Menyembelih Masa Depan Gaza: Berharap pada PBB dan Nasionalisme adalah Ilusi Mematikan
Curhat | 2026-07-02 20:24:39Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah panggung teater kebiadaban yang paling kolosal dalam sejarah modern. Di atas tanah membara bernama Gaza, yang runtuh bukan sekadar dinding-dinding beton rumah penduduk, melainkan seluruh pilar kemanusiaan universal yang selama ini digungkan oleh peradaban sekuler Barat. Di garis depan pembantaian ini, sebuah entitas penjajah bernama Zionis tidak sedang melakukan "pertahanan diri" (self-defense) sebagaimana narasi usang yang mereka jejalkan. Mereka sedang melakukan agenda sistematis yang sangat presisi: menyembelih masa depan Palestina dengan menjadikan anak-anak sebagai target utama serangan mereka.
Genosida yang Terencana: Ketika Anak-Anak Menjadi Target Militer
Fakta di lapangan tidak lagi menyisakan ruang untuk perdebatan atau sekadar "keprihatinan mendalam." Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Al Jazeera dalam berita berjudul "More than 1,000 killed in Israel attacks on Gaza since ceasefire" pada tanggal 18 Juni 2026, kekejaman ini tidak menunjukkan tanda-tansu penyusutan. Bahkan, data yang lebih mengerikan diungkapkan dalam laporan Al Jazeera keesokan harinya, tepatnya pada 19 Juni 2026, yang menegaskan bahwa entitas Zionis membunuh rata-rata satu anak setiap hari di Gaza meskipun di tengah klaim gencatan senjata yang terus dipropagandakan.
Konfirmasi atas kejahatan perang yang luar biasa ini juga ditegaskan oleh badan anak PBB, UNICEF. Sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia pada 20 Juni 2026 dengan tajuk "UNICEF: Israel Bunuh 1 Anak Tiap Hari di Gaza meski Gencatan", kenyataan pahit ini membuktikan bahwa gencatan senjata di mata Zionis hanyalah sebuah kamuflase politik. Senada dengan itu, media Anadolu Agency pada tanggal yang sama melansir pernyataan resmi UNICEF yang menyebut gencatan senjata di Gaza sebagai sebuah "ilusi mematikan" (deadly illusion) mengingat ratusan anak-anak Palestina terus berguguran di bawah puing-puing bangunan.
Anak-anak yang selamat dari hantaman bom pun tidak benar-benar hidup. Media Kompas.id dalam analisisnya yang mendalam bertajuk "Anak-anak Gaza, Generasi yang Hilang di Tengah Perang" menggambarkan dengan gamblang bagaimana anak-anak Gaza kini mengalami luka fisik yang permanen, cacat tubuh, serta trauma psikologis yang sangat berat. Mereka kehilangan orang tua, kehilangan sekolah, dan kehilangan hak paling dasar untuk merasa aman. Ini bukan sekadar dampak sampingan dari sebuah peperangan (collateral damage); ini adalah sebuah desain genosida yang disengaja.
Secara kalkulasi politik dan militer, mengapa Zionis begitu bernafsu menargetkan anak-anak? Jawabannya jelas: dalam logika rasis dan fasis Zionisme, setiap anak Palestina adalah ancaman demografis di masa depan. Mereka adalah calon-calon mujahid yang akan meneruskan estafet perlawanan dan membebaskan tanah air mereka. Dengan membantai anak-anak, memutilasi fisik mereka, dan menghancurkan mental mereka, Zionis sedang berusaha memutus rantai generasi dan mewujudkan impian utopis mereka, yaitu menguasai seluruh wilayah Palestina dalam proyek gurita "Israel Raya" (The Greater Israel). Demi ambisi keji ini, semua hukum internasional, konvensi Jenewa, dan moralitas manusia dicurahkan ke dalam tong sampah sejarah.
Ilusi Gencatan Senjata dan Kelumpuhan Dunia Internasional
Sangat naif jika hari ini kita masih menaruh harapan bahwa watak Zionis akan melunak, misalnya dengan adanya pergantian Perdana Menteri atau pergeseran konstelasi politik internal mereka. Ideologi penjajahan yang melekat pada entitas tersebut bersifat sistemik, bukan insidental. Begitu pula dengan berharap pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sepanjang sejarah pendudukan Palestina, PBB telah mengeluarkan puluhan bahkan ratusan resolusi, namun tak satu pun yang mampu menghentikan jangkauan moncong tank dan jet tempur Zionis. PBB telah terbukti gagal total, menjadi macan kertas yang mandul karena hak veto negara-negara imperialis Barat selalu menjadi perisai bagi setiap kejahatan Zionis.
Namun, yang jauh lebih menyakitkan daripada kekejaman Zionis adalah sikap diam dan kelumpuhan yang ditunjukkan oleh penguasa di dunia Islam. Alih-alih mengirimkan tentara untuk melindungi saudara seakidah, para pemimpin negeri-negeri Muslim justru terjebak dalam sekat-sekat nasionalisme yang sempit dan politik kapitalistik yang pragmatis. Nasionalisme telah berhasil mengkotak-kotakkan umat Islam menjadi lebih dari lima puluh negara bangsa, yang merasa bahwa urusan Gaza adalah urusan domestik bangsa Arab Palestina semata, bukan urusan mereka. Akibatnya, jutaan tentara di dunia Islam hanya menjadi penonton layar kaca, sementara perbatasan-perbatasan wilayah dijaga ketat agar bantuan militer tidak bisa masuk. Beberapa negeri Muslim bahkan makin merapat ke pelukan Amerika Serikat dan secara memalukan melakukan normalisasi hubungan ekonomi dan diplomatik dengan entitas Zionis demi investasi dan stabilitas politik rezim mereka.
Islam memandang pembunuhan satu jiwa tak berdosa sebagai dosa besar yang setara dengan membunuh seluruh umat manusia. Allah Swt. berfirman:
"...Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 32)
Jika membunuh satu jiwa saja sedemikian besar dosanya di sisi Allah, lantas bagaimana dengan ribuan nyawa anak-anak Gaza yang melayang di bawah kepungan kelaparan dan bom-bom fosfor? Ke mana perginya pembelaan umat yang diibaratkan oleh Rasulullah saw. seperti satu tubuh? Beliau bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagai satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)
Hari ini, tubuh itu telah diamputasi oleh paham nasionalisme sekuler, meninggalkan anak-anak Gaza berjuang dan syahid sendirian.
Khilafah: Perisai Hakiki dan Penyelamat Generasi
Maka dari itu, analisis kritis ini membawa kita pada satu kesimpulan mutlak: jalan keluar bagi Palestina tidak akan pernah lahir dari meja perundingan PBB, kesepakatan gencatan senjata yang menipu, atau diplomasi lemah para pemimpin nasionalis. Satu-satunya harapan hakiki bagi pembebasan Palestina secara total dari cengkeraman Zionis adalah melalui institusi politik Islam global, yaitu Khilafah Islamiyyah.
Khilafah bukanlah sekadar nostalgia sejarah, melainkan kewajiban syar'i dan kebutuhan geopolitik yang mendesak. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang memiliki otoritas untuk memobilisasi tentara (jihad fi sabilillah) guna mengusir penjajah. Hanya institusi ini yang mampu memutus ketergantungan dari sistem kapitalisme global dan menghentikan kebiadaban militer secara nyata, bukan sekadar mengirimkan kecaman atau bantuan logistik yang kemudian dihancurkan kembali oleh bom.
Dalam panggung sejarah, Khilafah telah membuktikan bagaimana Islam menempatkan perlindungan anak-anak sebagai prioritas tertinggi. Ketika Khalifah Umar bin Al-Khaththab membebaskan Yerusalem (Al-Quds) melalui Perjanjian Umariyah, tidak ada satu pun darah anak-anak maupun warga sipil non-Muslim yang tumpah. Semua jiwa, harta, dan tempat ibadah dijamin keamanannya.
Begitu pula pada masa Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah. Hak-hak anak, baik dalam hal perlindungan jiwa, kesehatan fisik dan mental, pendidikan gratis berkualitas tinggi, hingga kesejahteraan materi, dijamin penuh oleh negara melalui baitulmal. Anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh karena negara berfungsi sebagai junnah (perisai). Rasulullah saw. menegaskan fungsi krusial ini:
"Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu merupakan perisai, umat akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanpa adanya perisai ini, umat Islam—terutama anak-anak yang lemah—akan terus menjadi mangsa empuk bagi serigala-serigala imperialis. Oleh karena itu, perjuangan untuk menegakkan kembali Khilafah bukan sekadar agenda pelengkap atau opsi perjuangan sekunder. Perjuangan ini adalah qadhiyah masiriyah (masalah utama hidup dan mati) bagi umat Islam di seluruh dunia. Selama institusi pelindung ini belum tegak, maka selama itu pula darah anak-anak di Gaza, dan di belahan bumi Muslim lainnya, akan terus menetes tanpa ada yang membela. Mengembalikan Khilafah berarti mengembalikan kehormatan Islam, menyelamatkan generasi masa depan Gaza, dan menyapu bersih kezaliman Zionis dari tanah suci para nabi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
