Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Ruyani

Dari Flashdisk ke Intranet: Membangun Ujian Digital yang Aksesibel untuk Siswa Tunanetra

Teknologi | 2026-05-22 16:53:54

Bayangkan mengikuti ujian tanpa bisa melihat layar, dan untuk mengumpulkan jawaban, kamu harus mencolokkan flashdisk ke laptop secara mandiri. Itulah tantangan nyata yang dihadapi siswa-siswa di SKH-IT Yarfin setiap kali ujian berlangsung.SKH-IT Yarfin — singkatan dari Sekolah Khusus Islam Terpadu Yayasan Raudlatul Makfufin — adalah sekolah khusus untuk siswa penyandang disabilitas netra yang berlokasi di Tangerang Selatan, Banten. Yang membuatnya berbeda adalah komitmennya terhadap teknologi: setiap siswa sudah dibekali laptop sebagai alat belajar utama.Namun ada satu masalah besar yang belum terpecahkan. Ketika ujian berlangsung, siswa mengerjakan soal di laptop, tapi untuk mengumpulkan jawaban mereka harus menyalin file ke flashdisk dan menyerahkannya secara fisik kepada guru. Bagi siswa yang tidak bisa melihat, langkah yang terlihat sederhana ini bisa menjadi hambatan besar — mereka harus meraba-raba port USB, mencolokkan flashdisk dengan tepat, atau terpaksa meminta tolong pendamping.Solusi dari Ahmad Ruyani, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang, melihat masalah ini sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Dalam program Kerja Praktek (KP)-nya, ia merancang dan membangun Sistem Ujian Berbasis Intranet yang Aksesibel — sebuah platform yang memungkinkan siswa mengerjakan dan mengumpulkan jawaban ujian langsung melalui browser di laptop, tanpa perlu menyentuh flashdisk sama sekali.Sistem dibangun menggunakan teknologi web modern: PHP 8.2, framework Laravel 12, database MySQL, dan tampilan Bootstrap 5.3.2. Semua berjalan di jaringan WiFi internal sekolah, sehingga tidak memerlukan koneksi internet untuk beroperasi.Dibangun untuk Pengguna TunanetraYang membedakan sistem ini dari aplikasi ujian biasa adalah lapisan aksesibilitas yang dibangun dari dalam. Setiap tombol, setiap form, setiap pengumuman dirancang untuk bekerja dengan baik bersama NVDA dan JAWS — dua aplikasi pembaca layar yang paling banyak digunakan oleh komunitas tunanetra.Beberapa fitur unggulannya antara lain:Pertama, navigasi keyboard penuh. Seluruh sistem dapat dioperasikan hanya menggunakan keyboard tanpa mouse sama sekali. Tersedia shortcut khusus Alt+T untuk mendengar sisa waktu ujian, dan Alt+J untuk meloncat langsung ke nomor soal tertentu.Kedua, pengumuman suara real-time. Setiap kali siswa memilih jawaban, sistem langsung mengumumkannya melalui pembaca layar. Timer ujian juga berubah warna dan nada peringatan ketika waktu tersisa 5 menit terakhir.Ketiga, tampilan 10 soal per halaman dengan indikator halaman yang sudah dijawab, sehingga siswa bisa memantau progres tanpa harus scroll panjang.Keempat, untuk guru, sistem menyediakan fitur upload soal massal dari file Word atau PDF. Sistem otomatis membaca soal, pilihan jawaban A hingga E, dan kunci jawaban — termasuk mendeteksi soal berbentuk teks bacaan/narasi secara otomatis. Nilai pilihan ganda langsung dihitung otomatis dengan formula 70% pilihan ganda dan 30% esai.Enam Iterasi, Satu TujuanSistem tidak langsung sempurna di percobaan pertama. Ahmad menerapkan metode Prototype — pendekatan pengembangan yang melibatkan pengguna sejak awal dan terus memperbaiki sistem berdasarkan masukan nyata dari guru dan siswa SKH-IT Yarfin.Selama enam iterasi, berbagai penyesuaian dilakukan. Paginasi 10 soal per halaman ditambahkan karena terbukti lebih nyaman dibandingkan scrolling satu halaman panjang. Tipe soal Narasi/Bacaan ditambahkan atas permintaan guru. Shortcut keyboard diperhalus berdasarkan uji coba langsung bersama siswa tunanetra.Setelah enam iterasi, sistem diuji menggunakan metode Black Box Testing terhadap 42 skenario yang mencakup seluruh fitur utama. Hasilnya: 42 dari 42 skenario berjalan sesuai ekspektasi, atau tingkat keberhasilan 100%.Momen yang Tidak TerlupakanNamun angka tidak menceritakan semuanya. Momen paling bermakna terjadi ketika seorang siswa tunanetra duduk di depan laptop, membuka browser, login ke sistem, mengerjakan soal satu per satu menggunakan keyboard sambil mendengarkan NVDA membacakan pertanyaan, lalu menekan tombol "Serahkan" — tanpa bantuan dari siapapun."Yang paling bikin saya senang adalah waktu siswa berhasil submit ujian sendiri, tanpa minta tolong siapapun. Itu momen yang tidak akan saya lupakan," ujar Ahmad.Sebagai mahasiswa yang juga merupakan penyandang disabilitas netra, Ahmad memiliki perspektif yang tidak dimiliki kebanyakan pengembang. Ia tidak hanya merancang untuk pengguna hipotetikal — ia merancang untuk dirinya sendiri dan orang-orang sepertinya."Saya ingin membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya di bidang teknologi. Justru pengalaman hidup saya yang membuat saya bisa membangun sistem ini lebih baik," tambahnya.Sistem Ujian Berbasis Intranet yang Aksesibel kini siap digunakan oleh seluruh warga SKH-IT Yarfin. Satu langkah kecil untuk dunia teknologi, satu lompatan besar untuk pendidikan inklusif di Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image