Luka dan Bertahan dalam Karya Severence
Edukasi | 2026-06-04 18:38:02
Pada Rabu, 20 Mei 2026, saya bersama teman-teman mengunjungi pameran SATUKATA Vol.2 di Griya Seni Popo Iskandar. Pameran ini mengangkat tema Drawing as Act of Resilience, yaitu bagaimana seni dapat menjadi media seseorang untuk bertahan, mengekspresikan diri, dan bangkit dari pengalaman hidup yang sulit.
Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, saya merasa tema ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang pernah mengalami tekanan, rasa kecewa, atau luka batin, tetapi setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menghadapi semuanya.
Suasana Pameran yang Penuh Emosi
Sejak memasuki ruang pameran, saya dapat merasakan suasana yang cukup emosional. Berbagai karya yang dipamerkan seolah menyimpan cerita tentang rasa sakit, kehilangan, tekanan, dan perjuangan untuk tetap bertahan. Setiap lukisan menghadirkan pengalaman emosional yang berbeda, namun tetap berada dalam benang merah yang sama, yaitu resiliensi. Di sana saya memahami bahwa resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah terluka, melainkan kemampuan untuk terus menjalani hidup meskipun berada dalam keadaan rapuh.
Menurut Connor (2006), resiliensi merupakan keterampilan coping ketika seseorang menghadapi tantangan hidup, serta proses individu untuk tetap sehat (wellness) dan terus memperbaiki diri (self repair). Pendapat ini membuat saya semakin memahami bahwa resiliensi bukan hanya tentang “bangkit”, tetapi juga tentang bagaimana seseorang perlahan memulihkan dirinya dari pengalaman yang menyakitkan.
Gunting, Mata, dan Perjuangan Bertahan
Di antara berbagai karya yang dipamerkan, perhatian saya tertuju pada lukisan karya Adelia Putri Irawan berjudul Severence. Lukisan tersebut menampilkan dua figur perempuan dengan gunting yang menembus mata mereka. Kesan pertama yang muncul dalam diri saya adalah rasa sakit dan ketegangan. Saya merasa karya ini berbicara mengenai pergulatan batin seseorang ketika menghadapi tekanan hidup.
Awalnya, saya memaknai lukisan tersebut sebagai bentuk dualisme dalam menghadapi masalah. Kedua perempuan berada dalam posisi yang sama, sama-sama tertusuk gunting yang saya anggap sebagai simbol cobaan atau tantangan hidup. Namun, ekspresi keduanya berbeda. Figur pertama tampak sedih dan rapuh, sedangkan figur kedua tampak lebih tenang, tetapi menyimpan kesan amarah dan keteguhan. Dari situ saya melihat bahwa setiap orang memiliki respons berbeda terhadap rasa sakit yang dialaminya.
Setelah membaca deskripsi karya dan mendengarkan penjelasan kurator, saya mulai memahami makna lukisan ini dengan lebih dalam. Dalam karya tersebut, gunting bukan hanya alat untuk melukai, tetapi simbol keputusan untuk memotong, mengakhiri, atau melepaskan sesuatu yang sudah terlalu menyakitkan. Sementara itu, mata melambangkan cara seseorang melihat hidup dan memahami dirinya sendiri.
Hal yang menarik adalah ketika gunting diarahkan ke mata. Seolah-olah seseorang ingin melihat hidup dengan lebih jelas, tetapi justru dilakukan dengan cara yang menyakitkan dirinya sendiri. Di sinilah muncul gambaran tentang perjuangan manusia ketika sedang berada di titik terberat dalam hidupnya.
Resiliensi Tidak Selalu Tentang Kekuatan
Saya melihat karya ini sangat relevan dengan realitas psikologis manusia. Tidak sedikit orang yang ketika menghadapi tekanan hidup memilih “memotong” bagian tertentu dalam dirinya demi bertahan, seperti menekan emosi, memendam luka, menjauh dari orang lain, atau menyangkal rasa sakit yang sebenarnya mereka rasakan.
Karya Severence juga membuat saya sadar bahwa resiliensi tidak selalu terlihat kuat dan sempurna. Dalam deskripsi karya disebutkan bahwa resiliensi bukanlah kekuatan yang utuh dan stabil, melainkan proses yang rapuh, penuh luka, dan terus berlangsung. Terkadang seseorang tetap bertahan meskipun sedang merasa lelah, sedih, marah, atau bingung.
Seni sebagai Media Merawat Diri
Melalui pameran ini, saya belajar bahwa seni bukan hanya tentang keindahan visual. Seni juga bisa menjadi media untuk menyampaikan emosi, memahami diri sendiri, bahkan membantu proses pemulihan. Setiap orang mungkin memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap karya Severence. Perbedaan pemaknaan tersebut membuat saya sadar bahwa karya seni tidak memiliki satu arti yang mutlak. Pengalaman hidup, emosi, dan sudut pandang seseorang sangat memengaruhi cara mereka memahami sebuah karya.
Hal ini sejalan dengan pendapat Edmund Burke Feldman (1967) yang menyatakan bahwa apresiasi seni melibatkan proses pengamatan, penafsiran, dan penilaian yang berbeda pada setiap individu. Artinya, setiap orang dapat memiliki pengalaman emosional dan pemahaman yang tidak sama terhadap karya yang sama.
Bagi saya, justru di situlah kekuatan dari karya Severence. Lukisan ini membuat pengunjung bertanya-tanya, berpikir, bahkan mencoba memahami dirinya sendiri melalui emosi yang muncul saat melihat karya tersebut. Terkadang, apa yang sulit dijelaskan melalui kata-kata justru dapat disampaikan melalui gambar dan goresan. Pada akhirnya, setiap manusia memiliki luka dan perjuangannya masing-masing. Namun, seperti yang tergambar dalam karya Severence, di tengah rasa sakit dan kontradiksi, manusia tetap memiliki dorongan untuk bertahan dan terus melanjutkan hidup.
Referensi
Connor, R. (2006). Resilience and Self-Talk in University Students. Thesis. University of Calgary.
Feldman, E. B. (1967). Art as Image and Idea. New Jersey: Prentice Hall.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
