Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faiz Hadziq

Zakat vs Riba: Mengapa Zakat Sistem yang Maju dan Riba Sistem yang Cacat?

Agama | 2026-05-28 10:05:54

Dalam diskusi modern, agama sering kali dianggap hanya mengurusi masalah moral dan akhirat. Namun, jika kita ulik lebih dalam menggunakan kacamata makroekonomi, kita akan menemukan sebuah sistem yang sangat genius yang digagas ribuan tahun yang lalu, yaitu zakat.
Sebelum membahas kegeniusan sistem zakat dalam perspektif ilmu ekonomi, kita harus mengetahui terlebih dahulu permasalahan sistem ekonomi dunia hari ini yang menyimpan satu rahasia gelap: krisis besar terprogram yang pasti terjadi setiap satu dekade sekali.
Coba perhatikan polanya. Krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008, resesi akibat pandemi 2020, hingga gejolak inflasi dan suku bunga global beberapa waktu terakhir. Krisis-krisis ini bukan kebetulan, melainkan cacat bawaan dari sistem moneter modern yang bertumpu pada satu hal, yaitu riba.

Riba: sebuah sistem cacat yang membuat inflasi terjadi.

Pertumbuhan ekonomi yang sejati adalah yang berisi barang dan jasa (seperti beras, rumah, mobil, atau jasa potong rambut). Untuk menambah jumlah beras atau membangun rumah, manusia harus bekerja, menanam, membangun, dan itu butuh waktu berbulan-bulan. Jumlahnya terbatas oleh tenaga manusia dan bahan baku yang ada di bumi.
Sedangkan riba berbeda: ketika bank meminjamkan uang dengan bunga, jumlah utang itu otomatis bertambah setiap detik hanya karena waktu berjalan. Sistem komputer bank tinggal memasukkan rumus matematika, dan angka di rekening langsung membesar dengan sendirinya, tanpa perlu melakukan kerja fisik apa pun.
Lalu di mana letak rusaknya?
Ketika uang kertas bertambah miliaran rupiah dalam sekejap lewat sistem bunga, tetapi jumlah barang dan jasa di pasar hanya bertambah sedikit, maka terjadilah ketidakseimbangan.
Jumlah uangnya terlalu banyak, tetapi barang yang bisa dibeli terlalu sedikit. Akibatnya, harga-harga barang terpaksa naik drastis (inflasi) dan nilai uang menjadi merosot. Sistem riba cacat karena menciptakan "uang gaib" yang tidak ada wujud barangnya di dunia nyata.
Frederick Soddy, seorang ilmuwan peraih Nobel kimia yang kemudian beralih menjadi ekonom, dalam bukunya Wealth, Virtual Wealth and Debt (1926), menulis:
"Anda tidak akan pernah bisa membenturkan aturan manusia yang konyol, seperti hukum bunga berbunga (matematika), dengan hukum alam semesta (fisika). Utang berbunga tumbuh selamanya secara matematis, sedangkan kekayaan riil di dunia ini bisa rusak dan menyusut. Penyakit zaman ini adalah orang-orang ingin mengubah kekayaan riil menjadi utang (riba) hanya agar uang mereka bisa tumbuh abadi tanpa batas."
Soddy mengkritik bahwasannya uang riba tumbuh di atas kertas secara abadi karena rumus matematika, sedangkan barang-barang di dunia nyata (makanan, bangunan, mesin) semuanya tunduk pada hukum alam; mereka bisa rusak, butuh waktu untuk dibuat, dan memiliki batas.
Dan masih banyak lagi cacat di dalam riba yang tidak bisa disebutkan semuanya di sini, namun yang pasti dampak yang diakibatkan riba sangat besar, yaitu merusak tatanan sosial, moral, hingga puncaknya yaitu krisis dan juga inflasi.

Zakat: sebuah sistem fiskal dan moneter yang luar biasa.

Dalam kacamata ilmu ekonomi makro modern, zakat bukan sekadar ritual keagamaan atau aksi pialang sosial (sedekah biasa), melainkan sebuah sistem fiskal dan moneter yang sangat maju, bahkan jauh melampaui sistem kapitalisme Barat saat ini.
Jika riba adalah sistem yang "merusak" karena menimbun uang di atas, zakat adalah antitesisnya, yaitu sebuah sistem yang memaksa uang untuk mengalir ke bawah. Berikut adalah alasan logis mengapa zakat adalah sistem ekonomi yang sangat maju:
1. Menggenjot Daya Beli MasyarakatEkonomi sebuah negara baru bisa jalan kalau ada konsumsi (jual-beli). Zakat mengambil uang dari orang kaya (yang konsumsinya sudah jenuh) dan memberikannya langsung kepada 8 golongan yang membutuhkan (terutama fakir miskin).
Orang miskin yang menerima uang zakat tidak akan menimbun uang tersebut; mereka akan langsung membelanjakannya untuk kebutuhan pokok seperti beras, baju, sekolah anak, dan lain-lain. Uang itu akan mengalir ke pedagang pasar, petani, dan peternak yang akan menciptakan multiplier effect (efek pengganda) yang menggerakkan ekonomi dari level paling bawah.
2. Jaminan Sosial Tanpa Membebani APBNDi negara Barat seperti sistem welfare state di Skandinavia, pemerintah menjamin orang miskin lewat bantuan sosial yang dananya diambil dari pajak pendapatan yang tinggi. Kekurangannya? Jika ekonomi krisis, pendapatan pajak turun, negara terpaksa berutang untuk membiayai bansos.

Sedangkan zakat adalah sistem jaminan sosial mandiri yang tidak bergantung pada utang negara. Zakat memotong jalur birokrasi: kekayaan ditransfer langsung dari orang kaya di suatu daerah kepada orang miskin di daerah tersebut. Ia berfungsi sebagai penyangga sosial otomatis yang menjaga agar tidak ada masyarakat yang kelaparan.
3. Pajak Atas Harta, Bukan Atas ProduktivitasSistem pajak Barat saat ini (seperti PPh atau PPN) sering kali menghukum orang yang produktif. Makin keras kita bekerja dan makin besar pendapatan kita, makin besar pajak yang dipotong oleh negara.
Sedangkan zakat (khususnya zakat mal) tidak mengincar pendapatan yang baru masuk secara ugal-ugalan, melainkan mengincar surplus kekayaan yang menumpuk. Sistem ini menghargai produktivitas tetapi melarang keserakahan penimbunan.
Jika riba adalah pompa yang menyedot darah (uang) dari seluruh tubuh ekonomi menuju ke jantung saja (orang kaya/bank) hingga jantungnya pecah (krisis), maka zakat adalah sistem pompa alami yang memastikan darah tersebut dialirkan kembali ke seluruh ujung jari kaki dan tangan (masyarakat miskin) agar seluruh tubuh ekonomi tetap hidup dan sehat. Ini adalah sistem logis yang sangat maju.

Sumber Referensi:

Soddy, Frederick. (1926). Wealth, Virtual Wealth and Debt: The Solution of the Economic Paradox. London: George Allen & Unwin Ltd. (Sumber kutipan utama kritik sistem bunga dan hukum alam).
Pusat Skenario Strategis (PUSKAS) BAZNAS. (2020). Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ) dan Dampak Ekonomi Nasional. Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional. (peran zakat dalam menggenjot daya beli dan menggerakkan ekonomi level bawah di Indonesia).
Chapra, M. Umer (Penerjemah: Ikhwan Abidin Basri). (2000). Sistem Moneter Islam. Jakarta: Gema Insani Press. (Referensi utama dalam bahasa Indonesia mengenai kritik terhadap sistem riba dan solusi moneter Islam).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image