Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syamil Irfan Fatoni

Tiga Hari Menempa Diri di Alfaro Camp

Eduaksi | 2026-05-05 18:46:59

Dari jurit malam yang menegangkan hingga basah-basahan di bawah terik matahari — inilah perjalanan 117 peserta menjadi Penegak Bantara di MAN 1 Darussalam Ciamis.

Langit cerah menyambut pagi ketika satu per satu peserta berdatangan di lingkungan Sekolah MAN 1 Darussalam Ciamis, membawa tas penuh perlengkapan dan semangat yang tak kalah besar. Sebanyak 117 siswa mengenakan seragam pramuka kebanggaan mereka — tergabung dalam Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahra — siap menjalani tiga hari yang tidak akan mudah terlupakan: Alfaro Camp, sebuah pelantikan resmi anggota Penegak Bantara.

Tenda-tenda mulai berdiri. Suara tawa bercampur kesibukan memenuhi setiap sudut perkemahan. Di balik riuh rendahnya suasana itu, ada sebuah tujuan yang sama: menempa diri menjadi anggota Pramuka yang lebih tangguh, lebih mandiri, dan lebih bertanggung jawab.

“Jangan takut melakukan kesalahan, karena dari situlah kalian belajar. Yang terpenting adalah kebersamaan, saling membantu, dan tetap semangat menjalani setiap kegiatan.”

Kata-kata pembina itu menggema di Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu saat upacara pembukaan berlangsung — dan terbukti, tiga hari ke depan menjadi bukti nyata dari setiap kalimatnya.

Sebelum kegiatan utama dimulai, seluruh peserta menjalani pengecekan barang bawaan secara teliti. Ada yang santai karena yakin tasnya lengkap, ada pula yang panik mengaduk-aduk isi ransel. Beberapa peserta harus menerima catatan dari panitia karena ketinggalan perlengkapan — sebuah pelajaran awal tentang kesiapan dan tanggung jawab.

Setelah pembukaan, sesi materi pertama dimulai. Bapak Iing Kuswandi membuka wawasan para peserta tentang keistimewaan organisasi Pramuka — satu-satunya organisasi yang memiliki undang-undang tersendiri dan membuka peluang beasiswa perguruan tinggi bagi anggotanya. Materi dilanjutkan keesokan paginya oleh Kak Rian Muhammad Fernandi yang mengupas tuntas administrasi kepramukaan: dari administrasi keanggotaan, keuangan, kegiatan, hingga perlengkapan.

Di sela-sela sesi, peserta menunaikan shalat berjamaah, mengikuti pengajian umum di Gedung NU, dan menyegarkan malam dengan latihan pentas seni. Tiga kegiatan itu seolah menjadi jeda napas sebelum malam hari yang sesungguhnya tiba.

Hari kedua diisi dengan Alfaro Festival — serangkaian perlombaan yang benar-benar menguji kekompakan dan ketangkasan. Peserta bertanding dalam tiga lomba utama:

1. Pionering. Dengan waktu hanya satu jam, setiap kelompok harus mendirikan tiang bendera dan kaki tiga penyangga. Di bawah terik matahari dan teriakan para senior, tangan-tangan bekerja cepat sambil pikiran bekerja lebih cepat lagi.

2. Lomba P3K. Peserta mengerjakan soal-soal tentang penyakit, obat-obatan, dan cara penanganan pertolongan pertama — menguji pengetahuan yang seringkali terabaikan sehari-hari.

3. Jejak Petualang. Misi mencari permen dan soal-soal yang tersebar di seluruh lingkungan MAN 1 Ciamis. Peserta berpencar ke segala arah — dan berhasil membawa pulang permen begitu banyak hingga saku celana tak muat lagi.

MALAM YANG TIDAK TERLUPAKAN — JURIT MALAM

Usai pentas seni yang penuh tawa dan sorak sorai, datanglah pengumuman yang membuat suasana berubah: malam itu semua peserta harus tidur menggunakan seragam pramuka lengkap. Tidak perlu kalimat panjang untuk mengerti artinya — jurit malam menanti.

Satu per satu peserta dipanggil dari tenda. Mata ditutup dengan kacu. Tangan dituntun senior melewati tangga, selokan, dan lorong-lorong gelap yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya. Di ujung perjalanan, setiap peserta diberi satu misi: menemukan blok bantara dalam kegelapan, hanya dalam waktu dua menit.

“Aku tidak takut. Jadi aku jawab saja salamnya dengan lantang.”

Ada yang berhasil dengan mudah dan duduk tenang menunggu waktu habis. Ada yang diganggu senior menggunakan tongkat, ditakut-takuti dari berbagai arah — namun tetap menggenggam blok bantara dengan erat, tidak goyah. Dan ada pula satu kisah yang langsung menjadi legenda malam itu: seorang peserta yang salah paham, lalu membawa paving block dari jalanan karena mengira itulah yang dimaksud. Tawa meledak — dari sesama peserta maupun para senior.

Pukul 01.00 dini hari, upacara pelantikan dimulai. Di bawah langit malam yang sunyi, 117 siswa resmi dilantik menjadi anggota Penegak Bantara. Setelah itu, shalat tahajud, shalat subuh berjamaah, dan — akhirnya — sarapan dengan semangat membara dari mereka yang kini resmi membawa gelar baru.

HIKING RALLY, PENUTUPAN

Tidak ada istirahat panjang untuk merayakan pelantikan. Hari ketiga langsung diisi dengan Hiking Rally — perjalanan sekitar 3 kilometer melewati lima pos yang masing-masing menguji kemampuan berbeda.

Pos pertama: sandi morse, sandi kotak, dan semaphore. Pos kedua: baris-berbaris. Pos ketiga: pengetahuan kepramukaan. Pos keempat: kemampuan indera manusia — mencium, meraba, dan merasakan. Dan pos kelima yang menjadi penutup paling meriah: pos basah-basahan, di mana peserta harus memindahkan air dari ember ke ember menggunakan gelas plastik yang digigit dengan mulut, sambil dinyanyikan yel-yel dan disiram air oleh para senior.

Mereka tiba kembali di MAN 1 Ciamis dalam kondisi basah kuyup — dan puas luar biasa.

Upacara penutupan berlangsung di tempat yang sama dengan pembukaan tiga hari lalu. Kata selamat dari pembina, foto bersama senior dan anggota sangga, makan bersama, lalu perlahan-lahan tas-tas kembali dikemas.

Alfaro Camp telah usai. Tapi yang dibawa pulang bukan sekadar blok bantara atau kenangan tentang malam gelap dan paving block yang salah bawa. Yang dibawa pulang adalah sesuatu yang lebih berharga: rasa percaya diri yang tumbuh dari tantangan yang berhasil dilalui, dan persahabatan yang ditempa bukan di dalam kelas — melainkan di bawah terik matahari, dalam kegelapan malam, dan di antara sorak-sorai yang tak kunjung reda.

Penulis: Syamil Irfan Fatoni (Siswa MAN 1 Darussalam Ciamis Kelas ISC 10)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image