warga yang lemah.
Membaca Maryam pada akhirnya adalah sebuah gugatan, sebab intoleransi bukanlah peristiwa yang tiba-tiba, melainkan peristiwa yang terawat sebab pembiaran hukum. Jika kita terus abai terhadap hak-hak minoritas, maka kita sedang proses melahirkan Maryam baru di masa depan.
Sebab, rumah yang sejati adalah rasa aman untuk hidup dan beribadah tanpa perlu takut terusir dari tanah kelahirannya sendiri.
Oleh: Moh. Zidan Awaludin (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
