Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Naomi Liling

Begadang dan Kesehatan Mental Mahasiswa: Ancamam yang Dianggap Biasa

Gaya Hidup | 2026-05-12 14:58:26

Malam sering kali menjadi waktu paling produktif bagi siswa. Ketika suasana mulai sunyi, banyak siswa memilih menyelesaikan tugas, menonton film, atau sekadar menggulir media sosial dini hingga hari. Kebiasaan ini perlahan menjadi pola hidup yang dianggap wajar, bahkan dibanggakan. Padahal, begadang tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik, tapi juga berdampak serius pada kesehatan mental. Fenomena ini semakin menguat seiring kehidupan akademik dan sosial yang bergantung pada teknologi digital. Tugas dikirim melalui platform bold, diskusi dilakukan melalui aplikasi pesan, sementara tersedia hiburan tanpa batas selama 24 jam. Situasi ini membuat mahasiswa sulit mengatur waktu istirahat. Mereka mengakhiri tidurnya demi aktivitas yang bisa dilakukan di waktu lain.

Dampak terhadap Emosi dan Konsentrasi Kurang tidur mempengaruhi kondisi emosional. Penelitian Universitas California, Berkeley (2019) menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan reaktivitas amigdala bagian otak yang mengatur emosi hingga 60%. Siswa yang sering begadang cenderung lebih mudah marah, sensitif, dan sulit mengendalikan emosi. Otak tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memulihkan fungsi sarafnya. Selain emosi, konsentrasi juga terdampak. Banyak siswa yang merasa tetap produktif ketika tidur larut malam, padahal kualitas kerja menurun. Otak yang lelah sulit fokus menerima informasi baru. Siswa menjadi mudah lupa, sulit memahami materi, dan kurang maksimal saat perkuliahan.

Risiko Gangguan Kesehatan Mental Jangka Panjang Dalam jangka panjang, begadang meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti cemas berlebihan dan depresi. Pola tidur terganggu, tubuh memproduksi hormon kortisol stres dalam jumlah lebih tinggi. Seseorang menjadi lebih rentan mengalami tekanan psikologis (Asosiasi Psikologi Amerika, 2021). Mahasiswa yang terus-menerus kelelahan kehilangan motivasi, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga merasa putus asa.Kondisi ini diperparah oleh budaya kompetitif di kampus dan pengaruh media sosial. Banyak siswa yang mengunggah aktivitas begadang sebagai simbol kerja keras. Kalimat seperti “tidur nanti saja” menormalisasi pola hidup tidak sehat. Algoritma media sosial dirancang agar pengguna terus bertahan di depan layar, membentuk siklus buruk.

Faktor Ekonomi dan Tekanan Sosial Tekanan ekonomi menjadi pemicu. Sebagian mahasiswa harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan sampingan, sehingga malam menjadi waktu tersisa untuk bekerja. Lingkungan pertemanan juga mempengaruhi pola tidur. Ketika sebagian besar teman memiliki kebiasaan tidur larut, siswa lain ikut beralihnya waktu istirahatnya.

Solusi: Bukan Sekadar Tidur Lebih Awal Masalah begadang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh siswa tidur lebih cepat. Diperlukan kesadaran bersama. Mahasiswa perlu memahami bahwa tidur bukanlah tanda kemalasan, melainkan kebutuhan dasar yang mendukung produktivitas dan kestabilan emosi. Pengelolaan waktu yang baik adalah langkah konkret. Kampus memiliki peran penting. Lingkungan akademik seharusnya memperhatikan kesejahteraan psikologis siswa. Dosis dapat memberikan waktu yang realistis, sementara kampus menyediakan edukasi soal pola tidur sehat dan layanan konseling. Membatasi penggunaan gawai sebelum tidur juga membantu meningkatkan kualitas istirahat. Begadang mungkin terlihat biasa saja, tapi dampaknya besar. Di balik layar yang menyala, terdapat tubuh dan pikiran yang kelelahan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan prestasi akademik. Sudah saatnya budaya begadang ditinggalkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image