Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Widya M

Tanpa Jembatan, Seni Hanya Sampai di Mata

Eduaksi | 2026-06-07 21:40:34

Berkunjung ke galeri seni hampir selalu dimulai dengan cara yang sama. Langkah melambat, mata menyapu ruangan, lalu berhenti sejenak di depan karya yang paling mencolok. Memotret, membaca label kecil di sampingnya, mengangguk pelan, dan beranjak. Jarang sekali ada yang benar-benar berdiam lebih lama dari yang terasa perlu.

Begitulah galeri seni kerap kita alami, sebagai ruang yang dilihat, bukan ruang yang dirasakan. Dan dari kebiasaan itu, muncul satu pertanyaan sederhana, seberapa banyak yang kita lewatkan ketika hanya berhenti di lapisan paling luarnya?

Jawabannya tidak jauh, hanya sejauh pintu masuk pameran Satukata Vol. 2: Drawing as Act of Resilience, Mei 2026 di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung. Karya-karya di dalamnya datang dari mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI dan seniman aktif Bandung, dari berbagai generasi, tapi dengan satu benang merah yang sama, yaitu pengalaman yang sangat personal, tentang luka, tentang bertahan, tentang proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Tapi tanpa jembatan, semua itu mudah tersalah baca, hanya tampak sebagai gambar yang menarik secara visual, dan tidak lebih.

Pameran SATUKATA Vol. 2 di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, Rabu, 20 Mei 2026. Sumber: Muthia Raisya Y.R

Dalam kajian seni rupa, memahami sebuah karya secara utuh setidaknya harus menyentuh tiga hal sekaligus, yaitu konsep berkarya seniman, karya itu sendiri secara visual, serta cara pandang kita sebagai penonton (Priyatno, 2015). Masalahnya, sebagian besar pengunjung hanya bersentuhan dengan satu dari tiga hal itu. Mereka melihat karyanya, tapi tidak tahu siapa yang membuatnya dan dari pengalaman apa ia lahir.

Psikolog Abigail Housen menemukan bahwa apresiasi seni berkembang secara bertahap, dan pengunjung yang datang tanpa latar belakang seni hampir selalu berada di tahap paling awal, yaitu membuat narasi personal sederhana dari apa yang mereka lihat, atau menafsirkan karya berdasarkan pengetahuan yang sudah mereka bawa dari sebelumnya. Respons terhadap keunikan bentuk, ukuran, atau posisi karya di ruangan itu alamiah, bukan kekurangan. Tapi untuk melangkah ke lapisan makna yang lebih dalam, ada satu hal yang dibutuhkan, sesuatu yang sederhana namun sering kali tidak tersedia di ruang galeri manapun, yaitu jembatan antara dunia seniman dan dunia penonton.

Salam dkk. (2020) mencatat bahwa karya seni rupa yang lahir dari kebebasan ekspresi individual memang cenderung teralienasi dari masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan seni. Dan fungsi untuk menjembatani jarak itulah yang seharusnya dimainkan oleh kritik seni, oleh teks kuratorial, oleh penjelasan yang tersedia bagi siapapun yang datang, bukan hanya bagi yang kebetulan datang di waktu yang tepat.

Dalam pameran ini, jembatan itu hadir tapi tidak merata. Beberapa seniman datang langsung dan menjelaskan karya mereka kepada pengunjung yang kebetulan ada di sana. Perbedaannya terlihat jelas. Pengunjung yang mendapat penjelasan tampak lebih lama berdiam, lebih banyak bertanya, dan ekspresinya berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih menyentuh. Sementara yang datang di waktu berbeda kembali ke titik semula, visual yang menarik dan makna yang samar.

Persoalan ini bukan sekadar soal ada tidaknya katalog di meja penerima tamu. Masalahnya lebih mendasar dari itu, yaitu bagaimana akses terhadap jembatan itu bisa atau tidak bisa dijangkau oleh semua orang yang datang, tanpa bergantung pada keberuntungan waktu atau siapa yang kebetulan ada di ruangan.

Apresiasi seni pun tidak cukup dijadikan tolok ukur. Penelitian menunjukkan bahwa ketika pengunjung berhasil merasakan emosi yang dimaksudkan seniman, bukan sekadar mengagumi visualnya, dampaknya jauh lebih signifikan (Vessel et al., 2025). Koneksi itu bisa menjadi momen pengakuan bahwa kondisi yang digambarkan itu nyata, dan bahwa kita tidak sendirian dalam merasakannya.

Drawing sendiri punya kapasitas unik untuk itu. Dalam psikologi, menggambar dikenal sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengeksternalisasi pengalaman yang sulit diverbalisasi, memberi bentuk pada apa yang selama ini hanya berdiam dalam diri (Zolkoski & Bullock, 2022). Ketika kita melewatkan makna di balik sebuah karya, kita juga melewatkan kesempatan itu.

Pameran SATUKATA Vol. 2 di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, Rabu, 20 Mei 2026. Sumber: Siti Fatimah Az-Zahra

Di akhir kunjungan, ada pengunjung yang kembali lagi ke salah satu karya, kali ini setelah sempat berbincang sebentar dengan sang seniman. Ia berdiri lebih lama, tidak memotret, hanya menatap. Jembatan itu akhirnya terbentuk, meski terlambat, meski hanya untuk beberapa orang. Dan mungkin di situlah letak persoalannya. Bukan karena penonton tidak mau memahami, tapi karena jembatan untuk sampai ke sana seharusnya tidak bergantung pada keberuntungan.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image