Obat Ada di Hampir Setiap Rumah, Tapi Sudahkah Kita Memahaminya?
Edukasi | 2026-06-02 08:00:07
Realita di Masyarakat
Di banyak keluarga, keputusan pertama saat seseorang sakit sering kali tidak datang dari tenaga kesehatan, melainkan dari rumah itu sendiri. Dalam situasi tersebut, ibu memegang peran penting sebagai pengambil keputusan awal dalam memilih obat, menentukan kapan diminum, hingga memutuskan apakah perlu dibawa ke fasilitas kesehatan. Peran ini menjadikan ibu sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan keluarga.
Namun, di balik peran tersebut, masih terdapat kesenjangan pengetahuan terkait penggunaan obat. Banyak masyarakat yang menggunakan obat berdasarkan pengalaman atau kebiasaan, tanpa memahami penggolongan maupun fungsi obat secara tepat. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesalahan penggunaan, mulai dari pemilihan obat yang kurang sesuai hingga penggunaan yang tidak rasional.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan edukasi penggolongan obat di lingkungan masyarakat di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo Gang XI G2 RT 01 RW 04 No. 14, Singorejo, Kebomas, Gresik. Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu posyandu, termasuk Ibu Linda Giswantini sebagai kader, yang memiliki peran aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat setempat.
Pendekatan Edukasi
Edukasi tidak hanya disampaikan dalam bentuk pemaparan materi, tetapi dirancang dengan pendekatan interaktif agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Materi utama yang diberikan adalah penggolongan obat berdasarkan indikasi klinis, yaitu pengelompokan obat berdasarkan fungsi atau tujuan penggunaannya dalam terapi.
Untuk mempermudah pemahaman, tim menggunakan media berupa papan penggolongan obat dan leaflet edukatif. Melalui media tersebut, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana obat dikelompokkan, mulai dari obat penurun demam, pereda nyeri, obat alergi, hingga obat batuk dan antibiotik yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Pada tahap ini, ibu-ibu tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berbagi pengalaman terkait penggunaan obat di rumah. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai obat yang sering mereka konsumsi, seperti obat batuk, obat alergi, hingga antibiotik, dan mencoba mengaitkannya dengan penggolongan yang telah dijelaskan.
Diskusi ini menjadi bagian penting dalam kegiatan, karena menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tidak hanya dibangun melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman yang mereka miliki sehari-hari. Melalui proses tanya jawab dan berbagi pengalaman tersebut, peserta dapat mengoreksi pemahaman yang kurang tepat sekaligus memperkuat pengetahuan yang sudah dimiliki.
Menariknya, dalam diskusi terungkap bahwa masih banyak peserta yang menganggap semua obat batuk memiliki fungsi yang sama, padahal terdapat perbedaan antara obat batuk kering dan batuk berdahak. Selain itu, beberapa peserta juga belum memahami bahwa antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan dan harus dihabiskan sesuai aturan. Temuan ini menjadi gambaran nyata bahwa edukasi mengenai penggolongan obat masih sangat dibutuhkan di masyarakat.
Sebagai tambahan, terdapat satu fakta menarik yang cukup menyita perhatian peserta, yaitu bahwa obat yang sering dianggap “aman” seperti paracetamol pun dapat berisiko jika digunakan dalam dosis berlebihan, terutama terhadap fungsi hati. Fakta sederhana ini menunjukkan bahwa bahkan obat yang paling umum digunakan tetap memerlukan pemahaman yang tepat dalam penggunaannya.
Melalui kegiatan ini, terlihat bahwa pendekatan edukasi yang komunikatif dan interaktif mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam memahami informasi kesehatan. Ibu-ibu tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses pembelajaran.
Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat peran perempuan dalam menjaga kesehatan keluarga. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai penggolongan obat, ibu diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dalam penggunaan obat di rumah.
Edukasi sederhana yang dilakukan di tingkat masyarakat ini menjadi langkah kecil yang memiliki dampak besar. Karena ketika seorang ibu memahami obat dengan benar, maka keputusan kesehatan dalam keluarga pun akan menjadi lebih tepat, aman, dan rasional.
Penulis: Frida Dwi Lestari
Program Studi D-III Keperawatan, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
