Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maryam Sakinah

PHK Massal: Alarm Keras yang tak Boleh Diabaikan

Kolom | 2026-06-07 06:15:40

 

Gelombang pemutusan hubungan kerja belum juga reda. Bahkan, tanda-tandanya semakin mengkhawatirkan.

ilustrasi: AI Generated by ChatGPT

Tekanan datang dari berbagai arah. Konflik global yang belum selesai, nilai tukar rupiah yang terus melemah bahkan diprediksi akan sampai di angka 20 ribu per dolar, ditambah biaya produksi yang kian mencekik. Dunia usaha kesulitan bernapas. Dan ujungnya? Para buruh yang paling merasakan dampaknya.

Salah satu kasus terbaru terjadi di Depok, Jawa Barat. PT Xacti Indonesia resmi menutup pabriknya dan memberhentikan 350 karyawan. Bukan angka kecil. Di balik setiap angka itu ada kepala keluarga, ada anak yang menunggu di rumah, ada cicilan yang masih berjalan.

Belum lagi situasi di pasar kerja yang makin berat. Satu lowongan kerja kini bisa diserbu ribuan pelamar. Bukan lebay, itu fakta. Angka persaingan ini menunjukkan betapa sempitnya ruang yang tersedia untuk jutaan pencari kerja di negeri ini.

Bukan Sekadar Masalah Ekonomi Biasa

Banyak yang menyebut PHK massal sebagai "dampak kondisi global" seakan-akan ini murni nasib buruk yang harus diterima. Padahal, ada akar masalah yang lebih dalam, yaitu sistem kehidupan yang melingkupi hari ini: sistem ekonomi kapitalisme.

Dalam sistem kapitalisme, tenaga kerja dianggap sebagai biaya. Ketika profit menurun, pos pertama yang dipangkas adalah tenaga kerja. Inilah logika dasar yang bekerja di balik setiap gelombang PHK.

Modal terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Lapangan kerja hanya dibuka jika menguntungkan pemilik modal. Sebaliknya, jika dalam hitung-hitungan tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh, lowongan pekerjaan tidak akan pernah dibuka.

Bila kondisinya semacam ini, lalu ke mana negara? Dalam sistem kapitalisme, negara lebih banyak hadir sebagai pelindung kepentingan pemilik modal. Ketika PHK melanda, respons paling jauh yang diberikan adalah santunan atau program kartu prakerja. Selebihnya hanyalah janji-janji akan membuka lapangan pekerjaan. Semua ini hanya solusi tambal sulam yang tidak menyentuh akar masalah.

Islam Menawarkan Visi yang Berbeda

Islam tidak memandang lapangan kerja sebagai urusan pasar semata. Penyediaan penghidupan yang layak bagi rakyat adalah tanggung jawab negara. Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan.

Rasulullah saw. bersabda bahwa pemimpin adalah raa'in, pengurus. Ia bertanggung jawab atas yang ia urus. Artinya, ketika ada rakyat yang kehilangan pekerjaan dan tidak mampu menafkahi keluarganya, itu merupakan sinyal kegagalan sistem yang harus dibenahi secara struktural. Persoalan itu bukan semata-mata masalah individu saja.

Selain itu, Islam memiliki mekanisme kepemilikan yang mencegah monopoli. Sumber daya alam yang besar, seperti tambang, hutan, dan energi tidak boleh dikuasai segelintir korporasi. Kekayaan ini adalah milik umum yang hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat. Dari sinilah lapangan kerja yang luas dan beragam bisa tumbuh secara alami. Bisa dikatakan, di dalam Islam, orang tidak akan kekurangan pekerjaan sebab tidak ada monopoli dan kesejahteraan rakyat sangat diperhatikan.

Perhatian negara kepada rakyatnya bisa dilihat dari upaya pemenuhan secara gratis dan terjangkau. Di sini, baitulmal yang mengambil peran nyata. Lembaga ini akan membiayai kesehatan, pendidikan, transportasi, dan memastikan keamanan rakyat tanpa syarat. Semua ini bukan utopia. Selama 13 abad Islam memimpin peradaban, semua ini benar-benar berjalan.

Saatnya Berpikir Lebih Jauh

PHK massal merupakan cermin dari sistem yang memang tidak dirancang untuk melindungi rakyat kecil. Selama akar masalahnya dibiarkan, selama sistem yang berjalan masih menempatkan modal di atas manusia, gelombang PHK akan terus berulang. Mungkin dengan nama yang berbeda. Mungkin dengan wajah perusahaan yang berbeda. Namun, polanya akan sama.

Kini, sudah saatnya kita berani bertanya lebih jauh agar semua ini tidak terulang. Pertanyaan bukan lagi sebatas, "apa solusi jangka pendeknya?" tapi "sistem seperti apa yang benar-benar menjamin kesejahteraan semua orang?"

Dari pertanyaan mendasar ini, Islam punya jawabannya. Dan sejarah membuktikan bahwa jawaban itu bukan sekadar teori. Wallahu’alam bisshowab.[]

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image