Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Penggiat Literasi

Berbuat Baik dalam Diam

Adab | 2026-05-07 05:29:13

Namanya Nafisah, anak kelas 3 SD yang paling ceria di Lemabang. Kalau Nafisah sudah bicara, semua teman pasti ketawa. Suaranya nyaring, ceritanya lucu, dan dia paling cepat menjawab kalau Bu Guru bertanya.

Ilustrasi anak-anak SD yang riang gembira. (Sumber: Gemini)

Di sebelah rumah Nafisah, tinggal Kak Nadhif, kakak kelas 6. Kak Nadhif beda dengan Nafisah. Kak Nadhif jarang bicara. Kalau main bola, dia diam. Kalau ada yang ulang tahun, dia datang, tersenyum, tapi tidak banyak kata.

Anak-anak suka bilang, "Kak Nadhif itu pendiam banget, kayak patung."

Pada Hari Rabu, sekolah mengadakan lomba menghias kelas untuk Hari Kemerdekaan. Semua sibuk. Ada yang menempel bendera, ada yang menggunting kertas merah putih, ada yang debat warna pita.

Tiba-tiba terdengar suara piring pecah. Prang!

Semua menoleh. Piring kaca hadiah dari Kepala Sekolah jatuh dari meja. Pecah berantakan. Di dekatnya berdiri Nolan, dengan wajah pucat.

"Siapa yang menjatuhkan?!" tanya Bu Guru dengan kaget.

Teman-teman langsung ribut.

"Itu pasti Nolan! Tadi dia lari-lari!" kata Lala.

"Iya, aku lihat dia nyenggol meja!" tambah Bayu.

"Huu, ceroboh banget sih!" seru yang lain.

Nolan menunduk. Matanya berkaca-kaca. Dia mau bicara, tapi bibirnya gemetar.

Nafisah juga mau ikut bicara. Dia sudah angkat tangan, mau bilang "Iya Bu, aku juga lihat Nolan lari!" Tapi Nafisah melirik ke Kak Nadhif.

Kak Nadhif ada di situ. Dia berdiri paling dekat dengan Nolan. Kalau ada yang paling tahu, pasti Kak Nadhif. Tapi anehnya, Kak Nadhif diam saja. Dia cuma jongkok, memunguti pecahan kaca pelan-pelan supaya tidak ada yang kena. Wajahnya tenang, tidak marah, tidak menuduh.

Nafisah jadi bingung. Kenapa Kak Nadhif diam? Padahal dia saksi utamanya.

Bu Guru akhirnya menenangkan kelas.

"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka. Nanti kita bersihkan bersama."

Nolan masih menunduk sepanjang hari.

* * *

Sepulang sekolah, Nafisah memberanikan diri bertanya ke Kak Nadhif yang kebetulan bertemu di depan gerbang.

"Kak, kenapa tadi Kakak diam aja? Kakak kan lihat semuanya. Kalau Kakak ngomong, Nolan jadi jelas salahnya."

Kak Nadhif tersenyum. Dia mengajak Nafisah duduk di bangku taman.

"Din, Kakak mau tanya. Menurut kamu, kalau Kakak tadi bicara, apa yang mau Kakak katakan?"

"Ya bilang aja Nolan yang nyenggol meja!" jawab Nafisah cepat.

"Tapi Kakak tidak yakin, Din. Waktu piring jatuh, Kakak lagi menunduk ambil isolasi di lantai. Kakak dengar suara, tapi tidak lihat. Kalau Kakak bilang 'Nolan yang nyenggol', padahal Kakak tidak lihat langsung, itu namanya tidak benar. Kata yang tidak benar bisa bikin orang dihukum padahal dia tidak salah. Kamu mau temanmu sedih karena kata-kata yang tidak benar?"

"Nggak mau, Kak."

"Kedua, kalaupun Kakak lihat, apa gunanya Kakak ikut-ikutan teriak 'Huu ceroboh'? Nolan sudah pucat, sudah takut. Kata Kakak cuma akan menambah sedihnya. Kata yang tidak bermanfaat itu seperti sampah, Din. Bikin kotor hati orang."

Nafisah diam, mulai mengerti.

"Yang ketiga," kata Kak Nadhif sambil menepuk bahu Nafisah, "Kakak ingat wajah Ibu Nolan. Ibu Nolan jualan kue keliling. Piring itu hadiah lomba kue tahun lalu. Kalau Kakak bikin Nolan makin malu di depan semua orang, nanti Nolan pulang, bisa-bisa dimarahi sampai nangis. Kata-kata Kakak bisa menyinggung, bisa melukai. Kakak tidak mau jadi orang yang melukai temannya."

"Jadi Kakak diam bukan karena Kakak tidak peduli ya?"

"Justru karena Kakak peduli. Diam itu susah, Din. Lebih gampang ikut teriak. Tapi sebelum bicara, Kakak selalu tanya tiga hal ke hati Kakak."

"Apa itu, Kak?"

Kak Nadhif mengacungkan tiga jari.

"Pertama: Apakah yang mau Kakak ucapkan itu benar? Kalau Kakak memang tidak melihat sendiri, tidak dengar sendiri, jangan pura-pura tahu. Kedua: Apakah ucapan Kakak bermanfaat? Kalau cuma bikin masalah makin panas, bikin teman makin sedih, simpan saja. Ketiga: Apakah ucapan Kakak akan menyakiti? Kalau kata-kata Kakak seperti pisau, lebih baik diam, lalu ganti dengan perbuatan baik, karena itu membahagiakan."

"Kayak Kakak tadi, ya? Daripada menuduh, Kakak malah bantu pungut pecahan kacanya."

"Betul. Lidah kita itu kecil, Din. Tapi kalau salah pakai, sakitnya bisa buat kita lebih menderita dari jatuh dari sepeda. Makanya, diam itu bukan kosong. Diam itu isi. Isinya memikir untuk berbuat, agar nanti hasilnya berubah menjadi sayang."

* * *

Nafisah mengernyit, masih memikirkan sesuatu.

"Tapi Kak, kalau kita selalu diam, nanti orang pikir kita penakut. Atau kita tidak punya pendapat. Gimana bedainnya, Kak?"

Kak Nadhif mengangguk perlahan, seperti senang sekali dengan pertanyaan itu.

"Pertanyaan yang bagus, Din. Diam yang Kakak maksud bukan diam yang pengecut. Diam yang pengecut itu kalau ada teman yang diperlakukan tidak adil, kita diam saja karena takut ikut kena masalah. Itu beda. Diam yang bijak adalah diam sambil mencari cara yang lebih baik dari sekadar ikut-ikutan teriak."

"Berarti kalau ada yang salah, tetap harus dibenarkan, Kak?"

"Harus. Tapi caranya dipilih. Kalau bisa bicara baik-baik ke orangnya langsung, itu lebih mulia daripada teriak di depan semua orang. Menegur dengan cara yang tidak memalukan orang itu namanya menjaga harga diri teman, bukan cuma menjaga kebenaran."

Nafisah mengangguk pelan, menyimpan itu baik-baik di dalam hatinya.

* * *

Keesokan harinya, di jam istirahat, Nafisah mencoba nasihat Kak Nadhif. Waktu Nabila tidak sengaja menumpahkan es teh ke buku gambar Lala, dan Lala langsung mau marah, Nafisah ingat tiga pertanyaan itu. Alih-alih ikut ramai, ia mengambil tisu dan mengajak semua menyelesaikan bersama.

Lala yang tadinya mau marah jadi luluh. Nabila yang tadinya takut jadi lega. Bu Guru yang melihat dari jauh tersenyum.

Saat berjalan pulang bersama Kak Nadhif sore itu, Nafisah bercerita dengan semangat.

"Kak! Tadi aku sudah coba tiga pertanyaan Kakak waktu Nabila tumpahkan es teh ke buku Lala. Aku diam, terus bantu bersihkan. Berhasil, Kak!"

"Rasanya gimana?" tanya Kak Nadhif.

"Aneh. Biasanya kalau diam, rasanya ada yang kurang. Tapi tadi, rasanya justru... penuh. Senang gitu, Kak."

Kak Nadhif tersenyum lebar.

"Itu namanya kepuasan yang benar, Din. Kalau kita bicara cuma buat didengar, kita cuma dapat tepuk tangan sesaat. Tapi kalau kita diam dan berbuat baik, kita dapat sesuatu yang lebih besar — rasa tenang di hati sendiri."

"Berarti bukan cuma lidah yang harus dijaga, Kak?"

"Betul sekali. Hati juga. Sebelum lidah bicara, hati sudah lebih dulu memilih. Kalau hatinya bersih, lidahnya ikut bersih. Makanya orang yang rajin menjaga hatinya, jarang menyakiti orang lain — bukan karena dia tidak bisa bicara, tapi karena dia tidak mau menyakiti."

* * *

Malamnya, Nafisah duduk bersama ibunya di teras. Langit Lemabang penuh bintang.

"Bu, boleh Nafisah tanya sesuatu?"

"Boleh, sayang. Tanya apa?" kata Ibu sambil mengipas-ngipas dengan kipas anyaman.

"Kenapa ada orang yang suka ngomong hal-hal yang nyakitin orang lain? Padahal mereka pasti tahu itu menyakitkan."

Ibu berhenti mengipas. Menatap Nafisah dengan lembut.

"Karena mereka belum belajar, sayang. Atau pernah belajar, tapi belum merasakannya sendiri. Kebijaksanaan itu tidak cukup dibaca atau didengar — harus dirasakan. Dan merasakannya butuh waktu, butuh pengalaman, butuh seseorang seperti Kak Nadhif yang memberi contoh tanpa menggurui."

"Berarti Kak Nadhif itu guru yang tidak kelihatan seperti guru ya, Bu?"

Ibu tertawa pelan.

"Justru itu guru yang paling baik, Nafisah. Guru yang mengajar bukan dengan kata-kata panjang, tapi dengan cara dia hidup sehari-hari. Orang seperti itu langka. Kalau kamu sudah bertemu, jangan jauh-jauh darinya."

Nafisah memandang bintang-bintang di atas.

"Bu, Nafisah mau jadi seperti Kak Nadhif. Tapi kayaknya susah. Nafisah kan cerewet."

"Cerewet bukan masalah, sayang," kata Ibu sambil memeluk pundak Nafisah. "Kamu boleh banyak bicara, asal kata-katamu selalu membuat orang lain merasa lebih baik setelah mendengarnya. Itu jauh lebih penting dari seberapa banyak atau sedikitnya kamu bicara."

Nafisah bersandar di bahu ibunya, memikirkan kalimat itu sampai matanya mengantuk.

* * *

Keesokan harinya, Nolan menghampiri Nafisah dan Kak Nadhif.

"Kak, Din, makasih ya kemarin. Sebenarnya bukan aku yang nyenggol meja. Angin kencang dari jendela yang bikin piring jatuh. Tapi aku takut ngomong, karena semua sudah nuduh aku."

Kak Nadhif dan Nafisah saling pandang. Nafisah merinding. Untung Kak Nadhif diam kemarin. Kalau Kak Nadhif ikut menuduh, Nolan pasti sedih sekali.

Kak Nadhif berlutut sehingga matanya sejajar dengan mata Nolan.

"Nolan, boleh Kakak tanya? Waktu semua orang nuduh kamu, kamu tidak bela diri. Kenapa?"

Nolan menggigit bibir bawahnya.

"Karena aku pikir... kalau aku bilang bukan aku, semua akan makin tidak percaya. Mereka sudah yakin banget. Jadi aku diam aja."

"Nolan, itu keputusan yang berani. Diam bukan berarti kalah — kadang diam adalah cara kita memberi waktu kepada kebenaran untuk muncul sendiri. Kebenaran itu tidak bisa disembunyikan selamanya."

"Tapi Kak, sakit, Kak. Dituduh padahal tidak salah itu sakit banget."

"Iya," kata Kak Nadhif pelan. "Itulah kenapa kita harus sangat berhati-hati sebelum menuduh orang lain. Karena rasa sakit yang kamu rasakan itu — itu yang akan dirasakan setiap orang yang kita tuduh tanpa bukti. Mudah-mudahan kita semua tidak pernah lupa rasanya, supaya tidak pernah mau melakukannya ke orang lain."

Nolan mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena takut — melainkan karena merasa akhirnya dimengerti.

* * *

Sejak hari itu, anak-anak Lemabang punya permainan baru. Namanya "Tiga Kali Saring Kak Nadhif". Sebelum bicara, mereka tempelkan tiga jari ke bibir.

Satu: Benar? Dua: Bermanfaat? Tiga: Tidak menyakiti?

Kalau tiga-tiganya "iya", baru bicara. Kalau ada satu yang "tidak", mereka pilih diam, lalu ganti dengan tolong, dengan senyum, dengan peluk.

Lama-lama, kelas Nafisah jadi kelas paling damai. Tidak ada lagi yang gampang mengejek. Tidak ada lagi yang asal tuduh. Karena semua belajar dari Kak Nadhif: diam bukan berarti kalah, diam bukan berarti kosong. Diam adalah cara menjaga hati teman, menjaga kebenaran, dan memilih untuk menjadi baik.

* * *

Suatu sore, Kak Nadhif hendak pindah sekolah karena keluarganya akan pindah kota. Nafisah datang membawakan sepotong kue bolu buatan ibunya.

"Kak, nanti kalau Kakak sudah pergi, siapa yang ajari aku?"

Kak Nadhif menerima kuenya, lalu duduk berhadapan dengan Nafisah.

"Kamu tidak butuh aku lagi, Din. Kamu sudah punya gurunya."

"Siapa, Kak?"

"Hatimu sendiri. Setiap kali kamu mau bicara, hatimu sudah tahu jawabannya. Tinggal kamu mau mendengarnya atau tidak."

Nafisah terdiam. Lalu tersenyum — pelan, tapi dalam.

"Kak Nadhif tahu tidak, orang-orang bilang Kakak pendiam. Tapi menurutku, Kakak justru yang paling banyak ngomong."

"Kok bisa?"

"Karena setiap perbuatan Kakak bicara. Lebih keras dari kata-kata."

Kak Nadhif tertawa — tawa paling panjang yang pernah Nafisah dengar darinya. Mereka berdua duduk di bangku taman itu sampai matahari turun, berbagi kue bolu, dan tidak butuh banyak kata.

Karena memang begitulah persahabatan yang sejati: tidak diukur dari seberapa banyak yang dikatakan, melainkan dari seberapa besar yang dirasakan.

Pesan untuk Adik-Adik

Mulut kita diberi Tuhan untuk menyebar senyum, bukan luka. Untuk menghibur, bukan menghancurkan. Untuk jujur, bukan bergosip.

Jadi kalau besok adik mau bicara, ingat "Tiga Kali Saring Kak Nadhif":

Tanya: Ini benar tidak? Jangan bicara kalau hanya "katanya".

Tanya: Ini ada gunanya tidak? Kalau cuma bikin teman nangis, simpan saja.

Tanya: Ini menyakitkan tidak? Kalau iya, ganti dengan diam dan bantu dengan tangan.

Orang hebat bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling bijak memilih kapan harus bicara, dan kapan harus diam sambil berbuat baik. Seperti Kak Nadhif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image