THR Nadhif dan Pengorbanan Si Putih
Agama | 2026-05-28 15:19:43Nadhif, anak kelas 1 Al-Batany SDIT Bina Ilmi Lemabang, punya kaleng biskuit yang istimewa. Isinya bukan kue, tapi amplop-amplop THR dari Idul Fitri dua bulan lalu. Saat teman-temannya sudah menghabiskan THR untuk mainan, Nadhif justru belum membuka satu pun. Ia punya rencana.
Waktu salat Idul Fitri selesai, Nadhif bersalaman keliling. Dari Kakek Anang, Nenek Ine, Ujang Naufal, Uju Nafila, Uwak Puput, Tante Lia, Ayah Refa, Bunda Nisa, Nadhif dapat banyak amplop warna-warni. Malamnya, sambil menghitung, Ayah bertanya, “Uangnya mau dipakai apa, Nak?”
Nadhif menjawab pelan, “Nadhif mau simpan, Yah. Bu Guru bilang beberapa bulan lagi bulan Dzulhijjah, bulan Kurban. Nadhif mau ikut berkurban seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” Ayah tersenyum lalu memeluk Nadhif erat-erat.
Uang THR itu Nadhif masukkan ke kaleng biskuit. Tidak dipakai jajan sama sekali. Dua bulan kemudian, uangnya cukup. Ayah mengajak Nadhif ke pasar hewan. Di sana, Nadhif memilih sendiri kambing putih dewasa bertelinga cokelat. “Namanya Putih ya, Yah,” kata Nadhif. Ayah Refa mengangguk setuju. Itulah hewan kurban yang ia beli murni dari uang THR Idul Fitri.
Setiap sore, Nadhif merawat Putih di kebun belakang rumah. Putih tumbuh sehat. Bulunya mengkilap karena Nadhif rajin memandikan dan memberi rumput segar.
Menjelang Idul Adha, sepupunya datang dari Salatiga dam Serang, Nafisah dan Nolan. Mereka takjub melihat Putih. Nafisah setuju dengan nama Putih: “Putih, karena bulunya putih.” Nolan tidak berkata apa-apa, karena memang belum bisa berbicara, baru berumur 1,5 tahun. Sejak itu mereka bertiga kompak merawat Putih setiap hari.
Hari-hari berlu mendekati Idul Adha, Nadhif jadi sering melamun. Ia sayang sekali sama Putih. Malam takbiran, Kakek mengajak mereka duduk di serambi sambil mendengar gema takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah.
“Kak Nadhif,” kata Nafisah ke Nadhif, “Uang THR Kak Nadhif kemarin jadi Putih. Kalau besok Putih jadi hewan kurban, berarti THR Kak Nadhif hilang dong?”
Nadhif menggeleng. “Nggak hilang, Nafisah. Justru menjadi pahala. Kata Bunda Mufti di sekolah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada amalan anak Adam pada hari Idul Adha yang lebih dicintai Allah SWT daripada mengalirkan darah hewan kurban. HR. Tirmidzi.”
Bunda Nisa menambahkan, “Iya. THR kamu nggak habis buat jajan, tapi jadi makanan untuk orang yang lapar. Itu namanya sedekah paling baik." Kata Ayah Refa, "Rasulullah juga bilang, sedekah tidak akan mengurangi harta. HR. Muslim.”
Kakek Anang mengelus kepala Nadhif. “Nadhif hebat. Umur 6 tahun sudah bisa menahan diri tidak pakai THR buat mainan. Kamu meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau rela memberikan yang paling dicintai karena Allah SWT. Kisahnya ada di Surah As-Saffat ayat 102 sampai 107.”
Nadhif menunduk. “Tapi Nadhif tetap sedih, Nang. Nadhif sayang Putih.”
“Sedih itu tanda hati kamu lembut, Nak,” jawab Kakek Anang. “Tapi ingat, Allah SWT tidak melihat hewannya. Yang Allah SWT lihat itu takwa kita. Ada di Surah Al-Hajj ayat 37: Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah SWT, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Nafisah menggenggam tangan Nadhif. “Kak Nadhif, tahu nggak? THR itu rezeki dari Allah SWT lewat Kakek Anang, Nenek Ine, Ujang Naufal, Uju Nafila, Uwak Puput, Tante Lia. Terus Kak Nadhif pakai lagi di jalan Allah SWT. Berarti Kak Nadhif sudah bersyukur. Allah SWT janji di Surah Ibrahim ayat 7: Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah nikmat-Ku.”
Pagi Idul Adha, Nadhif memakai baju koko putih. Selesai salat Id, Nadhif menuntun Putih ke lapangan bersama Pak Ustadz Shabirin. Sebelum prosesi kurban, Pak Ustadz berdoa, “Bismillah, Allah SWTu akbar. Ya Allah SWT, ini dari Nadhif, dari uang THR yang ia kumpulkan. Terimalah darinya.” Pak Ustadz lalu mengurus Putih dengan sangat baik, lembut, dan sesuai ajaran Rasulullah.
Nadhif memejamkan mata dan membaca dalam hati doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam.” Surah Al-An’am ayat 162.
Nadhif bersama Ayah Refa dan Kakek Anang membantu panitia Kurban di Kompleks PLN. Menjelang zuhur daging Putih jadi bungkusan-bungkusan. Nadhif, Nafisah, dan Nolan ikut mengantar ke rumah-rumah.
Rumah pertama, rumah Nek Ino. “Nek, ini daging Putih. Dari THR Nadhif,” kata Nadhif. Nek Ino menangis haru, “Ya Allah SWT, THR kamu jadi berkah buat Nek Ino. Semoga Allah SWT ganti dengan mainan di surga ya, Cung.”
Rumah kedua, Pak Surip, tukang becak. Rumah ketiga, Bibik Rohana yang anaknya sakit. Setiap pintu yang diketuk, selalu pulang membawa doa. Nadhif jadi mengerti, THR-nya tidak hilang. THR-nya berubah jadi senyum, jadi masakan di dapur orang, jadi tenaga untuk Pak Surip lebih giat bekerja.
Sore hari, Nadhif melihat kandang Putih sudah kosong. Tapi kaleng biskuit Nadhif sudah diisi lagi oleh Kakek. “Ini THR Kakek buat kamu tahun ini, khusus buat tabungan kurban tahun depan,” kata Kakek. “Kita ajak Nafisah dan Nolan juga ya.”
Nafisah langsung semangat, “Aku mau simpan THR juga! Kata Rasulullah, orang yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. HR. Thabrani.” Nolan mengacungkan kalengnya. Mulutnya bergerak-gerak berbicara. Meskipun belum bisa berbicara, Nolan tetap bersemangat. Seolah-olah Nolan berkata: “Kalau kita ikhlas, Allah SWT ganti lebih banyak. Seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang dapat hewan dari surga.”
Nadhif tersenyum lebar. Ia menatap kaleng biskuitnya. Dulu isinya amplop THR Idul Fitri. Sekarang isinya janji untuk Idul Adha tahun depan. Dan di hatinya, ada rasa hangat yang tidak bisa dibeli dengan THR berapa pun.
Malam itu Nadhif tidur nyenyak. Ia bermimpi melihat Putih berlari di padang hijau yang luas. Putih memandang Nadhif, mengembik bahagia, seolah bilang, “Terima kasih ya, Dif. THR kamu sudah sampai ke banyak orang.”
Sejak hari itu, Nadhif paham. Idul Fitri mengajarkan berbagi kebahagiaan, dan Idul Adha mengajarkan berbagi pengorbanan. Dua-duanya sama: Sama-sama membuat Allah SWT sayang, sama-sama membuat orang lain tersenyum.
Pesan untuk anak-anak
Anak-anakku sekalian. Kalian hebat kalau bisa menabung seperti Nadhif. Tidak harus menunggu jadi orang dewasa untuk berbuat baik. Uang THR, uang jajan, atau uang dari celengan bisa jadi pahala besar kalau dipakai di jalan Allah SWT.
1. Sayang sama Allah SWT dulu
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sayang sekali sama putranya, tapi beliau lebih sayang sama Allah SWT. Kalau kita lebih sayang sama Allah SWT, kita jadi berani berbagi apa yang kita suka. Allah SWT janji di Surah Al-Baqarah ayat 261: orang yang sedekah hartanya akan Allah SWT lipatgandakan sampai 700 kali.
2. Ikhlas itu membuat hati lapang
Awalnya Nadhif sedih melepas Putih. Tapi setelah melihat senyum Nek Siti, hati Nadhif jadi tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sedekah tidak akan mengurangi harta. HR. Muslim. Malah Allah SWT tambah dengan rasa bahagia yang tidak bisa dibeli.
3. Mulai dari yang kecil
Kalian tidak harus beli kambing sendiri. Bisa patungan sama teman, adik, atau kakak. Bisa juga bantu Ayah dan Ibu membagikan daging kurban ke tetangga. Kata Rasulullah: Orang yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. HR. Thabrani.
4. Syukuri THR dengan cara terbaik
THR itu rezeki dari Allah SWT lewat orang tua dan keluarga. Kalau kita pakai untuk kebaikan, itu tanda syukur. Allah SWT berfirman di Surah Ibrahim ayat 7: Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah nikmat-Ku.
Jadi, yuk kita siapkan kaleng biskuit kita dari sekarang. Isi sedikit-sedikit. Nanti saat Idul Adha, kita bisa ikut senang karena sudah membuat orang lain kenyang dan tersenyum. Itu artinya, kita sudah meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selamat mencoba jadi anak hebat seperti Nadhif, Nafisah, dan Nolan ya!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
