Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image gitaagustiana1@gmail.com

Ibu: Daycare Terbaik bagi Generasi

Agama | 2026-05-12 08:20:55

Ibu: Daycare Terbaik bagi Generasi

Oleh: Gita Agustiana, S.Pd. (Pemerhati Kebijakan Publik)

Allah Swt. telah menanamkan naluri kasih sayang pada setiap manusia, terlebih kepada seorang ibu terhadap anaknya. Seorang ibu bukan hanya menjaga, tetapi juga menanamkan rasa aman, perhatian, serta nilai-nilai kehidupan sejak dini. Dari suara lembutnya, anak belajar cinta. Dari kesabarannya, anak belajar ketenangan. Dari kehadirannya, anak menemukan rumah pertama bagi hati dan jiwanya. Tidak ada yang mampu menggantikan ikatan fitrah antara ibu dan anak, karena kasih ibu adalah tempat terbaik bagi tumbuhnya generasi yang kuat dan penuh cinta.

Namun, di tengah sulitnya kehidupan saat ini, banyak ibu terpaksa bekerja demi menopang ekonomi keluarga. Akibatnya, peran sebagai ibu sering kali tidak dapat dijalankan secara maksimal. Banyak orang tua akhirnya mempercayakan pengasuhan anak kepada daycare ketika mereka bekerja. Fasilitas yang nyaman, pengasuh yang ramah, hingga program pendidikan yang menarik sering dianggap sebagai solusi terbaik bagi anak.

Faktanya, tidak sedikit daycare justru menjadi tempat terjadinya kekerasan terhadap anak. Salah satunya kasus yang terjadi di daycare Little Aresha Jogja. Dikutip dari detik.com, kasus tersebut terungkap setelah polisi melakukan penggerebekan di daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, pada Jumat (24/4). Polisi mengamankan 30 orang dan menetapkan 13 orang sebagai tersangka. Korban diketahui berjumlah 53 anak dari total 103 anak yang terdaftar.

Kapolresta Yogyakarta, Kombes Eva Guna Pandia, mengungkapkan bahwa seluruh tersangka adalah perempuan. Dari video yang beredar, terlihat anak-anak diikat dalam ruangan sempit dengan sirkulasi udara minim, bahkan beberapa tidak dipakaikan baju. Sejumlah anak juga mengalami luka lebam pada tangan dan kaki akibat kekerasan yang dilakukan selama ini.

Fenomena kekerasan di daycare bukanlah pertama kali terjadi. Hanya saja, kasus ini menjadi sorotan karena ramai diberitakan media. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Sulitnya Kondisi Ekonomi

Kebutuhan hidup semakin banyak dan mahal, sementara penghasilan banyak keluarga tidak mengalami peningkatan berarti selama bertahun-tahun. Kondisi ini memaksa sebagian ibu ikut bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan, tidak sedikit ayah yang kehilangan pekerjaan sehingga keluarga bergantung pada penghasilan istri.

2. Lemahnya Sistem Hukum

Saat ini hukum belum mampu memberikan keadilan, perlindungan, maupun efek jera secara maksimal. Akibatnya, pelanggaran terus berulang dan kejahatan semakin meningkat. Dalam kasus daycare ini, para pelaku memang dijerat dengan berbagai pasal, tetapi hukuman yang diberikan dinilai masih ringan dibanding dampak trauma yang dialami anak-anak.

3. Lemahnya Kontrol Negara

Kasus kekerasan di daycare dilakukan secara sistematis dan bahkan diketahui tidak memiliki izin resmi. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak belum menjadi perhatian serius negara. Padahal, anak adalah generasi penerus yang seharusnya dijaga, bukan hanya fisiknya, tetapi juga mental, akhlak, dan tumbuh kembangnya.

Dengan demikian, persoalan ini layaknya fenomena gunung es. Kasus yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari akar masalah yang lebih besar. Akar persoalan tersebut adalah diterapkannya sistem kapitalisme-sekuler, yaitu sistem yang menjadikan materi dan keuntungan sebagai tujuan utama kehidupan serta memisahkan agama dari aturan hidup. Akibatnya, banyak manusia bertindak tanpa menjadikan syariat Islam sebagai pedoman.

Hal ini tentu berbeda dengan pandangan Islam. Dalam Islam, ibu adalah pengasuh terbaik (hadhanah) bagi anak-anaknya. Ibu bukan sekadar penjaga, tetapi madrasah pertama yang membentuk kepribadian dan keimanan generasi. Di pangkuan ibulah anak pertama kali mengenal kasih sayang, adab, halal dan haram, hingga kalimat tauhid yang menghidupkan hatinya. Karena itu, daycare terbaik bagi seorang anak sejatinya adalah didikan dan perhatian tulus dari seorang ibu yang menjadikan Islam sebagai landasan pengasuhan.

Dalam ungkapan yang masyhur disebutkan:

“Wanita adalah tiang negara.Jika wanitanya baik, baiklah negaranya.Jika wanitanya rusak, rusaklah negaranya.”

Artinya, baik buruknya suatu negara sangat dipengaruhi oleh kondisi para wanitanya, khususnya para ibu sebagai pencetak generasi. Karena itu, untuk mewujudkan negara dan generasi yang baik, dibutuhkan pula ibu-ibu yang baik. Tentu hal ini memerlukan peran negara yang besar.

Islam mengupayakan agar seorang ibu dapat menjalankan perannya secara sempurna. Adapun beberapa upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertama, Negara Menjamin Kebutuhan Rakyat

Dalam Islam, pemimpin (khalifah/imam) bertugas mengurus urusan rakyat dan menjamin kemaslahatan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya:“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini terlihat dalam kisah Umar bin Khattab yang memikul sendiri gandum untuk rakyatnya. Suatu malam, beliau mendapati seorang ibu yang memasak batu agar anak-anaknya tertidur karena lapar. Mendengar keluhan itu, Umar segera mengambil gandum dari baitul mal dan memikulnya sendiri untuk diberikan kepada keluarga tersebut. Bahkan beliau ikut memasakkan makanan hingga anak-anak itu kenyang. Kisah ini menunjukkan bahwa pemimpin dalam Islam merasa bertanggung jawab langsung atas kesejahteraan rakyat.

Kedua, Negara Menyediakan Lapangan Pekerjaan bagi Laki-Laki

Dalam sejarah Islam, negara mengelola pertanian, perdagangan, pasar, dan sumber daya alam untuk kepentingan umat. Laki-laki didorong bekerja dan mencari nafkah halal, sementara negara memastikan kebutuhan dasar rakyat tidak dikuasai segelintir orang. Dengan demikian, negara tidak hanya membuat aturan, tetapi juga bertanggung jawab memastikan rakyat dapat hidup layak dan menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Dengan demikian, pengasuhan terbaik sejatinya ada pada seorang ibu yang berilmu dan taat kepada Allah. Ia akan mendidik anak-anaknya dengan Islam sehingga lahir generasi tangguh pembawa perubahan. Sebagaimana para ulama besar seperti Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Imam Ahmad bin Hanbal, hingga sang penakluk Konstantinopel Mehmed II yang tidak lepas dari peran besar seorang ibu dalam mendidik mereka sejak kecil.

Wallahu a‘lam bishshawab.

窗体顶端

窗体底端

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image