Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Anisa Aulia

Budaya Scroll Mengalahkan Budaya Membaca: Tantangan Literasi di Era Digital

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-04 12:21:01

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara memperoleh informasi dan pengetahuan. Jika dahulu masyarakat harus meluangkan waktu untuk membaca buku, koran, majalah, atau artikel secara utuh, kini informasi dapat diperoleh hanya dengan beberapa kali sentuhan jari di layar ponsel. Kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, dan berbagai platform digital lainnya telah melahirkan fenomena baru yang dikenal sebagai budaya scroll. Aktivitas menggulir layar secara terus-menerus untuk menikmati berbagai konten kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama generasi muda.

Di satu sisi, budaya scroll memberikan banyak kemudahan. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, berbagai peristiwa dapat diketahui secara real-time, dan akses terhadap pengetahuan menjadi lebih terbuka dibandingkan sebelumnya. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul kekhawatiran bahwa budaya scroll perlahan-lahan menggeser bahkan mengalahkan budaya membaca yang selama ini menjadi fondasi penting dalam membangun literasi masyarakat.

Budaya membaca menuntut seseorang untuk meluangkan waktu, berkonsentrasi, dan memahami isi bacaan secara mendalam. Membaca buku atau artikel panjang mengharuskan pembaca mengikuti alur pemikiran penulis, menganalisis informasi, serta menghubungkan berbagai gagasan yang disampaikan. Sebaliknya, budaya scroll cenderung mendorong konsumsi informasi secara cepat dan singkat. Konten yang disajikan biasanya berupa video pendek, gambar, atau teks singkat yang dapat dipahami hanya dalam hitungan detik. Akibatnya, banyak orang menjadi terbiasa menerima informasi secara instan tanpa melakukan pendalaman lebih lanjut.

Fenomena ini dapat dilihat dengan jelas di kalangan mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih memilih menonton ringkasan materi dalam bentuk video singkat dibandingkan membaca buku referensi atau jurnal ilmiah. Ketika mencari informasi, mereka sering kali hanya membaca bagian penting atau kesimpulan tanpa memahami keseluruhan isi. Bahkan, tidak jarang suatu berita langsung dipercaya hanya berdasarkan judul yang muncul di media sosial tanpa melakukan verifikasi terhadap sumber yang sebenarnya.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis tidak muncul secara instan, melainkan dibangun melalui proses membaca, memahami, membandingkan informasi, dan mengevaluasi berbagai sudut pandang. Ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi informasi dalam format yang singkat dan cepat, kemampuan untuk fokus pada bacaan yang panjang dapat berkurang. Akibatnya, daya tahan membaca menjadi semakin rendah dan kecenderungan untuk mencari informasi yang serba instan semakin meningkat.

Selain itu, budaya scroll juga berkontribusi terhadap munculnya fenomena information overload atau banjir informasi. Setiap hari masyarakat menerima ratusan bahkan ribuan informasi dari berbagai platform digital. Ironisnya, banyaknya informasi yang diterima tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan pengetahuan. Seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam menjelajahi media sosial, tetapi tidak memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai suatu isu. Informasi datang dan pergi begitu cepat sehingga sulit untuk diingat atau dipahami secara komprehensif.

Meski demikian, budaya scroll tidak sepenuhnya harus dipandang sebagai ancaman. Teknologi digital pada dasarnya hanyalah alat yang penggunaannya bergantung pada manusia. Media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan budaya membaca apabila dimanfaatkan secara tepat. Banyak akun edukasi yang membagikan rekomendasi buku, ringkasan ilmiah, hingga diskusi mengenai isu-isu penting yang dapat mendorong minat baca masyarakat. Dengan kata lain, budaya scroll dan budaya membaca tidak harus saling meniadakan, tetapi dapat berjalan berdampingan apabila digunakan secara bijak.

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membangun keseimbangan antara keduanya. Generasi muda perlu menyadari bahwa informasi singkat yang ditemukan melalui media sosial seharusnya menjadi pintu masuk untuk mempelajari suatu topik lebih dalam, bukan menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Setelah menemukan informasi yang menarik, langkah berikutnya adalah membaca sumber yang lebih lengkap dan kredibel agar pemahaman yang diperoleh tidak dangkal.

Perguruan tinggi, sekolah, keluarga, dan pemerintah juga memiliki peran penting dalam memperkuat budaya membaca. Kampanye literasi tidak cukup hanya mengajak masyarakat membaca lebih banyak, tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi digital. Penyediaan akses terhadap buku elektronik, perpustakaan digital, dan konten edukatif yang menarik dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan minat baca di tengah dominasi media sosial.

Pada akhirnya, budaya scroll merupakan realitas yang tidak dapat dihindari di era digital. Namun, ketika budaya scroll mulai menggantikan kebiasaan membaca secara mendalam, maka kualitas literasi masyarakat patut menjadi perhatian bersama. Membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, melainkan proses membangun pengetahuan, memperluas wawasan, dan melatih kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, di tengah derasnya arus informasi digital, budaya membaca harus tetap dipertahankan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi yang cepat, tetapi juga individu yang mampu memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi secara bijaksana.

Penulis : Anisa Aulia (251011200878)

UNIVERSITAS PAMULANG

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image