Budaya Sungkan yang Diam-Diam Menghambat Banyak Hal
Culture | 2026-03-13 18:56:51
Di banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia, ada satu nilai sosial yang sering dianggap sebagai bentuk kesopanan: sungkan. Perasaan tidak enak hati untuk menolak, mengkritik, atau bahkan menyampaikan pendapat sering kali dianggap sebagai bagian dari etika dalam berinteraksi.
Sekilas, budaya sungkan terlihat positif karena menjaga hubungan tetap harmonis. Orang berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, menghindari konflik, dan menjaga suasana tetap nyaman. Namun, dalam banyak situasi, budaya ini juga membawa konsekuensi yang jarang dibicarakan.
Dalam lingkungan kerja, misalnya, banyak orang yang sebenarnya memiliki ide atau kritik penting tetapi memilih diam karena merasa tidak enak menyampaikan pendapat kepada atasan atau rekan kerja. Akibatnya, diskusi menjadi kurang terbuka dan keputusan sering diambil tanpa mempertimbangkan berbagai sudut pandang.
Hal serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang menerima beban pekerjaan tambahan meskipun sebenarnya tidak sanggup, hanya karena merasa tidak enak menolak. Ada pula yang tetap menghadiri undangan atau kegiatan yang tidak benar-benar diinginkan, sekadar untuk menjaga perasaan orang lain.
Di satu sisi, menjaga perasaan memang penting dalam kehidupan sosial. Namun jika perasaan sungkan terlalu mendominasi, ruang komunikasi yang jujur bisa semakin sempit. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan sejak awal justru berlarut-larut karena tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Tantangannya bukan menghilangkan budaya sungkan sepenuhnya, tetapi menyeimbangkannya dengan keberanian untuk berbicara secara jujur dan konstruktif. Menghargai orang lain tidak selalu berarti harus selalu setuju atau selalu mengalah.
Dalam masyarakat yang terus berkembang, kemampuan menyampaikan pendapat dengan cara yang sopan tetapi tegas mungkin menjadi keterampilan sosial yang semakin penting. Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hanya dibangun dari rasa sungkan, tetapi juga dari komunikasi yang jujur.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
