TMII yang Bukan Lagi Sekadar Kenangan
Wisata | 2026-05-20 18:23:53Menjelajahi wajah baru Taman Mini Indonesia Indah setelah revitalisasi senilai lebih dari Rp 1,2 triliun
Bagi banyak orang Jakarta, nama Taman Mini Indonesia Indah menyimpan kenangan masa kecil yang hangat — foto di depan miniatur kepulauan Nusantara, antri naik kereta gantung, atau berlarian di antara anjungan-anjungan daerah yang penuh warna. Tapi ketika saya berkunjung belakangan ini, satu hal langsung terasa: TMII yang ini bukan lagi TMII yang sama dari kenangan itu. Dan itu, ternyata, adalah hal yang baik.
Revitalisasi besar-besaran yang dimulai sejak Januari 2022 dan diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 1 September 2023 telah benar-benar mengubah wajah kawasan seluas 150 hektare di Cipayung, Jakarta Timur ini. Bukan sekadar cat baru di dinding — tapi perubahan yang terasa dari langkah pertama kaki menginjak area masuk.
“Masyarakat sekarang bisa mengunjungi dan menikmati wajah baru TMII yang tertata rapi, lebih hijau, lebih indah, dan lebih nyaman.” — Presiden Joko Widodo, saat peresmian revitalisasi TMII, 1 September 2023
Yang paling langsung terasa adalah udara. Konsep revitalisasi mengembalikan TMII ke rencana induk awalnya — 70 persen ruang terbuka hijau dan 30 persen bangunan. Ini berarti banyak bangunan yang sebelumnya “memakan” lahan hijau telah dikembalikan fungsinya sebagai taman dan jalur pejalan kaki yang lega. Hasilnya terasa nyata: kawasan yang dulu terasa padat dan panas kini terasa jauh lebih sejuk dan lapang.
Lebih dari Sekadar Renovasi
Proyek revitalisasi ini bukan perkara kecil. Total anggaran yang dikucurkan mencapai Rp 1,07 triliun dari APBN, ditambah Rp 200 miliar dari PT InJourney — menjadikannya salah satu proyek revitalisasi destinasi wisata terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia. Dan hasilnya bisa dirasakan langsung.
Seluruh 33 anjungan daerah telah dipercantik. Bangunan-bangunan yang sebelumnya terkesan kusam kini tampil lebih terawat tanpa kehilangan ciri khas arsitektur masing-masing daerah. Di sinilah nilai penting revitalisasi ini: ia tidak menghapus identitas, melainkan merawatnya. Ragam rumah adat dari Sabang sampai Merauke tetap berdiri megah — hanya kini lebih bersih, lebih terang, dan lebih mudah dinikmati.
Salah satu perubahan yang paling saya apresiasi adalah pengurangan kendaraan bermotor di area inti. Jalur pejalan kaki dan sepeda kini mendominasi, membuat pengalaman berkeliling TMII terasa lebih santai dan menyenangkan. Tidak ada lagi was-was terlanggar motor atau angkot yang lalu-lalang di tengah jalan setapak. Sebagai gantinya, kendaraan listrik kini tersedia untuk mengantarkan pengunjung yang butuh mobilitas lebih.
Inklusif untuk Semua
Satu aspek yang terasa sungguh berbeda adalah semangat inklusivitasnya. TMII pasca-revitalisasi dirancang agar ramah untuk semua kalangan — dari anak-anak hingga lansia, termasuk pengunjung dengan kebutuhan khusus. Fasilitas publik yang lebih modern, toilet yang lebih bersih, dan akses yang lebih mudah membuat kunjungan terasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
Konsep ini berpijak pada filosofi inklusivitas yang tetap mempertahankan kekuatan kebangsaan — Pancasila sebagai landasan, keberagaman budaya sebagai daya tarik, dan keterbukaan untuk seluruh lapisan masyarakat sebagai tujuan. Di atas kertas itu mungkin terdengar seperti jargon, tapi ketika berjalan menyusuri anjungan demi anjungan dan melihat keluarga dari berbagai latar belakang menikmati hari mereka bersama, rasanya seperti melihat “Indonesia dalam miniatur” yang sesungguhnya.
TMII memang bukan destinasi yang paling “kekinian” di Jakarta — tidak ada instalasi seni imersif atau kafe estetik yang viral di media sosial. Tapi justru di situlah pesonanya. Ia adalah tempat di mana kamu bisa merasakan Indonesia dalam satu hari: melihat rumah adat Toraja berdiri berdampingan dengan rumah adat Betawi, mendengar gamelan mengalun pelan di sore hari, atau sekadar duduk di bawah pohon besar sambil menikmati angin yang — berkat konsep hijau yang dipulihkan — kini benar-benar terasa segar.
Kalau kamu terakhir ke TMII lebih dari tiga tahun lalu, sudah saatnya kembali. Bukan karena nostalgia, tapi karena memang ada hal-hal baru yang layak untuk dilihat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
