Hati hati dengan Murkanya Allah
Agama | 2026-05-07 05:26:52Abdul Hadi tamba.
Hati hati dengan Murkanya Allah.
Dalam pandangan kami murka Allah (Ghadhabullah atau Sukhthullah) adalah manifestasi keadilan dan sifat Jalal (keagungan) Allah terhadap hamba-hamba yang melanggar batas-batas-Nya, sombong, atau berbuat zalim.
Namun, dalam pendekatan spiritual pandangan kami, murka Allah bukanlah dendam pribadi seperti amarah makhluk, melainkan reaksi terhadap kemaksiatan yang menjauhkan jiwa dari rahmat-Nya.
Berikut adalah rincian pandangan kami terkait murka Allah, dalil, dan fatwa ulamanya.
Pandangan kami tentang Murka Allah Keadilan dan Konsekuensi:
Murka Allah adalah puncak konsekuensi dari kejahatan dan dosa manusia yang konsisten, yang melahirkan khauf (rasa takut) dalam hati seorang salik (penempuh jalan tasawuf).
Rahmat Mengalahkan Murka:
Meskipun pandangan kami menekankan ketakutan akan murka Allah, ia berpegang kuat bahwa Rahmat Allah lebih besar dan mendahului murka-Nya.
Dosa yang Mendatangkan Murka:
Menurut pandangan kami, murka paling besar datang dari kesombongan, memutuskan tali silaturahim, menzalimi tetangga, dan berbuat syirik.
Penyucian Jiwa:
Rasa takut akan murka Allah (khauf) digunakan untuk menjaga diri dari berpuas diri (ujub) dan untuk senantiasa taubat.
Sumber Dalil dalam Al-Qur'an QS. Ash-Shaff: 3:
"Amat besar murka di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
QS. Ali 'Imran: 162:
"Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam ?
Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
QS. Al-Fatihah: 7:
"..bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
QS. At-Tahrim: 6:
Perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka (yang ditimbulkan oleh murka Allah).
Hadis Pendukung Rahmat Mengalahkan Murka:
"Ketika Allah Ta'ala menetapkan takdir para makhluk, Allah Ta'ala menulis dalam kitab-Nya (Lauhul Mahfuzh)...
'Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku'" (HR. Bukhari no. 3194 dan Muslim).
Murka pada Orang Sombong/Fasik:
Golongan yang dimurkai Allah adalah orang kaya yang pelit, orang miskin yang sombong, dan orang tua yang fasik (HR. Baihaqi).
Meredam Murka:
"Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb (Allah) Tabaroka Wa Ta'ala." (HR. Ath-Thabrani).
Murka Orang Tua:
"Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR. Thabrani).
Pandangan dan Fatwa Ulama Muktabar Ulama dan aqidah Ahlussunnah menekankan keseimbangan antara takut akan murka dan mengharap rahmat.
Imam Ath-Thahawi:
"Allah Ta'ala bisa murka dan bisa rida, namun (dengan murka dan rida yang) tidak sama seperti salah satu makhluk-Nya".
Ibnu Mas'ud (Sahabat/Tabi'in):
Menyebutkan bahwa di antara dosa besar adalah Al-Amnu min Makrillah (merasa aman dari murka Allah/merasa tidak akan dihukum).
Buya Hamka:
Menekankan bahwa khauf (takut pada murka) harus seimbang dengan raja' (harap pada rahmat).
Takut akan murka Allah menjadikan seseorang tidak berani berbuat dosa, sedangkan rahmat-Nya memberikan motivasi taubat.
Ulama Sufi (dalam konteks Ghadhab):
Sering mengajarkan bahwa murka Allah harus dihindari dengan cara Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dan mendekatkan diri (taqarrub) hanya kepada-Nya, sehingga hamba tersebut mendapatkan Ridla Allah.
Kesimpulan pandangan kami Seorang salik menakuti murka Allah bukan karena benci pada Allah, melainkan karena ia sangat mencintai Allah dan takut kehilangan kasih sayang-Nya (mahabbah).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
