Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eko Widiantoro

Danghyang Rundayan Talaga dan Upaya Menjaga Budaya Sunda di Tengah Arus Modernisasi

Kultura | 2026-05-15 13:49:19
Bupati Majalengka menerima lukisan dirinya dari perupa yang di dampingi langusing Dewan Adat Budaya, H.Baya.(Foto: Eko/Republika)

Retizen.Republika.co.id - Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus modernisasi, masyarakat adat di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, berupaya menjaga ruang hidup budaya Sunda agar tidak perlahan hilang ditelan zaman.

Upaya itu terlihat dalam peringatan Milangkala ke-1 Masyarakat Adat Budaya Danghyang Rundayan Talaga (DRT) Tahun 2026 yang digelar di kawasan Wisata Gununglaya Argasari, Kecamatan Talaga, Rabu (13/5/2026).

Bagi masyarakat adat Danghyang Rundayan Talaga, budaya bukan sekadar pertunjukan seni atau seremoni tahunan. Budaya dipandang sebagai warisan pengetahuan, identitas sosial, hingga nilai hidup yang diwariskan turun-temurun dari karuhun Sunda.

Dalam kegiatan tersebut, berbagai kesenian tradisional Sunda ditampilkan, mulai dari pertunjukan seni etnik hingga ritual budaya yang dikemas lebih terbuka agar dapat diterima generasi muda.

Dewan Adat Masyarakat Adat Budaya Danghyang Rundayan Talaga, H. Baya, mengatakan tantangan terbesar pelestarian budaya hari ini adalah menjaga agar generasi muda tetap memiliki keterikatan terhadap akar budayanya sendiri.

“Kami ingin budaya Sunda tetap hidup, bukan hanya dikenang. Generasi muda harus ikut merasa memiliki dan bertanggung jawab menjaga warisan budaya karuhun,” ujar H. Baya.

Menurut dia, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan lewat seremoni, tetapi juga melalui pewarisan nilai, bahasa, dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Fenomena berkurangnya ruang budaya lokal di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer global menjadi kekhawatiran banyak komunitas adat di berbagai daerah. Tidak sedikit tradisi yang mulai ditinggalkan karena dianggap tidak lagi relevan dengan kehidupan modern.

Padahal, dalam budaya lokal tersimpan nilai-nilai sosial yang selama ini menjadi perekat masyarakat, mulai dari gotong royong, penghormatan terhadap alam, hingga solidaritas antarwarga.

Bupati Majalengka, Eman Suherman, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebut budaya memiliki posisi penting dalam menjaga identitas masyarakat sekaligus memperkuat karakter bangsa.

“Budaya adalah pondasi penting dalam membangun karakter bangsa. Ketika budaya dijaga, maka identitas dan persatuan masyarakat juga akan tetap kuat,” kata Eman Suherman.

Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Majalengka akan terus mendukung kegiatan pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan berbasis kearifan lokal.

Bagi komunitas Danghyang Rundayan Talaga, Milangkala pertama ini bukan sekadar perayaan usia organisasi. Acara tersebut menjadi penanda bahwa budaya Sunda masih terus diperjuangkan untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dari kaki Gununglaya Argasari, masyarakat adat mencoba menjaga agar warisan budaya leluhur tidak hanya menjadi cerita masa lalu, melainkan tetap hadir dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image