Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zahro Al-Fajri

Israel Makin Bengis, Kenapa Negeri-negeri Muslim tak Mampu Hentikan?

Agama | 2026-04-10 05:25:38
Sumber gambar: The Arab Wee


Israel semakin bengis. Mereka semakin pongah bahkan setelah di sahkannya BoP yang dianggap sebagai badan yang akan mampu menghentikan kebengisan mereka.

Israel bukan hanya mengebom Gaza secara brutal. Akhir Maret 2026, Mereka juga mengesahkan UU yang melegalkan hukuman mati bagi narapidana Palestina yang telah membunuh warga Israel. Tapi hukuman ini tidak berlaku sebaliknya jika pelaku pembunuhan adalah warga Israel dan korban adalah warga Palestina. Dunia hanya mengecam tak mampu bertindak melihat kepongahan Zionis membunuhi warga Palestina.

Pada 8 April 2026, setelah perjanjian gencatan senjata Iran-AS bersama Israel, Israel kembali melanggar dan menyerang Lebanon secara brutal (Republika.co.id). Ratusan jiwa melayang dan terluka, ribuan orang menjadi korban, gedung-gedung hancur. Tanpa peringatan, mereka membombardir Lebanon dan menyerang warga sipil. Mereka semakin pongah seakan menjadi penguasa dunia. Karena dunia pun seakan tunduk tak mampu halangi kebengisan mereka.

Puluhan tahun Israel dibantu sekutu setianya, Amerika, terus saja menjajah tanah Palestina. Sejak sekutu mengalahkan daulah Ustmani pada perang dunia pertama, tanah Palestina dalam kekuasaan Inggris diserahkan pada bangsa Yahudi. Setelahnya Israel semakin menjadi dengan dukungan Amerika yang menjadi penguasa dunia. Itulah titik awal pengusiran, penjajahan, dan pembantaian warga Palestina.

Di tengah seruan barat akan negara demokrasi yang melindungi hak asasi manusia. PBB yang seakan menjadi polisi dunia. Kondisi Palestina menjadi bukti jika itu semua hanya buwalan. Dunia tak mampu bertindak bahkan Israel semakin bengis dan brutal di era Presiden Donald Trump. Trump menjadi Fir'aun gaya baru yang merasa dunia di genggamannya dan mampu melakukan apa saja untuk membantu penjajah Israel.

Iran pun dibombardir. Mereka menyerang dan menekan Trump agar menghentikan Israel. Trump pun terlihat kalang kabut melihat Iran yang terus menyerang Israel. Namun, jika sendirian, akankah mampu memberi kemenangan pada warga Palestina dan membuat kaum muslimin mulia? Ternyata baru sehari melakukan perjanjian, Israel menyerang Lebanon secara brutal.

Untuk menggapai kemenangan, kaum muslimin perlu bersatu menyatukan seluruh kekuatan. Allah telah menganugerahkan sumber daya alam yang melimpah di tanah kaum muslim. Selain itu jumlah kaum muslimin juga menduduki posisi ke dua di dunia. Kaum muslimin tersebar di dataran Asia dan Afrika. Jika kekuatan ini bersatu maka kaum muslimin pastilah tak terkalahkan dan menjadi negara adidaya di dunia.
Namun sejak Khilafah runtuh di tahun 1924, negara kafir Barat memecah negeri kaum muslimin menjadi wilayah kecil-kecil dan menjajah pemikiran serta fisik mereka. Membuat kaum muslimi terjajah dan mengikuti arahan mereka, dengan sadar maupun tidak sadar. Dengan dalih modernisasi, kaum muslimin mengikuti arahan Barat dalam berkehidupan, berbangsa, dan bernegara. Akibatnya kaum muslimin lemah, generasinya mengikuti arahan Barat, kekayaan alam diberikan dan dikuasai para penjajah.

Kaum muslimin lemah, tak berdaya menghadapi tekanan Barat yang menguasai negeri mereka. Dengan sistem ekonomi kapitalis, negara kafir menjerat negeri kaum muslim dengan lilitan hutang riba. Membuat mereka semakin tak berdaya. Saat Palestina di serang, kaum muslimin tak berdaya menolong karena sibuk menyelamatkan negerinya masing-masing dan tak punya nyali menghadapi Amerika yang menjadi penguasa dunia.

Beginilah wujud kaum muslimin di akhir zaman, menjadi makanan bagi kaum kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring. Kemudian seseorang bertanya, 'Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?' Rasulullah bersabda, "Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian 'Wahn'. Kemudian seseorang bertanya, 'Apa itu Al-Wahn ?' Rasulullah berkata: "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Oleh karena itu, untuk menjadi mulia kembali kaum muslimin harus menguatkan akidah dan bersatu dalam satu pemimpinan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khalifah setelahnya. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Rasulullah mencontohkan bahwa kaum muslimin harus bersatu dan itulah yang diteladani dan dilaksanakan oleh Khalifah setelah Rasulullah wafat. Kaum muslimin hidup dalam satu kepemimpinan di bawah naungan Khilafah. Wilayah luas, etnis, budaya, dan bahasa yang beragam, mampu disatukan dibawah kekuasaan Islam. Wilayah kekhilafahan membentang meliputi Asia, Afrika, bahkan Eropa. Kaum muslimin menjadi umat mulia bahkan mercusuar peradaban. Semangat jihad yang tinggi, keimanan yang menghujam, membuat pasukan kaum muslimin disegani dan membuat musuh gentar.

Orang kafir tak ingin kaum muslimin menjadi mulia kembali maka kaum muslimin dikotak-kotakkan menjadi negeri-negeri kecil. Khilafah mereka hapuskan dan kaum muslimin dibelah agar menjadi lemah dan mudah dijajah.

Oleh karena itu, untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin serta mengambil lagi tanah Palestina, kaum muslimin harus kembali bersatu, menyatukan seluruh kekuatan dibawah satu kepemipinan, kekhilafahan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Kaum muslimin akan kuat, mulia, dan tak terkalahkan. Menegakkan kalimatullah dan menyebarkan luaskan Rahmat keseluruh alam.
WaAllahu'alam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image