Dari Lobang Tikus ke Sila Pertama: Kisah Perumusan Pancasila yang Sering Terlewat
Edukasi | 2026-05-27 23:06:37Pernahkah kamu bertanya, mengapa sila pertama Pancasila berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan bukan "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya"? Banyak yang mengira Pancasila muncul begitu saja dalam satu malam inspirasi. Padahal, perumusannya adalah proses panjang penuh dialektika, kompromi, dan keberanian moral para pendiri bangsa. Sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu; ia adalah cermin bagi cara kita bernegara hari ini.
Isi OpiniProses perumusan Pancasila dimulai ketika Jepang membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 April 1945. Sidang pertama BPUPKI berlangsung 29 Mei–1 Juni 1945, dengan pertanyaan mendasar dari ketua Radjiman Wedyodiningrat: "Apa dasar negara Indonesia yang akan kita dirikan?"Dari sidang inilah tiga tokoh utama mengemukakan usulan dasar negara:Moh. Yamin – 29 Mei 19451. Ketuhanan Yang Maha Esa2. Kebangsaan Persatuan Indonesia3. Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaSoepomo – 31 Mei 19451. Persatuan2. Kekeluargaan3. Keseimbangan4. MusyawarahKeadilan RakyatIr. Soekarno – 1 Juni 19451. Kebangsaan Indonesia2. Internasionalisme/Peri-Kemanusiaan3. Mufakat/Demokrasi4. Kesejahteraan Sosial5. Ketuhanan Yang Maha EsaTanggal 1 Juni kemudian kita peringati sebagai Hari Lahir Pancasila karena Soekarno yang pertama kali mengucap kata "Pancasila" untuk lima dasar negara tersebut.Usulan-usulan ini kemudian dibahas lebih lanjut oleh Panitia Sembilan, yang menghasilkan naskah Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Di Piagam Jakarta, sila pertama masih berbunyi:"Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya"Namun, pada 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengesahkan UUD 1945. Dalam sidang mendesak itu, atas usul tokoh Muslim seperti Ki Bagus Hadikusumo dan demi menjaga persatuan bangsa, sila pertama diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Keputusan ini bukan "penghapusan nilai Islam", melainkan pilihan sadar untuk menempatkan Indonesia sebagai negara yang religius tetapi inklusif—tidak hanya untuk satu kelompok.Rumusan final Pancasila yang kita gunakan sekarang adalah:1. Ketuhanan Yang Maha Esa2. Kemanusiaan yang adil dan beradab3. Persatuan Indonesia4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Mengapa sejarah ini penting? Pertama, perumusan Pancasila menunjukkan bahwa negosiasi dan kompromi adalah jiwa bernegara. Para pendiri bangsa rela mengorbankan bagian dari usulan mereka demi persatuan. Jika saja mereka keras kepala, Indonesia mungkin pecah sebelum lahir. Kedua, perubahan sila pertama mengajarkan kita bahwa identitas bangsa tidak eksklusif. Indonesia bukan negara sekuler total, tetapi juga bukan negara agama. Ia memilih jalan tengah: negara berketuhanan yang menghormati semua pemeluk agama. Ketiga, banyak orang hari ini mengkritik Pancasila tanpa tahu sejarahnya. Mereka lupa bahwa Pancasila lahir dari proses reflektif, bukan dogma turun dari langit. Mengerti sejarah = punya hak untuk mengkritik secara cerdas. Kesimpulan Perumusan Pancasila adalah kisah luar biasa tentang bagaimana tiga tokoh besar, satu badan bernama BPUPKI, dan satu panitia kecil bernama Panitia Sembilan berhasil merumuskan dasar negara dalam waktu kurang dari tiga bulan. Dari usulan awal, Piagam Jakarta, hingga perubahan sila pertama oleh PPKI, setiap langkah penuh pertimbangan moral dan politik. Pandangan ke depan: daripada selalu debat apakah Pancasila "lama" atau "baru", lebih baik kita belajar dari cara pendiri bangsa bernegosiasi. Mereka tidak memilih yang paling mudah, melainkan yang paling mempersatukan. Di tengah polarisasi hari ini, itu justru pelajaran paling relevan. Jadi, setiap kali kamu mengucapkan Pancasila, ingatlah: di balik lima kalimat itu ada sejarah panjang pilihan sadar untuk menjadi satu bangsa yang beda agama, beda suku, tapi tetap satu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
