Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Fondasi Rapuh Ekonomi Indonesia?

Info Terkini | 2026-05-06 21:53:58
Gambar Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia(BPS)

Opini - Perekomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,61 persen pada Triwulan I-2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kelompok G20 di tengah ketidakpastian ekonomi global.Dengan pertumbuhan 5,61 persen, Indonesia berhasil mencatatkan kinerja lebih tinggi dibanding sejumlah negara besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Capaian ini memperkuat posisi Indonesia di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut.Namun Pertumbuhan Ekonomi naik, namun Nilai Tukar Rupiah malah melemah, serta sektor ekonomi mikro cenderung menurun, dimana minat konsumen lokan lesu atau menurun.

Di balik pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar yang menunjukkan bahwa fondasinya belum sepenuhnya kokoh. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di kisaran 5% sering dipandang sebagai indikator keberhasilan. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan struktural ekonomi secara menyeluruh.

Salah satu kelemahan utama terletak pada ketergantungan terhadap konsumsi domestik. Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB, yang membuat ekonomi rentan terhadap penurunan daya beli masyarakat. Ketika inflasi meningkat atau pendapatan riil tertekan, pertumbuhan ekonomi pun ikut melambat.

Ekonom senior Indonesia, Faisal Basri, pernah menekankan bahwa:

“Struktur ekonomi Indonesia masih rapuh karena terlalu bergantung pada konsumsi dan belum didukung oleh basis produksi yang kuat.”

Selain itu, sektor industri manufaktur yang seharusnya menjadi motor pertumbuhan belum berkembang optimal. Fenomena deindustrialisasi dini menjadi tantangan serius, di mana kontribusi industri terhadap PDB cenderung stagnan bahkan menurun. Hal ini menghambat penciptaan lapangan kerja berkualitas dan memperlemah daya saing global.

Menurut Chatib Basri:“Untuk memperkuat ekonomi, Indonesia harus beralih dari konsumsi ke investasi dan ekspor sebagai pendorong utama pertumbuhan.”

Permasalahan lain adalah ketergantungan pada komoditas mentah. Ketika harga komoditas global turun, penerimaan negara dan kinerja ekspor ikut tertekan. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi ekonomi belum berjalan optimal.

Dari sisi fiskal, ruang kebijakan pemerintah juga terbatas. Meskipun rasio utang terhadap PDB masih relatif aman, kebutuhan pembiayaan pembangunan yang besar dapat menjadi tekanan di masa depan. Di sisi lain, penerimaan pajak masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara setara.

Sri Mulyani Indrawati pernah menyatakan:

“Penguatan fondasi ekonomi memerlukan reformasi struktural yang konsisten, termasuk di bidang perpajakan, investasi, dan kualitas sumber daya manusia.”

Kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penting. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan, pelatihan, serta kesiapan menghadapi transformasi digital.

Terakhir, ketimpangan ekonomi dan sektor informal yang besar turut memperlemah fondasi ekonomi. Sebagian besar tenaga kerja masih berada di sektor informal dengan perlindungan dan produktivitas yang rendah.

Kesimpulan : Fondasi ekonomi Indonesia dapat dikatakan masih rapuh karena ditopang oleh struktur yang belum seimbang: ketergantungan pada konsumsi, lemahnya industrialisasi, ketergantungan komoditas, serta tantangan dalam kualitas SDM dan fiskal. Untuk memperkuat fondasi tersebut, diperlukan reformasi struktural yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Tanpa perbaikan mendasar, pertumbuhan ekonomi yang terlihat stabil berpotensi menjadi “ketahanan semu” yang rentan terhadap guncangan global maupun domestik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image