Daniel and the Fiery Furnace, Kisah Biblika yang Tak Asing bagi Muslim
Tontonan | 2026-10-02 01:05:19
Kisah tentang manusia yang berhadapan dengan kekuasaan selalu punya daya tarik sendiri. Apalagi ketika pilihan yang tersedia hanya dua: mengikuti perintah penguasa atau mempertahankan keyakinan dengan risiko kehilangan nyawa. Daniel and the Fiery Furnace membawa persoalan tersebut ke dalam drama epik biblika melalui kisah Daniel dan tiga sahabatnya di Babel.
Sebagai seorang Muslim, saya menonton film arahan Matthew dan Daniel Kooman tersebut bukan untuk mencari representasi ajaran Islam, melainkan sebagai wawasan terhadap kisah yang lahir dari tradisi biblika. Sosok Daniel memang tidak termasuk dalam 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam ajaran Islam. Namun, namanya tidak sepenuhnya asing dalam literatur Islam.
Sejumlah riwayat dan literatur sejarah, termasuk yang dinisbatkan kepada Ibnu Abi Dunya dan al-Bakri, mengisahkan penemuan jasad Daniel di Tustar pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Dalam sebagian literatur, Daniel dipandang sebagai hamba Allah yang saleh dan seorang nabi di luar 25 nabi yang umum dikenal. Karena itu, meski film berdurasi 108 menit tersebut berangkat dari Kitab Daniel, kisahnya tetap memiliki titik persinggungan untuk dibaca dari perspektif Muslim.
Ketika Tawanan Berhadapan dengan Kekuasaan
Film membawa Daniel bersama Hananiah, Mishael, dan Azariah sebagai tawanan ke Babel setelah Yerusalem ditaklukkan. Di tengah kerajaan yang dikuasai Nebukadnezar, Daniel tampil sebagai sosok yang tenang, berintegritas, dan memiliki kemampuan menafsirkan mimpi sang raja.
Mena Massoud memainkan Daniel dengan pembawaan yang relatif tenang, meski pada beberapa bagian ekspresinya terasa terlalu formal. Sebaliknya, Elijah Alexander tampil lebih menonjol sebagai Nebukadnezar. Perubahan karakter sang raja dari penguasa yang keras menuju sosok yang mulai menyadari adanya kekuasaan lebih tinggi menjadi salah satu bagian menarik dalam film.
Konflik kemudian mengarah pada patung emas raksasa yang didirikan Nebukadnezar. Semua orang diperintahkan menyembahnya. Shadrach, Meshach, dan Abednego memilih menolak meski sudah mengetahui hukuman yang menunggu.
Di sinilah film mulai menemukan kekuatannya. Ancaman tidak lagi sekadar datang dari kerajaan, tetapi dari pilihan yang harus diambil ketika keyakinan berhadapan langsung dengan keselamatan diri.
Api Menjadi Ujian untuk Sebuah Keyakinan
Adegan perapian menjadi pusat kekuatan Daniel and the Fiery Furnace. Ketiga sahabat Daniel mengetahui konsekuensi dari keputusan mereka, tetapi tetap berdiri dengan keyakinannya.
Api yang menyala, wajah Nebukadnezar yang tegang, serta kemunculan sosok keempat di tengah kobaran api menciptakan salah satu momen paling kuat secara visual. Mukjizat tidak hanya diposisikan sebagai tontonan spektakuler, tetapi sebagai puncak dari keteguhan yang sejak awal dibangun.
Justru sebelum mereka dilempar ke dalam api, ada momen yang menurut saya lebih berkesan. Ketiganya tidak digambarkan sebagai manusia tanpa rasa takut. Mereka tahu maut berada di depan mata, tetapi tetap memilih mempertahankan keyakinan.
Gagasan tentang iman sebagai sesuatu yang memurnikan manusia menjadi pesan yang terus dibawa film. Tyler Michael Smith juga memberi dukungan melalui musik yang membangun suasana epik tanpa terlalu mengambil alih adegan.
Kisah Lama Dihidupkan dengan Visual Tebaik
Sebagai produksi independen dengan skala visual yang cukup ambisius, film menghadirkan lanskap gurun, istana Babel, kostum periode, hingga adegan mimpi dengan cukup meyakinkan. Sinematografi Supratim Bhol membantu membangun dunia yang terasa luas, meski beberapa bagian masih memperlihatkan keterbatasan produksi.
Kelemahannya terasa pada dialog yang kadang kaku dan ritme yang belum selalu seimbang. Beberapa adegan aksi Nebukadnezar juga terasa berlebihan, sementara kedalaman karakter belum sepenuhnya sebanding dengan pesan besar yang ingin disampaikan.
Namun Daniel and the Fiery Furnace tetap menarik karena tidak hanya menjual kisah mukjizat. Film tersebut berbicara tentang keberanian mempertahankan keyakinan ketika kekuasaan meminta kepatuhan mutlak.
Bagi saya sebagai Muslim, pengalaman menontonnya justru berada pada ruang yang berbeda: mengenal kisah dari tradisi lain sambil menemukan bahwa sosok Daniel juga memiliki jejak dalam sebagian literatur Islam.
Pada akhirnya, api dalam film bukan hanya tempat hukuman. Ia menjadi ruang yang memperlihatkan seberapa jauh seseorang bersedia mempertahankan keyakinannya ketika semua jalan keluar terasa tertutup.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
