Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tamara Somargusin

Berhenti Membeli Keinginan, Mulai Memeluk Kebutuhan

Info Terkini | 2026-06-18 13:22:42

Oleh : Tamara Zapitri Somargusin

PERNAKAH – Anda berdiri di depan lemari pakaian yang penuh sesak, pintu hampir tidak bisa ditutup, namun mulut Anda tetap bergumam: "Duh, nggak punya baju untuk dipakai"? Sementara di sudut lain lemari, belasan kaos seragam dari kepanitiaan kampus masa lalu, jalan santai RT, hingga gathering kantor tiga tahun lalu bertumpuk kaku. Mereka hanya dipakai satu kali, dipamerkan dalam satu foto bersama, lalu pensiun selamanya menjadi "penghuni gelap" yang mengumpulkan debu.

Fenomena sekadar ini bukan masalah manajemen kamar yang buruk. Menatap tumpukan baju tersebut setelah menonton film dokumenter Menolak Punah memicu sebuah tentang bagaimana cara kita mengonsumsi pakaian hari ini. Jebakan "Baju Seragam" dan Ego Konsumsi selalu menuntut adanya identitas visual berupa baju seragam. Hasilnya apa? Penumpukan kain yang masif secara kolektif," ujar narasumber diwawancarai saat mengenai tamparan keras "Hampir setiap kegiatan yang kita ikuti sekarang keresahan isi lemarinya.

Menurutnya, ego manusia sering kali mengorbankan masa depan lingkungan demi formalitas jangka pendek. Padahal, esensi kebersamaan atau identitas sebuah komunitas tidak melulu harus berbentuk kaos baru. "Kita bisa mulai menyuarakan perubahan di komunitas masing-masing. Misalnya, menerapkan sistem poolseragam dengan meminjam milik senior atau alumni. Kalau mau lebih minim limbah, beralih saja ke aksesori identitas seperti lanyard atau name tag. Atau yang paling gampang, sepakati satu warna kaos netral yang kira-kira sudah dimiliki semua orang di rumahnya," tambahnya memberikan solusi taktis. Lalu, bagaimana dengan "fosil-fosil" kain yang sudah telanjur memenuhi lemari saat ini? "Mengatasi baju yang sudah telanjur menumpuk itu adalah langkah darurat yang harus diambil sekarang juga," tegasnya. "Alih-alih membiarkannya membusuk dan jadi sarang debu, lebih baik disortir. Bagikan ke orang terdekat yang membutuhkan atau donasikan ke panti asuhan. Itu tindakan penyelamatan nyata. Kita memperpanjang sedang napas sebuah pakaian agar tidak langsung berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)."

Meretas Ulang Mindset: Dari Dopamin "Lucu" ke Urgensi "Butuh"

Perjalanan menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan—seperti yang dikampanyekan dalam Menolak Punah—selalu dimulai dari ruang tiga dimensi di dalam kepala kita sendiri. Perubahan terbesar dimulai ketika kita berani mengubah mindset: dari dulu dibeli karena lucu, sekarang dibeli karena butuh. Ketika kita melihat sepotong pakaian di toko atau aplikasi belanja dan berpikir, 'Wah, lucu banget,' itu sebenarnya adalah suara keinginan," jelasnya. Keinginan itu sifatnya sementara. Itu cuma pemicu hormon dopamin yang akan langsung hilang begitu barangnya berhasil kita miliki dan masuk lemari. Sebaliknya, kalau kebutuhan, dia berbicara tentang fungsi, ketahanan jangka panjang, dan urgensi. Untuk mengunci mindset baru ini agar tidak goyah oleh gempuran diskon tanggal kembar, ia membagikan satu hukum besi yang diterapkannya di rumah: One In, One Out (Satu Masuk, Satu Keluar). "Kalau ada satu baju baru yang terpaksa dibeli karena kebutuhan nyata, maka harus ada satu baju lama di lemari yang keluar untuk didonasikan atau didaur ulang. Dengan begitu populasi baju di lemari kita akan tetap seimbang dan terkontrol."

Langkah Kecil Menolak Punah Pada akhirnya, mendalam dokumenter Menolak Punah bukanlah pesan dari tugas eksklusif yang dibebankan kepada para aktivis yang berdemonstrasi di jalanan, atau para ilmuwan yang meneliti di laboratorium. punah itu dalam "Menolak tentang bagaimana kita mengambil keputusan di depan lemari pakaian setiap pagi dan di depan kasir setiap hari. Setiap kali kita berhasil menahan diri untuk tidak membeli pakaian yang sekadar "lucu" demi gengsi, kita sebenarnya sedang melakukan aksi nyata: menghemat ribuan liter air bersih, menekan emisi karbon pabrik tekstil, dan menyetop pasokan limbah kain yang mencemari bumi. Membatasi ego untuk selalu membuat kaos seragam baru atau meluangkan waktu menyortir baju layak pakai untuk didonasikan mungkin terasa seperti langkah kecil yang sepele. Namun, jika kesadaran ini mulai menjalar dan menjadi gerakan kolektif, kita sedang bersama-sama merawat bumi agar tidak punah oleh keserakahan kita sendiri. Mari mulai hari ini dari kamar kita sendiri: peluklah apa yang benar-benar kita butuhkan, dan lepaskan apa yang hanya sekadar kita inginkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image