Ayah yang Malu Sendirian
Info Terkini | 2026-06-04 10:11:43
Jagat maya ramai oleh seorang ayah yang bersimpuh di hadapan khalayak atas kesalahan anaknya. Ia melakukan itu karena malu, terkejut dan tak menyangka anaknya akan melakukan perbuatan keji. Di rumah, sang anak tampak baik-baik saja, namun di luar sana, media membuka aibnya dan mempertontonkannya hingga seantero negeri menyaksikan hal tersebut.
Wajar jika ayah malu, sebab merasa gagal menanamkan karakter baik pada anaknya. Sementara, tak hanya ayah yang bertanggung jawab terhadap kepribadian anaknya, negara pun wajib menjaga warganya agar senantiasa berada dalam kebaikan. Tidak terbawa kerusakan yang datang dari dunia maya atau pun yang berjalan dalam kehidupan nyata.
Negara wajib memperbaiki, dan mengatur kehidupan agar sejalan dengan petunjuk Ilahi. Sebab kerusakan yang terjadi akibat kesalahan sistemik akan mengakibatkan bencana yang besar.
Entah bagaimana keluarga ini harus menghadapi pandangan masyarakat. Baik di rumah, di kantor, bahkan di manapun, bisa jadi ayah merasa tak punya nyali dan tak punya muka lagi, karena netizen telah mengenali wajahnya.
Sesungguhnya Islam telah mengatur hal ini, diberikannya rasa malu dalam diri seseorang, untuk mencegahnya bermaksiat kepada Allah SWT. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah dan Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma yang berbunyi:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Artinya: Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.
(HR Bukhari No. 9 dan Muslim No. 35)
Rasa malu akan mendorong seseorang pada kebaikan, menunaikan kewajiban dan mencegahnya dari kelalaian terhadap hak Allah maupun sesama manusia. Rasa malu pun akan menahan seseorang dari perbuatan dosa, karena takut kepada Allah SWT. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sifat malu dan keimanan akan saling berdampingan. Jika rasa malu hilang, maka keimanan seseorang pun sirna.
Akan tetapi tidak semua rasa malu bernilai ibadah. Para ulama membagi rasa malu menjadi dua jenis, ada malu yang terpuji yaitu malu yang mencegah seseorang dari melakukan perbuatan maksiat, melanggar batas agama, atau melakukan hal yang menjatuhkan kehormatan. Ada pula malu yang tercela, yang justru menghalangi seseorang dalam melakukan kebaikan, misalnya, malu untuk bertanya tentang kebenaran atau ilmu, malu untuk mencari rezeki yang halal, malu tidak bisa masuk dalam circle yang merusak, dan sebagainya.
Maka perlu terus membangun komunikasi dengan anak-anak. Perhatikan lingkungan mereka, teman mereka dan bagaimana mereka menghadapi masalah. Apakah sesuai dengan tuntunan Islam, atau malah menyelisihinya.
Dalam Islam, hakikat rasa malu (haya') adalah akhlak mulia yang mendatangkan kebaikan dan menjaga kehormatan diri seorang Muslim.
Perlu standart yang jelas bagi perbuatan seorang hamba, apakah baik atau buruk, terpuji atau tercela. Semuanya harus bersandar pada perintah dan larangan Allah SWT. Pun diperlukan 3 pilar penyokong kebenaran, selain individu atau keluarga, ada peran masyarakat yang akan senantiasa mendorong pada kebaikan (yang ma'ruf) dan mencegah dari keburulan (munkar).
Apabila seluruh pilar itu telah tegak, maka saat terjadi petaka di tengah kehidupan umat, maka masyarakat dan negara akan segera bebenah diri, memperbaiki masyarakat, dan menegakkan hukum Allah di setiap waktu.
Potret ayah yang merasa malu sendirian hari ini, seharusnya juga muncul pada diri masyarakat dan negara. Ke mana saja mereka selama ini, sehingga satu demi satu anak bangsa, luput dari penjagaan kita. Allahumma ahyanaa bil islam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
