Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Azizah

Hamidah dan Kritik Feminisme: Kehilangan Mestika di Era Kolonial

Sastra | 2026-06-06 17:39:29

Di masa kolonial, ketika penerbitan Balai Pustaka menjadi pusat sastra, suara perempuan jarang sekali terdengar. Hamidah hadir sebagai pengecualian dengan novel Kehilangan Mestika. Karya ini tidak hanya bercerita tentang kehilangan benda berharga, tetapi juga tentang hilangnya kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya. Dengan memakai kacamata feminisme, novel ini bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan halus terhadap patriarki dan struktur sosial yang mengekang.

Kritik Feminisme dalam Kehilangan Mestika

Perempuan sebagai tokoh utama dalam Kehilangan Mestika

Dalam novel Kehilangan Mestika, perempuan menjadi tokoh utama sekaligus pusat konflik. Hamidah menempatkan sosok perempuan bukan sekadar sebagai pelengkap cerita, melainkan sebagai inti narasi yang menanggung beban sosial dan emosional.

Tokoh utama digambarkan sebagai perempuan yang terus mengalami kehilangan: kehilangan cinta, kehilangan kesempatan, bahkan kehilangan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Dari sudut pandang feminisme, hal ini mencerminkan posisi perempuan yang sering ditempatkan dalam situasi serba terbatas. Kehilangan yang dialami tokoh bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga simbol dari keterbatasan perempuan dalam masyarakat kolonial.

Hamidah menulis dengan bahasa sederhana, sehingga pengalaman tokoh perempuan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan ini justru memperkuat pesan bahwa suara perempuan bisa hadir dengan cara yang lugas, tanpa harus dibungkus bahasa akademik yang rumit. Novel ini menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi pusat cerita, sekaligus menyuarakan kritik sosial terhadap sistem patriarki yang mengekang.

Dengan menjadikan perempuan sebagai tokoh utama, Hamidah membuka ruang baru dalam sastra kolonial: ruang di mana perempuan tidak lagi sekadar objek, tetapi subjek yang menyuarakan pengalaman dan penderitaan mereka. Inilah yang membuat Kehilangan Mestika penting untuk dibaca ulang, karena ia menghadirkan suara perempuan yang jarang terdengar pada masanya, namun tetap relevan hingga kini.

Makna Simbol Mestika

 

  • Mestika sebagai lambang kebebasan Kehilangan mestika berarti hilangnya kesempatan perempuan untuk menentukan nasib sendiri. Ia menjadi tanda bahwa perempuan tidak memiliki kuasa penuh atas hidupnya.
  • Mestika sebagai suara yang terampas Mestika juga bisa dibaca sebagai simbol hilangnya suara perempuan. Tokoh utama tidak hanya kehilangan benda, tetapi juga kehilangan ruang untuk berbicara dan menyatakan keinginannya.
  • Mestika sebagai kritik sosial Dari perspektif feminisme, mestika adalah protes halus terhadap sistem patriarki. Kehilangan mestika menunjukkan bagaimana perempuan selalu ditempatkan sebagai pihak yang harus berkorban, sementara laki-laki tetap dominan.
  • Mestika dalam konteks kolonial Novel ini lahir di masa Balai Pustaka, ketika penerbitan dikendalikan kolonial. Mestika menjadi simbol keterbatasan perempuan yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial dan politik.

Bahasa yang Sederhana

Hamidah menulis dengan bahasa yang lugas, dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan ini membuat pesan novel mudah dipahami oleh pembaca umum. Dari perspektif feminisme, gaya bahasa ini adalah cara untuk menegaskan bahwa pengalaman perempuan tidak perlu dibungkus dengan bahasa rumit agar dianggap penting. Justru dengan kesederhanaan, suara perempuan bisa lebih jelas terdengar.

Konteks Kolonial

Novel ini lahir di masa kolonial, ketika Balai Pustaka menjadi alat kontrol budaya. Dalam konteks ini, Kehilangan Mestika bisa dibaca sebagai bentuk resistensi: Hamidah berusaha menyuarakan pengalaman perempuan meski berada dalam sistem penerbitan yang dikendalikan kolonial. Feminisme melihat hal ini sebagai langkah berani, karena Hamidah menempatkan perempuan sebagai pusat cerita di tengah dominasi laki-laki.

Relevansi Masa Kini

Meskipun ditulis di masa kolonial, tema yang diangkat Hamidah tetap relevan hingga sekarang. Kehilangan kebebasan, diskriminasi, dan keterbatasan ruang gerak perempuan masih menjadi persoalan dalam masyarakat modern. Membaca Kehilangan Mestika dengan perspektif feminisme membuat kita sadar bahwa perjuangan perempuan dalam sastra dan kehidupan sosial adalah bagian dari sejarah panjang yang belum selesai. Novel ini mengingatkan kita bahwa suara perempuan selalu penting, baik di masa lalu maupun masa kini.

Kehilangan Mestika bukan hanya kisah kehilangan pribadi, melainkan juga kritik sosial yang menyoroti keterbatasan perempuan dalam masyarakat kolonial. Dengan pendekatan feminisme, novel ini dapat dibaca sebagai suara perempuan yang berusaha menembus batas patriarki. Hamidah menghadirkan perspektif yang jarang terdengar pada masanya, menjadikan novel ini penting untuk dibaca ulang sebagai bagian dari perjalanan sastra Indonesia dan perjuangan perempuan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image